Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Transformasi Pendidikan Islam Klasik ke Modern 

Jakarta, Dakwah NU
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) menjelaskan sejarah sistem pendidikan dari era klasik ke modern. Menurutnya, sistem pendidikan Islam diawali dengan model madrasah-madrasah dengan halaqah. Setelah itu, madrasah bertransformasi menjadi universitas.

“Pertama kali madrasah berdiri pada tahun 383 H oleh Al-Wazir Sabur yang kemudian ia wakafkan kepada para ahli fiqih. Berikutnya, lahir madrasah-madrasah lain yang semua dikelola oleh masyarakat,” ungkapnya, dikutip NU Online, Senin (22/11/21).

Dalam webinar nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro, Jawa Timur itu, beliau menyebutkan salah satu ciri yang menonjol dari sistem medrasah adalah adanya model belajar dengan halaqah, yaitu sistem belajar mengajar dengan murid dan guru duduk secara tatap muka dan tanpa memakai kursi.

Selain itu, ciri khas pendidikan model ini lebih mampu menciptakan kader-kader yang merakyat seperti umumnya di pesantren-pesantren. Terbukti, rata-rata kiai-kiai kampung yang yang notabennya telah melalui pendidikan klasik, lebih aktif membina keagamaan masyarakat di desa, salah satunya dengan menyelenggarakan pengajian di mushala-mushala.

“Orang-orang yang dididik dengan sistem halaqah, itu mudah sekali mendirikan pengajian di mushala-mushala,” imbuh Gus Ghofur.

Era berikutnya, muncul madrasah negeri pertama yaitu Madrasah Nidzamiyah yang dibangun oleh Al-Wazir Nidzamul Muluk pada tahun 459 H. Madrasah ini menaungi ulama-ulama terkenal seperti Imam Al-Haramain, Imam Al-Ghazali, Imam Abu Ishaq Asy-Syairazi, dan lain-lain.

Madrasah-madrasah ini kemudian mulai mengadopsi sistem modern. Transformasi yang cukup siginifikan ini memicu rasa khawatir dari para ulama karena mereka menganggap sistem ini bisa mereduksi nilai-nilai lama yang lebih otoritatif.

“Sejumlah ulama menangisi berdirinya madrasah negeri, dan mereka mendirikan ‘hari berkabung’ atas maraknya madrasah-madrasah negeri tersebut,” ujar Gus Ghofur.

Setelah era madrasah, berikutnya disusul dengan era modern. Era ini ditandai dengan hadirnya sejumlah madrasah dangan ruwqah-ruwqahnya yang berubah menjadi institusi pendidikan resmi dan mengadopsi sistem barat (universitas). Seperti Universitas Al-Azhar (1961), Universitas Qurawiyyin (1963), dan Universitas Zaituniyyah (1987).

“Sebelum menjadi universitas, dulu Al-Azhar berawal dari kegiatan halaqah ketika masih zamannya Imam Suyuthi, Imam Zakaria al-Anshari, Imam Mahalli, Imam Qalyubi,” ungkap Gus Ghofur.

Kendati demikian, lanjut Gus Ghafur, sistem pendidikan modern tidak menghilangkan model halaqah, terutama di Yaman (Darul Musthafa) dan Saudi (A-Maliky).

Spread the love

Comment here