Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

ArtikelSyiar Islam

Tuntunan Zakat dan Perinciannya (1)

Zakky Mubarok

Jakarta, Dakwah NU
Pengertian Zakat
Zakat menurut pengertian etimologis adalah tumbuh, suci dan berkah. Diartikan tumbuh, karena dengan melaksanakan zakat maka harta seseorang akan semakin berkembang. Ibadah zakat dapat menghindarkan seorang pelakunya dari sikap kikir atau bakhil. Harta yang dizakati dan diinfakkan akan semakin berkembang. Nabi s.a.w. bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Harta tidak akan berkurang karena disedekahkan”. (Hadis Shahih, riwayat Muslim: 4689, al-Tirmidzi: 1952, dan Ahmad: 6908).

Zakat diartikan dengan suci atau mensucikan, karena ia mensucikan dan membersihkan harta yang dimiliki seseorang dari kotoran-kotorannya, dan mensucikan Muzakki (orang yang berzakat) dari sifat kikir dan dosa. Diartikan juga dengan barakah, karena ibadah zakat dapat melahirkan keberkahan di tengah-tengah masyar¬akat, ditandai dengan hilangnya kesenjangan sosial antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Dengan demikian terbentuklah suatu masyarakat yang saling menyayangi, mengasihi dan menghorma¬ti sesama anggotanya.

Secara terminologis atau istilah, zakat berarti: “Kadar harta tertentu yang diberikan seseorang kepada yang berhak mener¬imanya dengan beberapa syarat yang telah ditetapkan”.

Hukum Zakat
Zakat hukumnya adalah fardhu ‘ain/wajib bagi setiap orang Islam pria dan wanita yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Firman Allah s.w.t.

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ

“…Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat…”. (QS. al-Nisa, 4:77)

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

“Ambilah dari harta mereka sedekah (zakat), dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”. (QS. al-Taubah, 9:103).

Sabda Nabi Muhammad s.a.w.:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًارَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam itu ditegakkan atas lima azas yaitu: (1) Bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah. (2) Mendirikan shalat. (3) Menunaikan zakat. (4) Berhaji ke Baitullah. (5) Berpuasa dalam bulan Ramadhan”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 7 dan Muslim: 19).

Perintah melaksanakan zakat sangat dikuatkan al-Qur’an dan al-Hadis, hal ini bisa diketahui dari banyaknya perintah itu yang disebutkan dalam berbagai ayat al-Qur’an dan kitab-kitab hadis, ibadah itu juga merupakan ijma’ para sahabat Nabi s.a.w. para ulama dan umat Islam secara umum.

Syarat Wajib zakat
Syarat wajib zakat terdiri dari (1) Muslim, (2) Merdeka, (3) Milik sempurna, (4) Mencapai nishab atau batas minimal diwa¬jibkannya zakat. Syarat tersebut adalah syarat umum dari semua harta dan benda yang dizakati. Untuk benda-benda tertentu ada syarat tambahan yang berbeda-beda. Misalnya zakat makanan pokok ditambah syarat, bahwa biji makanan pokok itu mengenyangkan dan bisa disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Zakat emas dan perak ditambah syarat harus sudah mencapai haul (disimpan satu tahun) dan seterusnya. Perincian mengenai hal itu disebutkan dalam uraian harta dan benda yang wajib dizakati.

Harta dan Benda Yang Wajib dizakati
Hewan Ternak
Unta; nishabnya 5 ekor, zakat yang dikeluarkan 1 ekor kambing umur 2 tahun. Bila unta itu mencapai jumlah 10-40 ekor, zakatnya 2 ekor kambing umur 2 tahun. Bila mencapai jumlah 15-19 ekor, zakatnya 3 ekor kambing umur 2 tahun. Jumlah unta 20-24 ekor, zakatnya 4 ekor kambing umur 2 tahun. Jumlah 25-35 unta, zakatnya 1 ekor unta umur 1 tahun. Bila mencapai jumlah 36-45 ekor, zakatnya 1 ekor unta umur 2 tahun lebih, dan seterusnya, dikeluarkan za¬katnya setiap tahun (haul).

Kerbau dan sapi; nishabnya 30 ekor, zakat yang dikeluarkan 1 ekor kerbau atau sapi berumur 2 tahun. Bila mencapai jumlah 40-59 ekor, maka zakatnya 1 ekor kerbau atau sapi berumur 2 tahun lebih, dan seterusnya dizakati setiap tahun.

Kambing; nishabnya 40 ekor, zakatnya 1 ekor kambing. Bila jumlah mencapai 40-120 ekor, maka zakatnya 1 ekor kambing betina umur 2 tahun lebih atau 1 ekor domba betina umur 1 tahun lebih. Bila mencapai 120-200 ekor, zakatnya 2 ekor kambing betina umur 2 tahun lebih atau 2 ekor domba betina umur 1 tahun lebih, dan seterusnya dikeluarkan zakatnya setiap tahun. (Sulaiman Rasjid, 1990 :190).

Perincian selanjutnya dari jumlah hewan unta, kerbau dan sapi atau domba bisa dilihat daftar yang lebih lengkap dalam kitab fiqh. Bagi peternakan hewan yang tidak disebut-kan dalam fiqh lama, cara mengeluarkan zakatnya, menurut hemat penulis, dianalogikan dengan zakat ternak di atas, baik dari segi nishab, zakat yang dikeluarkan ataupun waktu menunaikan zakatnya.

Emas dan Perak
Emas nishabnya 20 mitsqal atau 93,6 gram, zakat yang wajib dikeluarkan 2,5% (dua setengah persen) tiap tahun. Perak nishabn¬ya 200 dirham atau 624 gram, zakat yang dikeluarkan 2,5% (dua setengah persen) setiap tahun. Perintah mengeluarkan zakat emas dan perak disebutkan dalam al-Qur’an: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah pada mereka, bahwa mereka akan menda¬pat siksaan yang pedih”. (QS. al-Taubah, 9:34).

Diriwayatkan dari Ali r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

قَدْ عَفَوْتُ عَنْ صَدَقَةِ الْخَيْلِ وَالرَّقِيقِ فَهَاتُوا صَدَقَةَ الرِّقَةِ مِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا دِرْهَمًا وَلَيْسَ فِي تِسْعِينَ وَمِائَةٍ شَيْءٌ فَإِذَا بَلَغَتْ مِائَتَيْنِ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ

“Se¬sungguhnya aku telah memaafkan kamu dari sedekah kuda dan hamba sahaya, maka bayarlah zakat perak, setiap 40 dirham, 1 dirham, 190 dirham belum wajib zakatnya dan apabila sampai 200 dirham zakatnya 5 dirham”. (Hadis Shahih, Riwayat Abu Dawud: 1343, al-Tirmidzi: 563, al-Nasa’i: 2422, dan Ahmad: 673).

Zakat Uang
Uang yang disimpan, wajib dikeluarkan zakatnya, caranya sama dengan emas, baik dalam soal nishabnya, zakat yang dike¬luarkannya yaitu: Nishabnya seharga 93,6 gram emas. Zakat yang dikeluarkan 2,5% setelah mencapai haul (satu) tahun dan dike-luarkan zakatnya setiap tahun.

Makanan Pokok
Makanan pokok seperti beras, jagung, gandum, adas dan sebagainya, yang termasuk jenis biji makanan yang mengenyangkan wajib dikeluarkan zakatnya. Firman Allah s.w.t. “…Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) pada hari memetik hasilnya…”. (QS. al-An’am,6:141). Nishab makanan pokok adalah 300 sha’ atau sekitar 930 liter bersih tidak termasuk kulit. Zakat yang dikeluarkan, jika diairi dengan air sungai atau air hujan 10%. Tetapi jika airnya memakai biaya seperti kincir, pompa atau diangkut kendaraan, maka zakatnya 5% dikeluarkan setiap panen.

Sabda Nabi Muhammad s.a.w.:

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

“Tidak ada sedekah (zakat) pada biji dan buah-buahan, sehingga mencapai lima wasaq”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1317 dan Muslim:1625).

Abu Sa’id al-Khudri r.a. meriwayatkan:

قَالَ الْوَسْقُ سِتُّونَ صَاعًا

“Nabi s.a.w. menjelaskan bahwa satu wasaq adalah 60 sha’”. (Hadis Hasan, riwayat Ibn Majah: 1822 dan Ahmad: 11359).

Bila 1 washa’ = 60 sha’, maka jenis nishabnya adalah 5 X 60 sha’ = 300 sha’. Setiap sha’ berisi 3,1 liter, maka jumlah selur¬uhnya 300 X 3,1 liter = 930 liter. Zakat 5% bagi tanaman yang diairi dengan biaya lain. Disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad s.a.w. dari Jabir bin Abdullah r.a.:

قَالَ فِيمَا سَقَتْ الْأَنْهَارُ وَالْغَيْمُ الْعُشُورُ وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشْرِ

“Rasulullah s.a.w. bersabda, “Pada biji yang diairi dengan air sungai dan hujan, zakatnya sepersepuluh dan diairi dengan kincir seperduapu¬luh”. (Hadis Shahih, Riwayat Muslim: 1630, al-Nasa’i: 2443, dan Ahmad: 14275).

Buah-buahan
Buah-buahan yang wajib dizakati, seperti kurma dan anggur, dijelaskan hadis Nabi s.a.w: “Rasulullah s.a.w. memerintahkan supaya menaksir buah anggur itu berapa banyak buahnya, seperti menaksir buah kurma, dan beliau memerintahkan juga supaya memungut zakat anggur setelah kering, seperti mengambil zakat pada kurma”. (Hadis Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 583, Abu Dawud: 1366, dan al-Nasa’i: 2571).

Nishab zakat buah-buahan, seperti pada nishab makanan pokok yaitu 300 sha atau 930 liter bersih, zakat yang dikeluarkan bila diairi dengan air hujan atau air sungai 10% (sepuluh persen) dan bila diairi dengan air yang memakan biaya lain seperti diangkut kendaraan, menggunakan pompa dan sebagainya, zakat yang dike¬luarkan 5% (lima persen), dizakati setiap panen.

Harta Perdagangan
Harta perdagangan wajib dizakati, dengan ketentuan seperti pada zakat emas dan perak. Alat dan tempat berniaga tidak dihi¬tung dalam nishab dan harta yang dizakati. Sahabat Samurah bin Jundub r.a. menje¬laskan: “Rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada kami agar menge¬luarkan sedekah (zakat) terhadap barang yang disediakan untuk dijual”. (Hadis Hasan, riwayat Abu Dawud: 1335).

Cara menghitung zakat perdagangan atau perniagaan dihitung sejak mulai berdagang atau berusaha, misalnya mulai berusaha pada tanggal 20 Sya’ban, maka pada tanggal 19 Sya’ban tahun depan dihitung seluruh perniagaan itu, apabila jumlahnya telah mencapai nishab, maka wajib dizakati. Bila belum mencapai nishab, maka belum wajib zakat. Bila mulai berusaha pada tanggal 5 Januari, maka perhitun¬gannya pada tanggal 4 Januari tahun depan dan seterusnya. Zakat yang dikeluarkan sebanyak 2,5% (dua setengah persen).

Zakat Rikaz
Yang dimaksud dengan rikaz adalah harta emas atau perak yang terpendam dalam tanah selama bertahun-tahun yang tidak diketahui lagi pemiliknya. Harta tersebut merupakan simpanan generasi masa lalu yang tidak diketahui lagi riwayatnya. Bila harta tersebut ditemukan seseorang, maka wajib dikeluarkan za¬katnya pada saat menemukan harta tersebut. Zakat yang dikeluarkan sebanyak 20% (dua puluh persen). Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Zakat rikaz adalah seperlima”. (Hadis Shahih, Riwayat al-Bukhari: 2184 dan Muslim: 3226).

Zakat Hasil Tambang
Hasil tambang, seperti emas dan perak wajib dizakati, apabila mencapai nishab dikeluarkan zakatnya pada saat memperoleh hasil tambang tersebut, tidak perlu menunggu sampai satu tahun atau haul. “Rasulullah s.a.w. telah mengambil sedekah (zakat) dari hasil tambang di daerah Qabaliyah”. (Hadis Shahih, Riwayat al-Hakim: 7887 dan al-Baihaqi: 7426). Zakat yang dikeluarkan 2,5% (dua setengah persen).

Zakat Fitrah
Setiap hari raya Idul Fitri, seluruh umat Islam, pria dan wanita, besar dan kecil diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah yang diberikan kepada fakir dan miskin. Zakat tersebut ditunaikan dalam bentuk makanan pokok, seperti beras, jagung, gandum dan sebagain¬ya, sebanyak 1 sha’ atau 3,1 liter. Disebutkan dalam hadis Nabi s.a.w.:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Dari Ibn Umar r.a. menjelaskan: “Rasulullah s.a.w. mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan sebanyak satu sha’ (3,1 liter) dari kurma atau gandum, atas setiap muslim, merdeka atau hamba, pria atau wanita”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1408 dan Muslim: 1635).

Dalam riwayat al-Bukhari dijelaskan: “Mereka membayar fitrah itu sehari atau dua hari sebelum lebaran Idul Fitri”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1415). Mengenai kewajiban menunaikan zakat fitrah sebanyak satu sha’ (3,1 liter), dise¬butkan juga dalam hadis yang diriwayatkan Abu Sa’id al-Khudri r.a.:

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Kami mengeluarkan zakat fitrah satu sha (3,1 liter) dari makanan, gandum, kurma, susu kering, atau anggur kering”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1410 dan Muslim: 1640).

Bersambung…>>>>>

Penulis:
Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Rois Syuriyah PBNU

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here