Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Dari Fatahillah Sampai Habib Umar Bin Hafidz: Strategi Kebudayaan Islam Walisongo

gus imad

Jakarta, Dakwah NU
Kultur berasal dari bahasa Inggris, culture artinya “budaya” dalam bahasa Indonesia. Budaya menurut Koentjaraningrat, berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah yang berarti budi atau akal. Kebudayaan berhubungan dengan kreasi budi atau akal manusia. Dengan demikian kebudayaan adalah hasil kreasi dan daya cipta akal manusia. Definisi lain menyebutkan budaya adalah tradisi dan gaya hidup yang dipelajari dan didapatkan secara sosial oleh anggota dalam suatu masyarakat, termasuk cara berpikir, perasaan, dan tindakan yang terpola dan dilakukan berulang-ulang (Koentjaraningrat: 1992).

Sedangkan tradisi dimaknai sebagai segala sesuatu yang turun temurun dari nenek moyang. Tradisi dalam kamus antropologi sama dengan adat istiadat yakni kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum dan aturan-aturan yang saling berkaitan, dan kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan yang sudah mantap serta mencakup segala konsepsi sistem budaya dari suatu kebudayaan untuk mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosial (Ariyono dan Aminuddin Siregar: 1985).

Said Aqil Siraj dalam bukunya Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara Menuju Masyarakat Mutamaddun mengatakan, ulama-ulama yang membawa Islam ke Nusantara telah mengembangkan strategi kebudayaan Islam sehingga Islam tersebar dengan cepat tanpa mengalami benturan dengan kebudayaan masayarakat Nusantara yang beragam. Strategi Kebudayaan Islam yang dikembangkan Wali Sanga tersebut merupakan manifestasi dari ummatan washata atau pilihan jalan tengah. Konsep jalan tengah adalah sebuah pemahaman Islam yang bertumpu pada prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang). Ketiga prinsip ini menjadi dasar pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Abu al Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang akidah; Mazhab Empat dalam bidang fiqh; dan Abu Hamid Al Ghazali dalam bidang tasawuf atau etika keislaman.

Supaya Islam mudah diterima oleh sasaran dakwah, Wali Sanga juga mengembangkan strategi sebagai berikut: Pertama, fiqhul ahkam untuk mengenal dan menerapkan norma-norma keislaman secara ketat dan mendalam, agar mereka menjadi muslim yang taat dan konsekwen. Kedua, Fiqhud dakwah ketika sudah masuk ke dalam masyarakat. Ajaran agama diterapkan secara lentur, sesuai dengan kondisi masyarakat dan tingkat pendidikan mereka. Ketiga, fiqhul hikmah (fiqh kearifan), ini tingkat yang tertinggi, sehingga Islam bisa diterima semua kalangan, tidak hanya kalangan awam, tetapi juga kalangan bangsawan termasuk diterima kalangan rohaniwan Hindu dan Bhudda serta kepercayaan lainnya.

Selanjutnya, supaya Islam terserap dengan mudah ke dalam kalbu sasaran dakwah, Wali Sanga juga mengembangkan strategi sebagai berikut: Pertama, tadrij (bertahap) tidak ada ajaran yang dilakukan secara mendadak, semua melalui proses penyesuaian. Bahkan tidak jarang secara lahir bertentangan dengan Islam, mereka dibiarkan minum tuak, makan babi, atau mempercayai Sang Hyang, secara bertahap mereka diluruskan. Kedua, taqlilut taklif (memperingan beban), tidak langsung disuruh sembahyang atau puasa, tetapi semampunya saja, sehingga setiap orang mampu melaksanakan. Ketiga, ‘adamul haraj (tidak menyakiti), para wali membawa Islam tidak dengan mengusik tradisi mereka, bahkan tidak mengusik agama dan kepercayaan mereka, bahkan memperkuatnya dengan cara Islam (Siraj: 2015).

Strategi dakwah Wali Sanga tersebut, disebut dengan pendekatan dakwah sufistik, yang dimaknai oleh Said Aqil Siraj sebagai penyampaian ajaran Islam dengan mengedepankan aspek esoterik dalam beragama, atau pendekatan dakwah yang mengedepankan nilai-nilai hikmah yang terkandung dalam hukum-hukum syariat Islam atau aspek eksoterik Islam (Siraj: 2012). Menyimpulkan strategi dakwah Wali Sanga, setidaknya ada tiga karakter utama pendekatan dakwah sufistik:

  1. Disampaikan dengan penuh kelembutan dan kesantunan. Artinya ajaran Islam disampaikan dengan tutur kata yang baik dan ditonjolkan dengan keteladanan. Tidak dilakukan dengan paksaan, caci maki, apalagi dengan kekerasan yang akibatnya menimbulkan permusuhan dan perlawanan dari mereka.
  2. Dilakukan dengan bertahap, menyesuaikan karakteristik, kepercayaan, kondisi sosial, adat istiadat serta tingkat intelektual sasaran dakwah sehingga hati mereka tersentuh, selanjutnya ajaran Islam mudah terserap ke dalam kalbu mereka.
  3. Toleran terhadap budaya dan tradisi masyarakat masyarakat sasaran dakwah. Artinya tidak menyakiti agama, kepercayaan, dan adat istiadat mereka. Demikian pula tidak berusaha untuk menghapus budaya dan tradisi mereka yang sudah berjalan lama, meski jelas-jelas bertentangan dengan Islam; akan tetapi membiarkannya untuk selanjutnya dimodifikasi sehingga sesuai dengan ajaran Islam.

Tiga karakter utama dakwah sufistik di atas tak lain adalah cara dakwah Rasulullah saw, sebagaimana tercermin dalam Ayat Al Quran serta beberapa hadis Rasulullah saw berikut ini:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125)

فَقُوْلَا لَه قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّه يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

“Maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS Tha-ha: 44)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”. (QS Ali Imran: 159)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

Dari Abi Hurairah ra., dimintakan kepada Rasulullah saw untuk melaknat orang-orang musyrik, maka Nabi menjawab: “Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus untuk menjadi rahmat.” (H.R. Muslim)

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِه

Dari Jabir ra., saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lain merasa aman (tidak terganggu) dari lisan dan tangannya.”(H.R. al-Bukhari)

Yang melatarbelakangi Wali Sanga mengembangkan strategi dakwah demikian ialah karena mereka menyadari bahwa kenusantaraan atau keindonesiaan yang multi etnis, multi budaya dan multi bahasa ini buat mereka adalah anugerah Allah yang tiada tara. Belum lagi kondisi alamnya yang ramah, iklimnya yang sedang tidak ada musim yang ekstrem, tidak terlalu panas atau dingin. Ditambah dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya sumber daya mineral. Ini yang mereka pahami sehingga mereka syukuri, dengan tidak merusak budaya yang ada atas nama Islam dan sebagainya (Siraj: 2015). Ini sesuai dengan firman Allah:

هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

“Ini karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (QS. An Naml: 40)

Semoga bermanfaat.

Oleh: Kyai M. Imaduddin (Gus Imad)
Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA, Direktur Pendidikan Dai Penggerak Nahdlatul Ulama (PDP-NU) dan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU (Periode 2015-2021)

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here