Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Tiga Pesan Penting Kiai Said di Harlah ke-98 NU

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A., menyampaikan beberapa tantangan yang sedang dan akan dihadapi Nahdlatul Ulama.di usianya yang hampir satu abad. Hal ini disampaikannya dalam acara peringatan Harlah ke-98 NU di Masjid Istiqlal, Sabtu 27 Februari 2021.

Dalam Harlah ke-98 ini artinya NU akan menyongsong genap 100 tahun dengan hitungan Hijriyah. NU telah berdiri di mana dulu ketika dideklarasikan di Surabaya oleh Mbah Hasyim, Mbah Syamsuri dan teman-temannya. Saat itu, yang dihadapi tantangannya, problematikanya, ringan dan kecil. Sekarang tantangan yang kita hadapi jauh lebih besar, lebih berat, lebih menantang, lebih tajam, lebih radikal. Baik dalam negeri maupun luar negeri, baik yang bersifat agama, sosial, kemasyarakatan, maupun politik.

“Dihadapan kita tantangan yang sangat besar sekali, oleh karena itu sekali lagi mari kita rapatkan barisan kita, barisan yang satu, kita rapatkan satu barisan NU, muslimat, fatayat dan badan otonom semuanya harus satu barisan, satu kata kalimat wahidah sautun wahid sirotin wahid. InsyaAllah ala berkatilah, jauhilah dari perpecahan jauhilah dari perselisihan,” ujarnya.

Dalam pesannya, ada tiga hal yang ditekankan Kiai Said agar NU bisa menjadi organisasi yang benar menurut Al Qur’an, yaitu peningkatan di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan. “Percuma kamu berorganisasi, percuma kamu berkumpul percuma kamu bernegara, ber-DPR, kecuali kalo kita mempunyai tiga agenda,” tuturnya.

Bidang Ekonomi
Pertama amar shodaqotin atau memobilisasi sedekah, misalnya zakat, infaq, wakaf, hibah. Kita di tengah ekonomi yang sedang terancam ini, umat Islam mari jadikan zakat, infaq, sedekah, jariyah, hibah andalan ekonomi kita. Kita punya zakat, kita punya infaq, kita punya prinsip-prinsip sedekah yang diperintahkan agama kita. Maka harus kita jalankan dengan baik, insyaAllah ekonomi yang sedang merosot ini bisa diatasi dengan mudah kalau sudah amalrobi shodaqotin jalan dengan baik.

Beda pendapat boleh, tapi beda pendapatan itu yang berat. Dimulai dari beda pendapatan nanti akan ada permusuhan. Tapi sekalian agar NU lebih berperan, lebih dihargai maka Al Qur’an telah menunjukan bagaimana kita cara berorganisasi yang benar, bernegara bahkan bernegara yang benar, berpartai yang benar. Seperti firman Allah SWT dalam Surah an-Nisa ayat 114:

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Kiai Said menuturkan bahwa pemerintah harus segera menyeimbangkan perekonomian yang ada di Indonesia, salah satunya dengan pengoptimalan Baznas. Beliau meminta kepada pemerintah presiden dan wakil presiden agar menginstruksikan semua pegawai negeri yang islam, BUMN, perusahan-perusahaan pengusaha-pengusaha muslim agar mengeluarkan zakat 2,5% dan mendukung Baznas serta lembaga-lembaga zakat dimanapun berada. Hal ini bertujuan agar kemiskinan yang ada di kota maupun pelosok dapat segera teratasi dan tidak ada ketimpangan sosial.

Bidang Pendidikan
Pesan kedua dari Kiai Said agar organisasi NU berguna, solutif dan berwibawa adalah dengan melakukan agenda ma’ruf di bidang pendidikan. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan masa depan bangsa ditentukan kualitas pendidikan saat ini serta.budaya kita ditentukan oleh pendidikan kita. Mulai dari karakter, kepribadian bangsa dan jati diri masa depan bangsa ini ditentukan sistem pendidikan.

“Jika pendidikan kita merosot, masa depan anak cucu kita akan menjadi apa itu? Kita sekarang aja seperti ini nih, hasil produk sistem pendidikan masa lalu gitu ya pas sekolah kuliah, sekarang kalo lebih merosot lagi seperti apa anak cucu kita,” tutur Kiai Said.

Oleh karena itu, beliau berpesan agar NU juga harus ikut berperan meningkatkan kualitas pendidikan. Alhamdulillah, lanjut beliau, sudah berdiri 38 perguruan tinggi yang milik NU, betul-betul milik NU semenjak periode saya ini 10 tahun sampai sekarang. Selain itu, pemerintah juga sudah memberi tanah 10 hektar di Sentul City setelah diterima dari Pak Luhut Panjaitan. “Alhamdulillah berkat doanya kiai-kiai tuh, para Habaib juga tuh insyaallah kita akan punya Universitas NU KH Abdul Wahid di Sentul yang mewah dan mentereng insyaallah tidak lama lagi,” jelasnya.

Selanjutnya, Kiai Said juga menyampaikan bahwa kualitas pesantren harus diperhatikan, sebab banyak sekali kemunduran pesantren yang dulu terkenal ahli tentang ilmu nahu, ilmu balago, ilmu shorof, dan tahfsir hadist. “Sekarang kita lihat alumni pesantren jauh kualitasnya dibanding ketika saya tahun 70-an. Ketika saya tahun 70-an masih banyak orang hafal harfiah dari belakang bukan dari depan. Dari belakang hafal itu hafal harfiah itu baru hebat baca fatul muin tanpa harakat,” ungkapnya.

Beliau menegaskan bahwa sistem pendidikan saat ini merupakan penentu masa depan banga yang harus diperhatikan oleh negara, “Sekali lagi, pendidikan itu negara, pemerintah harus berturut-turut memperhatikan masa depan bangsa ini dengan meningkatkan kualitas sistem pendidikan kita.”

Bidang Kesehatan
Dalam bidang kesehatan, Kiai Said banyak menyampaikan terkait wabah Covid-19. Menurut beliau, saat ini semua sedang diuji oleh Allah, bukan hanya kita, tapi dunia yaitu dengan Covid-19 ini. Alhamdulillah pemerintah dalam hal ini sungguh-sungguh ingin mengatasi wabah ini walaupun sana-sini masih ada kekurangan tumpang tindih masih banyak sekali kurang ter-koordinasi.

“Bagaimana pun ada niat sungguh dari pemerintah untuk mengatasi segera mengatasi wabah ini, itu semuanya merupakan kewajiban pemerintah. Wajib pemerintah memelihara kesehatan rakyatnya. Kesehatan sangat penting, belajar harus sehat, kerja harus sehat, mengerjakan harus sehat, ibadah sholat harus sehat kalo ga sehat solatnya tidak sempurna, puasa harus sehat, haji umroh harus sehat, kalau nggak sehat mana mungkin bisa haji bisa umroh. Puasa harus sehat, baca Al Qur’an harus sehat, kalau nggak sehat mana mungkin bisa baca Al Qur’an. Oleh karena itu, sehat merupakan utama sekali,” jelasnya.

Lebih lanjut, beliau menyebutkan bahwa dalam mengatasi problem wabah ini, NU siap membantu pemerintah untuk menyukseskan program menangani Covid-19. Kiai Said mengaku bahwa hingga saat ini NU telah memilii 228 ribu titik satgas Covid-19 dan telah menyalurkan bantuan setara dengan 600 milyar yang juga merupakan bantuan dari Taiwan, Singapura, koran Kompas, Kedubes Saudi, DPR, dan BIN. “Alhamdulillah dan sampai sekarang masih kita masih berusaha menyalurkan kembali alat kesehatan sembako dan lain lain,” tuturnya.

Di akhir, Ketum PBNU tersebut juga kembali mengingatkan agar selalu menjaga budaya sebagai martabat bangsa dan akhlakul karimah (husnul muasyaroh, husnul muamalah, husnul musyarihkah). Menurutnya, martabat bangsa itu bisa mulia dari akhlak, moral, disiplin, sadar hukum, tidak ada yang korupsi, haknya masih terjamin, adil, makmur, dan sejahtera, bukan agamanya.

Kiai Said mengajak NU agar lebih berperan lagi dalam membangun kemajuan martabat bangsa, berangkat dari prinsip moral dan prinsip spiritual yang kita bangun dimulai dari kita sendiri insyaallah akan bisa mengajak orang lain. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga meresmikan nama baru 164 channel menjadi TV NU.

“Semoga dengan nama baru ini TV NU dapat menyuguhkan konten-konten yang edukatif berkontribusi bagi kemaslahatan umat islam khususnya warga Nahdatul Ulama. Kemudian yang kedua, menyuguhkan konten-konten keislaman seperti quran, tahlil, wirit, fizib, sholawat, doa-doa, ensiklopedia, dan berita untuk mempermudah belajar dan beribadah dalam satu aplikasi. Arah kiblat betul arah kiblat,” harapnya. (fqh)

Spread the love

Comment here