Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

ArtikelHikmah

Tiada Paksaan dalam Memeluk Islam : Sepenggal Kisah KH Hasyim Asy’ari dengan Karl Von Smith

Dakwah NU
Banyak khazanah yang sudah sampai kepada kita baik dari dari zaman Nabi Muhammad, sahabat, hingga para ulama. Salah satu contoh adalah hal yang dipraktikkan oleh pendiri NU, Hadratussyaikh K.H Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab al-Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari: Wadli’ Lubnat Istiqlali Indunisya yang ditulis oleh Muhammad Asad Syahab.

Terdapat kisah menarik yang patut diteladani. Diceritakan ada seorang insinyur kelahiran Hannover, Jerman bernama Karl von Smith yang kemudian mendapat tugas dari kantornya untuk bekerja di Pemerintah Hindia Belanda. Suatu ketika Karl von Smith melihat seorang pekerja Indonesia yang membasuh muka, tangan, dan kakinya. Ia penasaran, apa yang pekerja itu lakukan. Kemudian Karl von Smith pun bertanya kepada para pekerja itu,“Apa yang sedang engkau lakukan?”

Para pekerja menyarankan Karl von Smith untuk bertanya langsung kepada gurunya, K.H Muhammad Hasyim Asy’ari. Tak berselang lama, kemudian Karl von Smith datang menghadap Hadratussyaikh. Sesampainya di sana beliau menanyakan perihal yang dilakukan para pekerja tadi (wudlu) dan tentang keislaman. Meski demikian, K.H Hasyim Asy’ari tidak serta merta menjawab dengan dalil al-Quran dan Hadits karena beliau tahu bahwa Karl von Smith telah memeluk agama. Beliau berdua sering berdiskusi hingga sepuluh bulan lamanya dan akhirnya Karl von Smith semakin mantap dengan ajaran Islam.

Lalu, bagaimana K.H Hasyim Asy’ari menjelaskan?

Dijelaskan dalam kitab tersebut bahwa menurut Karl von Smith, K.H Hasyim Asy’ari dalam menjelaskan agama Islam, ajaran kemanusiaanya melalui buku-buku atau kitab yang sudah dipelajari oleh Karl von Smith. Luar biasa sekali. Singkat cerita, Karl von Smith memutuskan untuk memeluk agam Islam dari K.H. Hasyim Asy’ari selama berbulan-bulan. Ketika ia mengutarakan niatnya, K.H. Hasyim Asy’ari dengan lembut menjawab,

“Tuan bebas memilih agama yang Tuan inginkan dan Tuan kehendaki untuk diri Tuan sendiri. Tuan mengetahui Islam, maka pilihlah untuk diri Tuan sendiri akidah dan agama yang Tuan ingin imani, dengan syarat keimanan dan akidah Tuan berdasarkan pada ilmu, pemahaman, kesadaran dan keyakinan setelah melalui proses pengkajian mendalam.”

(Muhammad Asad Syahab, 1971, hlm 43)

Meskipun telah berdiskusi lama dan Karl von Smith telah memeluk Islam, K.H. Hasyim Asy’ari masih mengingatkan bahwa setiap orang bebas memilih agamanya masing-masing, tidak boleh ada paksaan. “laa ikraaha fid-dien…; diin tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)…” demikian bunyi Alquran [Al-Baqarah: 256]

Peristiwa di atas adalah contoh yang patut kita teladani. Dengan sikap lemah lembut dan menghargai orang yang berbeda agama tanpa bermaksud untuk menjelekkan, dsb., K.H. Hasyim Asy’ari justru mendapat simpati dari Karl von Smith. Hal ini juga dicontohkan oleh para ulama terdahulu, bahkan dari para nabi sendiri dalam membangun relasi antara muslim dengan non-muslim. Seperti ketika hijrah umat Islam yang pertama, ketika Nabi Muhammad menjalin komunikasi dengan Raja Najasyi atau Raja Negus yang Nasrani. Nabi berkata bahwa Raja Negus adalah raja yang adil dan bijaksana, para sahabatnya di sana akan mendapatkan perlindungan yang adil pula. Perkataan Nabi benar, ketika para sahabat hijrah ke Habasyah (Ethiopia), mereka mendapatkan perlindungan dari Raja Negus. Inilah relasi antara umat Islam dengan non muslim. Hal ini juga dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw di negara Madinah yang mempunyai berbagai macam agama dan suku yang semuanya dilindungi oleh Nabi Muhammad saw

Pancasila sebagai falsasah dan dasar negara yang menaungi segenap agama, suku, dan kebudayaan di Indoenesia. Oleh sebab itulah Pancasila harus dirawat bersama karena Pancasila adalah payung hukum yang menjadi peneduh bagi semua agama. Orang Islam tidak akan terima apabila Injil dijadikan dasar negara, pun sebaliknya; orang Kristen tidak akan terima apabila Alquran menjadi dasar negara. Hanya Pancasila yang dapat diterima oleh semua kalangan dan semua agama karena Pancasila mampu menyatukan. Sebagaimana semboyan kita Bhinneka Tunggal Ika: walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

*Alvina Maghfiroh, ditranskrip dari NU Online

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah