Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

InternasionalProfilProfil Lembaga

Sejarah Lembaga Dakwah PBNU Dari KH. Saifuddin Zuhri Sampai KH. Agus Salim

Rapat Kerja Pengurus Lembaga Dakwah PBNU Periode 2015-2020

Jakarta, LD-PBNU – Sejarah Lembaga Dakwah Nahdlatul PBNU, dari berbagai sumber yang ditelusuri, maka didapatlah saksi sejarah hidup perjalanan Lembaga Dakwah NU dari awal berdirinya. Beliau adalah KH. Ghozali Masroeri, Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama, salah seorang tokoh sepuh NU saat ini, pernah menyampaikan secara runut, seluruh lembaga dan badan otonom NU berfungsi untuk dakwah Islam dan khidmah kepada umat. NU sendiri bertujuan untuk hal tersebut karena didirikan oleh para ulama pesantren yang menghabiskan usianya dalam berdakwah melalui Nahdlatul Ulama.

Berdasarkan AD/ART NU yang mendapat pengesahan dari Hindia Belanda pada 1930, secara tersurat, tujuan NU berdiri adalah: Adapoen maksoed perkoempoelan ini jaitoe: ”memegang dengan tegoeh pada salah satoe dari madzhabnja Imam ampat, jaitoe Imam Moehammad bin Idris Asj-Sjafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Aboehanifah An-Noe’man, atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerdjakan apa sadja jang mendjadikan kemaslahatan Agama Islam.” Berdasarkan pendapat Kiai Ghozali di awal, dengan demikian, dakwah NU adalah mengupayakan segenap perangkatnya untuk tujuan Islam Ahlussunah wal Jamaah.

Namun, secara kelembagaan, NU merasa perlu untuk membentuk lembaga sendiri di bidang tersebut, maka terbentuklah lembaga yang kini disebut Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama atau LDNU (sekarang Lemnaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama LD-PBNU). Menurut NU Online, LDNU bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan agama Islam yang menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah. Sementara menurut Ensiklopedia NU, lembaga tersebut di antara tugasnya adalah mengkoordinasikan para dai dan daiyah dalam menjalankan dakwah kepada masyarakat baik secara tulisan maupun lisan hingga ke masyarakat terpencil.

KH. Agus Salim (Ketua Lembaga Dakwah PBNU dan KH. Said Aqil Siradj (Ketum PBNU)
KH. Agus Salim (Ketua Lembaga Dakwah PBNU dan KH. Said Aqil Siradj (Ketum PBNU)

Lalu sejak kapan lembaga tersebut eksis? Di dalam Ensiklopedia NU, tidak disebutkan tanggal dan tahun kapan lembaga tersebut dibentuk. Ensiklopedia itu hanya menyebutkan beberapa kiai yang pernah mengetuainya, yaitu KH. Saifuddin Zuhri, KH. Ahmad Ghozali, KH. Syukron Makmun (1990-2000), KH. Nuril Huda (2000-2010), Prof. Dr. KH. Zakky Mubarok (2010-2015). Selanjutnya, KH. Manarul Hidayat, KH. Maman Imanulhaq Faqih, dan saat ini KH. Agus Salim (Periode 2015-2020) .

Berdasarkan data ensiklopedia tersebut, dengan menyebut paling awal KH Saifuddin Zuhri, berarti aktivitas atau cikal bakal lembaga tersebut telah dimulai pada akhir masa penjajahan Belanda atau antara tahun 1930 hingga 1940-an. Bisa jadi pula beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.  Berdasarkan buku Guruku Orang-orang dari Pesantren, cikal-bakal lembaga dakwah NU, bisa dipastikan dimulai pada beberapa tahun NU berdiri. Di dalam buku tersebut, asal Banyumas Jawa Tengah tersebut mengatakan:

“Kami tergabung dalam ikatan mubaligh, namanya Nashihin, yaitu setelah di kampungku berdiri Nahdlatul Ulama. Tiap malam Selasa para mubaligh dibagi untuk mengunjungi beberapa desa. Kiai Khalimi tidak ketinggalan. Kami membuat kelompok, masing-masing 2 atau 3 orang mubaligh. Tentu saja umumnya berkendaraan sepeda. Kelompok paling “celaka” kalau di dalamnya termasuk kiai ini. Sebabnya, pertama: beliau tak pandai naik sepeda, dan kedua: beliau tak pernah mau membonceng sepeda, saru atau tidak pantas katanya. Lebih baik jalan kaki. Mau tak mau yang lain-lain solider jalan kaki. Berapa kali dianjurkan agar belajar naik sepeda, namun beliau tak mau. Mengapa? Biar saudara mengerti bahwa semua orang mempunyai kekurangan dan cacat. Cuma Nabi saja yang tak punya cacat, begitulah jawabnya. Yang menarik perhatian lagi adalah rokoknya. Beliau selalu mengisap rokok cengkeh, yang menurut anggapan masyarakat di kampungku rokok priyayi. Kadang-kadang rokok putih. Bukan rokok klembak-menyan. Anak-anak kadang-kadang nyeletuk: “Priyayi kok tidak bisa naik sepeda…!”

Tokoh lain yang merupakan “produk” dari didikan dakwah NU adalah KH Zainul Arifin, panglima Hizbullah kelahiran Barus, Sumatera Utara. Namun, ia memulai dari pengkaderan dakwah melalui salah satu badan otonom NU, yaitu Gerakan Pemuda Ansor (dulu disebut Ansor Nahdlatoel Oelama, ANO). Kemudian di samping kemampuannya sendiri, ia menjadi seorang yang dikenal sebagai aktivis NU, berdakwah untuk daerah Batavia dan Jawa Barat. Kelak ia kemudian menjadi Wakil Perdana Menteri pada masa pemerintahan Soekarno.

Nashihin
Berdasarkan Guruku Orang-orang dari Pesantren, lembaga dakwah NU pada mulanya disebut nashihin, para penasihat atau orang-orang yang memberikan nasihat agama. Maksudnya adalah para dai yang dikenal sekarang. Hal yang terkait nashihin tersebut, pernah dibentuk pada muktamar NU ketiga di Surabaya pada 1928. Pada muktamar tersebut, untuk mempercepat dan memperkuat dakwah Ahlussunah wal Jamaah, para kiai memutuskan untuk membentuk Majelis Khamis atau Komisi Lima. Komisi yang dipimpin Kiai Shaleh Banyuwangi tersebut beranggota Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi Kudus dan Kiai Muharram Kediri.

Berdasarkan buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam, majelis itu memutuskan membentuk Lajnatun Nashihin, semacam komisi propaganda untuk menyiarkan NU ke berbagai daerah. Anggota Lajnatun Nashihin ini terdiri dari sembilan orang KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Raden Asnawi, KH Ma’shum, KH Mas Alwi, KH Musta’in, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Halim Leuwimunding dan KH Abdullah Ubaid.

Sementara M. Rikza Chamami pada tulisannya Propaganda NU Lewat Jam’iyyatun Nashihin yang dimuat di NU Online, menyebut Jam’iyyatun Nashihin. Ia mengutip pendapatnya KH Maimoen Zubair demikian: “Jam’iyyah Nashihin ini adalah sebuah organisasi yang ada kaitannya dengan masalah pengajian. Dahulu namanya nasehat. Kalau sekarang namanya diganti menjadi pengajian”.

Bahkan, masih menurut Rizka, embrio Jam’iyyatun Nashihin sudah ada sebelum NU berdiri. Ia kemudian mengutip pendapatnya Amirul Ulum (2014) yang menyebutkan, di Jawa Tengah, sesepuh Jam’iyyatun Nashihin adalah KHR. Asnawi Kudus, KH. Ma’shum Ahmad dan KH. Khalil Masyhuri dibantu dengan ulama muda, KH. Zubair Dahlan (ayah KH. Maimun Zubair).

Lembaga Dakwah PBNU dan Media Sosial
Pada tahun 1991, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam satu artikelnya mengatakan, pada tahun 2010, NU mengalami transformasi keempat, yaitu teknologi informasi. Apa yang dikatakan Gus Dur tersebut, tepat adanya. Sejak tahun itulah media sosial merebak. Dan sebagaimana yang dikatakan Gus Dur pula, jangan sampai NU gagal seperti transformasi ekonomi yang digalakannya pada transformasi ketiga.  Jika dikaitkan dengan pendapat Gus Dur tersebut, Lembaga Dakwah NU, mau tidak mau harus memanfaatkan teknologi informasi. Dakwah melalui video yang disebarkan melalui media sosial menjadi keniscayaan. Namun demikian, dakwah konvensional pun tetap berjalan. Di tingkatan pusat, Lembaga Dakwah NU/PBNU rutin mengadakan kader dai. Tiap bulan lembaga tersebut mengadakan pengajian umum di halaman PBNU yang dimulai dengan tahlil, istighotsah, shalawat, dan ceramah umum.

Program Kegiatan Lembaga Dakwah PBNU (Periode 2015-2020)
Lembaga Dakwah PBNU dibawah kepemimpinan KH. Agus Salim, mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan. Banyak sekali terobosan program-program dakwah yang dilaksanakan seperti:

  1. Pendidikan Kader Dai (PKD)
  2. Pendidikan Penggerak Dai Nahdlatul Ulama (PDP-NU)
  3. Pelatihan Dai Milenial
  4. Pelatihan Dai Entrepreneur
  5. Pengirimiman Dai ke Daerah Terpencil
  6. Trauma Healing Korban Bencana
  7. Pengiriman Dai ke Luar Negeri Asia dan Eropa
  8. Kerjamasama Program Abrahamic Circle (Pengiriman Dai tiga agama Islam, Kristen, dan Yahudi di Asuralia, Amerika, dan Eropa)
  9. Pembinaan JRA
  10. Pembinaan Asbihu
  11. Pembinaan Rohis
  12. Pengajian Kitab Kuning
  13. Teleconference Ngaji Kitab Karya Mbah Hasyim Asy’ari Bersama Maulanal Habib Umar bin Hafidz
  14. dan kegiatan rutin setiap akhir bulan ISTIGHOTSAH
  15. serta kegiatan insidental lainnya

Semua program di atas sudah dan sedang dilaksanakan, program dakwah yang disesuaikan dengan kondisi zaman saat ini. Lembaga dakwah PBNU saat ini berjuang dengan label Dakwah Ramah Ahlusunnah Wal Jamaah, Dakwah Ramah Dan Sejuk Dahwahnya Islam Nusantara. (ARS)

Abdus Saleh Radai
Latest posts by Abdus Saleh Radai (see all)
Spread the love

Comments (1)

  1. Mabruk Abi Agus Salim

Comment here