Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Viral Hukum Haram Anjing, Begini Kata Gus Baha

Jakarta, Dakwah NU
K.H Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha menanggapi sebuah ceramah dari Ustadz Yahya Waloni tentang anjing yang sempat viral di media sosial. Dalam video yang diunggah kanal YouTube Hadist TV pada Senin 15 Februari 2021 itu, Ustadz Yahya Waloni mengaku pernah menabrak anjing secara sengaja, sebab menganggap anjing adalah hewan najis. Hal ini disampaikannya saat beliau berkunjung ke Jambi untuk berdakwah.

“Kutabrak juga seekor anjing, enggak tahu punya siapa. Dia lari pincang kakinya. Kalau kambing masih saya rem, tapi kulihat anjing, najis kutembak satu yang paling depan,” tutur Ustaz Yahya Waloni dikutip dari YouTube Hadist TV.

Terkait hal ini, kiai kharismatik asal Rembang, yaitu Gus Baha kemudian memaparkan mengenai hukum hewan anjing.

Menurut Gus Baha, di semua periode Islam anjing dianggap bukan najis.“Sejak dulu itu ga asing, orang memuji anjingnya Ashabul Kahfi. Tidak pernah ada masalah dengan anjing. Sampai periode sahabat tabiin. Rata-rata sahabat ya punya anjing,” ujar Gus Baha dikutip dari YouTube Kajian Cerdas Official berjudul “Ngaji Gus Baha – Disemua Periode, Anjing itu TIDAK NAJIS, Kok Sekarang Jadi Najis Gus???”.

Bahkan, menurut Gus Baha, sahabat yang merawat 100 kambing akan memberikan satu kambingnya ke anjing sebagai hadiah karena telah menjaganya dari serigala.

Gus Baha menyebutkan, Al Qur’an mengistilahkan anjing di dalam surah al-Maidah ayat 4,

 وَمَا عَلَّمۡتُم مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ مُكَلِّبِینَ

Artinya: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu.”

Menurut Gus Baha, hewan pemburu yang dimaksud disitu adalah hewan seperti anjing. “Sahabat dulu kalau ingin mendapatkan kijang atau mendapatkan buruan, anjing diajari untuk mengejar kijang,” ujarnya. Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa menurut fikih, hewan halal ada dua. Pertama hewan yang disembelih secara syar’i yang kedua yang mati karena diburu atau terkena panah.

“Misalkan ada kijang lari kalian panah itu halal tanpa disembelih. pernah mendengar atau belum hukum seperti itu? Atau diburu. Diburu hewan yang sudah dilatih. Itu yang halal tanpa harus disembelih. Standarnya memang seperti itu,” ucapnya.

“Makanya ketika nabi ditanya hewan yang halal itu apa saja? yaitu yang disembelih dan yang dicengkram oleh pemburu yang sudah dilatih,” lanjut beliau.

Menurut Gus Baha, Al Qur;an itu secara sirri mencontohkan anjing. “Wama ‘allamtum minal-jawrii mukallibna. Hewan-hewan yang terlatihnya seperti anjing.” ucapnya.

Kemudian, Gus Baha juga menjelaskan jika anjing menjadi najis di periode Syafiiyah bukan di masa Imam Syafii. Karena ketika Imam Syafii hidup, masih banyak orang memelihara anjing.

“Ketika periode Syafi’iyah dan kebetulan mahzab di Indonesia Syafi’i yang paling dominan di Indonesia, lantas orang mengira anjing itu najis. Konsekuensi dari dikira najis maka anjing diburu dijauhi dibenci. Zaman saya kecil membunuh anjing itu seperti ibadah,” jelas Gus Baha.

Anjing dalam Konteks Indonesia
Dalam kesempatan tersebut, Gus Baha juga memaparkan posisi anjing dalam konteks Indonesia. Menurutnya, masih ada anggapan jika ada desa yang ada anjingnya berarti abangan, kalau tidak ada anjing daerah santri.

“Jadi membunuh anjing ibadah. Tapi di saat yang sama, santri mengakui kalau hewannya ashabul kahfi itu anjing. Juga mengakui kalau hewan paling pintar itu anjing. apalagi intelijen, kepolisian, badan narkoba tetap mengakui bahwa hewan yang paling mudah diajari adalah anjing,” ujarnya.

Menurut Gus Baha itu jelas membuktikan ilmiahnya Al Qur’an, sebab Al Qur’an sendiri mengakui hewan terpelajar contohnya dalam ayat al-Maidah ayat 4 tadi. Mahzab Syafi’i menganggap anjing itu najis dengan melupakan keistimewaan yang dipunya.

“Mahzab Syafi’iyah menganggap anjing itu najis, kita lupa keistimewaan anjing. Padahal itu tidak bertentangan. Kalau anjing memang dianggap pintar, kalau itu dikatakan najis biar tidak kamu sembelih dan dijadikan ternak. Justru barang istimewa itu tidak perlu dibunuh. Karena istimewa. Kalau anjing kamu samakan dengan ayam nanti disate terus cepat habis,” jelas Gus Baha.

Salah satu ulama yang menafsiri bahwa hewan pemburu dalam surah al-Maidah ayat 4 itu anjing adalah Imam Suyuthi. Imam Suythi bermahzab Syafii tapi dalam hal seperti ini, kata Gus Baha, ia bebas bermahzab. “Makanya beliau menafsiri ail khawasib minal kilab. khilm itu jamaknya kalbun ya anjing itu,” ujarnya.

Lalu, Gus Baha membacakan teks asli hadis Nabi Muhammad SAW yang ditafsiri sebagai najis. Teks asli hadis nabi SAW itu berbunyi “Kalau anjing itu menjilat diantara wadah kamu maka basuhlah tujuh kali.”

Jadi nabi mengistilahkan ada wadah, ada yang menjilat. Nah yang membuat itu menjadi ekstrem ada istilah menjilat. Wadah itu bisa wadah minum atau wadah bersuci. Menurut Gus Baha, Imam Malik mengatakan “nyuruh” membasuh itu tidak selalu najis. Barang kotor yang bukan termasuk najis juga disuruh membasuh.

“Jika anda punya baju kotor walaupun tidak najis juga disuruh membasuh. Sudah gitu ditambah wadah. Wadah itu memang barang spesial. Yang namanya jok tidak perlu dicuci, tapi kalau gelas yang tetap harus dicuci. karena kaitannya dengan kesehatan. Makanya Imam Malik tetap ngotot bahwa anjing itu tidak najis sama sekali,” jelasnya.

Soal dibasuh tujuh kali, memang Nabi menyuruh membasuh tujuh kali, tapi tidak ada konsekuensi itu menjadi vonis najis, sebab secara logika ijtihad istilahnya Nabi itu wadah dan menjilat.

“Apalagi kalau kalian menguasai ilmu medis. Efek yang ditimbulkan hanya sekadar memegang dengan efek menjilat itu bedanya jauh. Makanya Imam Malik memutuskan tidak ada kaitannya dengan najis,” tambahnya lagi.

Ini berbeda dengan Imam Syafii yang berpandangan bukan hanya menjilat, memegang saja najis. Ditambah lagi adanya hadis Nabi SAW mengenai malaikat tidak akan masuk ke rumah kalian yang ada anjing.

“Akhirnya orang yang di rumahnya ada anjing dianggap tidak barokah. Ulama menafisiri yang dimaksud malaikat di hadis nabi SAW itu adalah malaikat rahmat. Sementara kalau malaikat azab, malaikat maut bisa masuk lancar,” jelas Gus Baha

“Ulama sufi protes. tidak ada orang yang tidak mendapat rahmat ada anjingnya atau tidak ada anjingnya. Apakah jika ada anjingnya lantas tidak ada rahmat Allah? Ya tetap ada kan jawabannya. Nyatanya orang yang punya anjing tetap bisa makan. berarti mendapat rahmat,” tuturnya lagi.

Akhirnya, kata dia, ulama-ulama sufi menafsiri hadis Nabi SAW itu bahasa kinayah.

“Jadi nabi SAW bersabda seperti itu kinayah. Malaikat itu tidak masuk hati dimana hati itu ada mental pemabuk dan ingin barangnya orang lain. Ulama sufi menafsiri yang dimaksud anjing disitu adalah tamak. Orang Islam hatinya tidak akan ditempati malaikat jika hatinya punya mental tamak,” kata Gus Baha.

Menurutnya, apapun perbedaan pendapat ulama, Al Qur’an itu lebih jujur dan lebih objektif bahwa anjing itu hewan yang mudah dilatih. (fqh)

Spread the love

Comment here