Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Opini

Ulama “Gimmick” dan Bisnis Agama

Jakarta, Dakwah NU
Perdebatan soal isu keagamaan di negeri ini rasanya tidak akan pernah berakhir. Paling terakhir setelah isu sertifikasi dan ustadz good looking, adalah pernyataan soal para penghafal Al Qur’an yang dianggap sebagai salah satu sumber lahirnya perilaku “radikalisme”. Sebenarnya pemerintah dan terutama para pejabat harus mulai berhenti memproduksi isu yang tidak penting dan hanya mengundang kontroversi. Sebab masih sangat banyak hal-hal yang jauh lebih penting yang seharusnya mereka kerjakan untuk menahan laju “radikalisme” itu sendiri. Salah satu diantaranya adalah mengevaluasi program-program keagamaan yang tayang rutin di televisi dan juga di media sosial yang dikembangkan oleh ormas keagamaan atau perorangan. Tentu saja hal ini dimaksudkan bukan untuk melarang, tetapi menata ulang aturan dan standard penyiaran dengan mengacu pada UU yang sudah ada.

Sekali lagi ini bukan soal “pembungkaman kebebasan berekspresi”, tapi penegakan aturan dan etika berkehidupan sosial ! Sebab harus diakui beberapa orang yang “ditokohkan” sebagai ustadz atau bahkan ulama, sudah berulang kali melanggar norma “keagamaan” ataupun sosial yang secara mutlak dijunjung tinggi oleh masyarakat kita. Bayangkan setiap saat kita bisa mendengar beberapa ustadz, ulama, dan bahkan habib yang setiap “orasi” selalu mencaci, menghujat, dan memaki. Tetapi dibiarkan saja oleh aparat, entah karena takut dituduh melakukan “kriminalisasi” ulama atau karena memang sengaja dibiarkan agar menjadi “hiburan” pengalihan isu dari adanya ketidakadilan sosial yang lebih besar.

Kriteria Ulama
Konsep ulama selalu melakat dengan konsep ahli dzikir dan ulul albab. Dimana salah satu kewajiban tugasnya adalah “menyatukan/mendamaikan/menguatkan tali silaturahmi ummat. Bukan merusak perdamaian dan memutuskan silaturahmi di antara anak manusia.

Seorang disebut ulama karena hidupnya dihabiskan untuk mengabdi dan menciptakan perdamaian dengan ilmunya yang merahmati semua kehidupan. Karena dorongan rasa “syukur dan taqwa” nya yang sangat tulus kepada Allah. Karena itu Allah melelalui nabi Muhammad mengenalkan sosok ulama bukan dengan standard tunggal misalkan hanya cerdas atau berpengetahuan saja. Tetapi dikenalkan dengan beragam standar umum dimana semua manusia berakal akan menerima dan tidak bisa membantah.

Dalam surat Al Furqon misalkan, kita dikenalkan pada standard siapa yang disebut Ibadu al Rahman (hamba yang Tuhan Yang Maha Pengasih). Standart pertama yang harus dimiliki sifat tawadhu (rendah hati) dan ketika berbicara dengan orang awam selalu dengan kata-kata yang mendamaikan atau melepaskan diri dari potensi konfliks yang tidak perlu. Sebab orang awam jarang ada yang melakukan refleksi jika mendapatkan informasi.

Karena itu seorang ulama tidak boleh dengan semena-mena melakukan doktrinasi yang membuat orang awam semakin jahil. Sebaliknya harus membuat mereka semakin cerdas dan terbebaskan dari kejahilannya. Kriteria lainnya adalah senang berdzikir dan bersujud karena rasa cinta dan takut akan berpaling dari mencari ridho Allah. Sampai pada puncak kreteria menjadi “Imam” bagi orang-orang yang bertakwa.

Namun akhir-akhir ini kita disajikan dengan beragam ekspresi keagamaan ummat akhir zaman yang tidak mengikuti alur ajaran kenabian. Entah darimana munculnya tiba-tiba banyak sekali ustadz dan ulama yang tidak “berstandar” pada kreteria yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Mereka membuat standard sendiri dan menisbahkannya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Mereka lebih sibuk menyusun kreteria ulama dan ustadz yang nyunnah itu dengan simbol-simbol yang merepresentasikan “budaya material”, ketimbang aspek moral intelektual ataupun spiritual. Akibatnya kreteria yang mereka akui sebagai ulama atau ustad adalah mereka yang pakai jubah, bersorban, berjenggot, pakai celana cingkrang, dahi harus hitam, berpoligami, mendukung khilafah, anti perbedaan, berani mengkafirkan dan memperjuangkan penegakan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang mereka pahami dan inginkan. Bukan sebagaimana Allah SWT dan Rasulullah Muhammad ajarkan kepada kita lewat para sahabat dan ulama yang bersanad jelas.

Bisnis Simbol Agama
Trend keber-agama-an model gimmick (yang mengedepankan penampilan dan dramatisasi panggung) inilah yang sejak akhir orde baru banyak ditampilkan di program televisi baik TVRI atau tv swasta. Dengan beragam bentuk “dramatisasi” yang ditampilkan para “ustad selebritis” inilah yang kemudian membentuk kesadaran ummat yang dangkal dan hanya mengedepankan ekspresi keber-agama-an formal semata. Akibat program Religiotainment ini, masyarakat digiring pada kesadaran bahwa agama itu hanya soal bagaimana hidup secara syar’i. Anehnya lagi wacana syar’i itu sengaja dibatasi oleh mereka cuman berkutat pada isu menutup aurat dengan jilbab syar’i, poligami, bercadar, berjenggot dan pakai jubah bagi yang laki, serta label-label syar’i lainnya yang dilekatkan pada objek yang banyak dan berpotensi dibisniskan oleh para ustad selebritis tersebut. Mulai busana, kue, obat herbal, madu, yayasan, sampai bisnis haji dan umroh lewat travel biro yang mereka dirikan.

Bahwa ini adalah sesuatu yang tidak melanggar hukum itu betul, akan tetapi jika ini dikaitkan dengan konsep ideal ulama maka ini adalah sebuah gejala penyimpangan sosial yang sangat berbahaya. Karena jika kesadaran dangkal ini telah melekat menjadi kesadaran beragama ummat, maka akan dengan sangat mudah dieksploitasi oleh mereka yang menghendaki Islam ditampilkan secara formal. Seperti dibawa ke arah “perjuangan menegakkan khilafah Islamiyyah”.

Di samping itu kedangkalan pemahaman ummat ini memberi peluang kepada para ulama “politisi” yang suka mendramatisir isu, untuk menjadikan ummat sebagai tameng mereka ketika mereka berhadapan dengan negara dan pihak yang tidak setuju dengan eskpresi keberagamaan yang radikal, eksklusif, dan intoleran tersebut. Karena bagi para ustadz dan ulama “gimmick” tersebut, inilah bisnis agama yang paling menguntungkan. Sebab tidak perlu modal dan untungnya besar.

Tawangsari 8 September 2020

Oleh:
Muhammad Khodafi

Spread the love

Comment here