Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

ArtikelTokoh

Thobaqat Syaikh Syanwani bin Abdul Aziz Sampang

Thobaqat Syaikh Syanwani bin Abdul Aziz Sampang

Banten, Dakwah NU
Menurut bahasa, arti thobaqat adalah sekelompok orang yang hidup semasa atau dalam zaman yang berbeda namun mempunyai kapasitas-kualitas yang sama secara keIlmuan, keahlian, atau profesinya.

Menurut istilah Ilmu hadis, thobaqat ialah kelompok orang yang semasa, sepantaran usianya, sama dalam periwayatan hadis atau dalam menerima hadis dari guru-gurunya.

Riwayat Lahir
Muhammad Syanwani lahir pada tanggal 13 Agustus 1926 yang bertepatan dengan 1347 Hijriyah di Kampung Sampang, Desa Susukan. Kampung yang terletak di ujung utara Kecamatan Tirtayasa Serang Banten. Muhammad Syanwani adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara dari Ayah KH. Abdul Aziz dan Ibu Salhah.

Ayahnya ini KH. Abdul Aziz adalah anak dari Ki Mardali yang tinggal di Kampung Ragas Desa Purwodadi Lebak Wangi Serang. Ki Mardali putera dari Ki Mursidi, dan Ki Mursidi anak seorang ulama besar yaitu Kiai Abdul Qadir asli Kenari Kasemen, sebab ayahnya Kiai Abdul Qadir ini punya istri bernama Nyi Mur, cucu dari Ki Nabei Lintang Mengkara atau Manikara.

Kiai Abdul Qadir, ini adalah putera ulama sepuh yang tinggal di Kenari yaitu Syaikh Abdul Syukur, dan Syaikh Abdul Syukur kenari adalah anak dari Syaikh Sulaiman Kenari. Ia adalah putera Ki Syam’un, kemudian Ki Syam’un putera Ki Ahmad Zainudin. Ki Ahmad Zainudin bin Ki Badrudin, kemudian Ki Badrudin bin Ki Nuruddin, dan Kiai Nuruddin anak dari Ki Hasan. Ki Hasan putera dari Ki Yahya. Ki Yahya anak dari Ki Syarifudin bin Ki Jamaludin. Ki Jamaludin Banten ini adalah anak dari Ki Zaenudin Kali Dalung yang lahir dari seorang bernama Ki Badru Tamam bin Nyai Mas Gede Cirebon binti Nyi Mas Dewi Sri Kadilangu Demak, Puteri dari Ki Badru Tamam.

Kenapa saya tulis Ki atau Nyi di depan nama leluhurnya Syaikh Syanwani itu untuk menjadi penjelas dari sikap takriman dan ta’dhiman kepadanya. Terlepas prilaku dan status kehidupan mereka di zamannya.

Guru-gurunya
Setelah lulus dari sekolah rakyat Ongko Loro atau Volkscool di Pontang tahun 1938, Syanwani melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren di daerah Banten. Untuk pertama kalinya Syanwani muda ngaji ke kiai Jamin Bayongbong Undar-Andir Kragilan selama 2 tahun. Setalah dari Undar-Andir, ia melanjutkan ngaji dibawah binaan ulama besar kala itu yakni Syaikh Siddiq ( masyhur dipanggil Abuya Siddiq ) di Cengkudu Baros Serang. Syaikh Siddiq adalah santri Syaikh Nawawi al-Bantani. Selama 5 tahun di Cengkudu Syanwani muda mendapatkan sanad kitab Fathul Mu’in ( ilmu fiqih ), diceritakan pula Syanwani muda mampu menghafalnya kitab tersebut.

Setelah dari Cengkudu, Syanwani remaja melanjutkan mesantren di Sondol Rangkasbitung Lebak dibawah bimbingan KH. Sayuda, seorang ulama besar yang termasuk kakeknya Syanwani dari jalur ibu. Di sondol ini Syanwani belajar selama 3 tahun.

Dari Sondol, Syanwani melanjutkan rihlah ilmiahnya di pesantren Kadu Peusing Pandeglang dibawah asuhan Abuya Abdul Halim, kiai besar murid dari Syaikh Nawawi al-Bantani. Selama 2 tahun di Kadu Peusing, ia bergeser di daerah Cijahe masih wilayah Pandeglang untuk belajar dibawah asuhan KH. Junedi selama 2 tahun.

Dari Pandeglang, Syanwani muda melanjutkan pendidikannya ke Citangkil Cilegon, dibawah bimbingan KH. Syam’un, seorang ulama besar alumni Mekkah dan Al Azhar Cairo Mesir. Pada saat revolusi kemerdekaan Republik Indonesia, Kiai besar ini didaulat untuk menjadi Bupati Kab. Serang.

Dalam situasi Agresi Militer Belanda 1948, Syanwani meneruskan pendidikannya di Bandung dibawah bimbingan KH. Busyrol Karim di daerah Cimahi. Setelah 2 tahun di Bandung kemudian melanjutkan ke pesantren Sempur, Purwakarta. Syanwani mendapat sanad ilmu dari ulama besar yaitu Mama Sempur ( Syaikh TB. Bakri ) murid Syaikh Nawawi al-Bantani selama 2 tahun pula.

Masih di wilayah Pasundan, Syanwani melanjutkan ke Gentur untuk ngaji dibawah asuhan Mama Gentur atau Syaikh Syatibi, seorang ulama besar yang masyhur, murid dari Syaikh Nawawi al-Bantani.

Setelah dari Gentur, Syanwani muda tabarrukan pada seorang Mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, yaitu Syaikh Mubarok di Suralaya Singaparna Tasikmalaya, seorang murid dari Syaikh Nawawi al-Bantani, sekaligus sufi besar pelanjut dari Syaikh Abdul Karim Tanara.

Kepulangan dari mesantren di daerah Pasundan di tahun 1957, Syanwani mengenyam bimbingan sufisme dari ulama besar yang tinggal di Kampung Rancalang Tanara yaitu Syaikh Umar, seorang Mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam waktu bersamaan, Syanwani yang sudah tampil menjadi Kiai muda masih ngaji dibawah asuhan KH. TB. Akhmad Khatib di Banten lama seorang ulama besar yang pernah menjadi Residen Banten, dari Kiai Khatib itu diceritakan Syanwani mendapat ijazah tarekat Rifaiyah dan Syattariyah.

Sanad ilmu dari para ulama besar tersebut dapat disimpulkan ternyata Kiai Syanwani mendapatkannya dari murid-murid Syaikh Nawawi al-Bantani. Dengan demikian Kiai Syanwani adalah generasi ketiga setelah mangkatnya Guru Agung, Imam al-Haramain, Sayyid Ulama Hijaz Syaikh al-Alim al-Allamah al-Zahid al-Hafidh Nawawi al-Bantani yang wafat pada tahun 1898 M.

Murid-muridnya
Tahun 1963, Kiai Syanwani mendirikan pondok pesantren yang dinamai Ashhabul Maimanah. Pada awal tahun itu punya beberapa puluh santri, diantara santri angkatan pertama itu ada 2 santrinya yang kemudian menjadi ulama yaitu KH. Tabrani Cikobak Lebak Wangi, dan KH. Afifi Domas Pontang. Tahun berikutnya yakni angkatan kedua hasil didikan KH. Syanwani tampil beberapa santrinya yang jadi ulama antara lain, KH. Sanan Sujung, KH. Marzuki Sindang Asih Balaraja, KH. Suhaemi Bolang Lebak Wangi, KH. Markawi Sidayu Tirtayasa, KH. Nabhani Ragas Purwodadi, KH. Usman Tersaba, Kiai Daelami Sampang ( keponakan kiai ), KH. Muhammad Romli Karang Kobong, Tangerang.

Dari santri angkatan berikutnya, terdapat beberapa kiai yang merupakan murid KH. Syanwani antara lain, KH. Muslikh Rencalang, KH. Baejuri Rangkas Lebak, KH. Nu’man Khudori Dadap Jakarta, KH. Syi’bi Lontar, KH. Kafrawi Rancalabuh Tangerang, KH. Roswani Kepaksan Kencana Harapan Lebak Wangi, KH. Asy’ari Sindang Asih Suka Mulia Balaraja, KH. Abdul Latif Cikobak Kencana Harapan Lebak Wangi, KH. Romyan Lebak Wangi, KH. Rasad Astana, KH. Maswi Tirtysasa, KH. Fadil Sujung.

Generasi santrinya KH. Syanwani yang menjadi ulama di tahun 80-an antara lain, KH. Abdul Jabbar Cisoka, KH. Tabrizi Mauk, KH. Abdul Mukti Gaga Tangerang, KH. Ahmad Yani Paku Haji, KH. Syatibi Taktakan kota Serang, KH. Matin Syarkowi Sempu Cipocok Serang, KH. Abdul Aziz Rencalang, Prof. Dr. KH. Wasid Kepaksan Kencana Harapan Lebak wangi Serang, KH. Surji Domas, KH. Abdul Wahid Bogor ( menantu KH. Syanwani ), KH. Maya Hidayat, Kiai Sayuti Tirtysasa, Kiai Sahlan Tirtayasa, Kiai Sarjaya Tangerang, KH. Uwes Tangerang.

Kemudian, di akhir hayatnya KH. Syanwani era awal tahun 1990-an, santrinya yang kemudian menjadi ulama adalah Kiai Asy’ari Kayu Bongkok, KH. Ma’sum Sidayu, Kiai Fudloli Balaraja, Kiai Ahfas Fakhri Sukabumi, KH. Aminudin Talaga Cikupa Tangerang, KH. Mastur Tanjung Kait, KH. Ahmad Khambali Jayanti, Kiai Muslim ( Geci ) dan KH. Imadudin Usman Kresek Tangerang.

Thobaqat ini disusun untuk mengenang curahan ilmunya, dedikasi mencerdaskan anak bangsa, pengaruhnya membina umat, kharismanya membimbing masyarakat. Figur ulama besar yang paripurna, yang dianugerahi kasyaf dan tingginya firasat. Sosok ulama besar yang pemberani, arif dan bijaksana, yang memilki bahrul fahhamah, dianugerahi haibah dan karamah.

Al-Alim al- Arif Billah Syaikh Muhammad Syanwani bin Abdul Aziz, telah meninggalkan jejak hidup dan akan terus hidup yakni pijaran dan cahaya ilmu yang menerangi alam kebodohan hingga yaumi kiamat. Sang Kiai itu telah wafat tanggal 17 April 1993 dan telah meninggalkan duka yang amat dalam, musibah bagi semesta, terangkatnya ilmu dan hikmah. Semoga almarhum KH. Muhammad Syanwani bin Abdul Aziz, tenang di surganya Gusti Allah SWT.

Oleh: Kyai Hamdan Suhaemi
Penulis adalah Wakil Ketua PW GP Ansor Banten dan Ketua PW Rijalul Ansor Banten

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here