Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Seni Budaya

Seni Patingtung

Jakarta, Dakwah NU
Seni Patingtung diawali dengan sholawat dan doa, sebuah seni gerak tubuh (koreografi) dan pertunjukkan yang mencirikan keagamaan Islam.

Dalam sejarah seni dan kebudayaan Banten, Patingtung adalah seni yang masih belum diketahui dengan jelas berasal dari kata atau istilah apa. Namun masyarakat Banten, terutama para pelaku dan pegiatnya, memahami Seni Patingtung berasal dari tiga suku kata yaitu: pak, ting, dan tung. ‘Pak’ ialah suara Gendang Kulanter atau Talipak (kendang kecil yang diberdirikan), ‘Ting’ adalah suara Gendang Talipung (kendang kecil yang diberdirikan), dan ‘Tung’ adalah suara Kendangatau Bedug yang besar.

Gerakan-gerakan dalam Seni Patingtung didominasi oleh gerakan pencak silat, mulai dari gerakan pembukaan sampai penutupan, dan jurus silat yang dijadikan dasar sama seperti jurus-jurus silat pada umumnya. Dan karena itulah, Seni Patingtung identik dengan pencak silat pada umumnya. Sementara itu, dalam pementasannya, Seni Patingtung biasanya disajikan secara tunggal, duet maupun kelompok, yang kadang-kadang diselingi dengan seni tari yang atraktif, contohnya tari piring dan debus.

Umumnya Seni Patingtung berkembang di masyarakat Banten yang berbahasa Jawa. Menurut cerita dari mulut ke mulut (tradisi lisan atau oral), Seni Patingtung pada mulanya muncul sabagai alat para ulama untuk mengumpulkan masyarakat, seperti ketika sudah waktunya shalat selalu di tabuh bedung atau gong, yang berbunyi gong-gong, tung-tung, dan tong-tong.

Sekarang ini, Seni Patingtung sudah berkembang sebagai Seni Pertunjukan hiburan masyarakat, dan sebagian masyarakat memandang pertunjukan Seni Patingtung memiliki arti sebagai ungkapan rasa syukur atas peristiwa penting, seperti khitanan, kawinan, dan sebagainya. Jadi, Seni Patingtung dipertunjukan ketika upacara-upacara penting telah selesai dilaksanakan. Sebagai Seni Pertunjukan, Patingtung dikelompokkan menjadi tiga tahapan sebagai berikut:

Tahap Sebelum Pertunjukan
Tahap ini adalah fase mempersiapkan sarana, yaitu mempersiapkan tempat seperti panggung, dan ukuran panggung bervariasi: ada yang luas, ada yang disesuaikan dengan kondisi tempat dan kemampuan (ada ukurannya 6m lebar 4m dan tinggi panggung antar 1m sampai 2,5m). Setelah panggung sudah siap, dilanjutkan menghias panggung dengan berbagai bentuk janur dan buah-buahan seperti pisang dan spanduk. Selain itu juga disiapkannya gamelan, lampu penerangan, pengeras suara, termasuk juga sesajen dalam bentuk:

1. Air teh manis
2. Air teh pahit
3. Kopi pahit
4. Kopi manis
5. Kueh tujuh rupa
6. Telur ayam mentah, dan
7. Menyan

Tahap Pertunjukan
Tahap ini merupakan tahap pelakonan Seni Patingtung dalam bentuk tari, karawitan, dan ketangkasan dalam memainkan alat, dan sebelum pertunjukan dimulai diawali dengan do’a dan shalawat.

Pertunjukan Patingtung dibuka dengan pertunjukan tari tunggal yang diiringi dengan musik gembrung (musik trompet) dengan senggakan-senggakan dari lagu-lagu instrumental terompet, seperti: Adem Ayem, Numpak Sado, dan Uti-Uti Uri. Lalu dilanjutkan tarian sambutan yang dimainkan oleh 2 orang penari dengan gerakan-gerakan berkelahi menggunakan tangan kosong. Biasanya ada selingan acara dalam bentuk bobodoran dengan model dialog dan tari ketangkasan membawa piring, dan tarian berikutnya adalah tarian rampak yang dimainkan oleh 3 orang penari laki-laki yang diiringi gamelan pencak silat.

Babak berikutnya adalah pementasan Tari Pasangan yang menggunakan alat seperti Trisula dan Tongkat atau Toya yang terbuat dari bambu. Tari Pasangan ini mempertunjukkan perkelahian dengan menggunakan tekhnik menyerang dan menangkis. Pertunjukan diakhiri dengan tari tunggal yang dimainkan dengan golok, memperlihatkan kekebalan tubuh oleh sayatan dan bacokan golok ke anggota tubuh penari. Ada juga pertunjukan Debus dengan menampilkan ketangkasan mengupas kelapa dengan gigi, menggesek-gesek golok ke leher dan anggota tubuh yang lainnya, berguling-guling di atas duri paku, memakan bohlam, bara api, menggoreng kerupuk di atas kepala dan mengeluarkan kelelawar dari mulut.

Tahap Setelah Pertunjukan
Ini adalah tahapan membereskan semua perlengkapan yang digunakan yang melekat pada tubuh. Setiap pemain juga melepas peralatan-peralatan yang ada di panggung pertunjukan.

Busana
Busana yang digunakan dalam pertunjukkan Seni Patingtung didominasi oleh warna hitam yang terdiri dari:

  1. Baju: potongan kampret, yaitu baju potongan tanpa kerah, mempunyai 2 kantung di bagian bawah kiri dan kanan, serta bertangan panjang.
  2. Celana: potongan pangsi, yaitu celana dibuat tanpa kantong dan tanpa ikat pinggang
  3. Lomar/ikat kepala: terbuat dari kain batik loreng, berbentuk segi tiga atau segi empat yang dilipat mejadi segi tiga.
  4. Ikat pinggang: terbuat dari kain warna merah, berbentuk persegi panjang.

Oleh: Sulaiman Djaya
Penulis adalah pemerhati budaya di Kubah Budaya

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here