Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Sebelum Resolusi Jihad, NU Sudah Bela Negara

Kediri, Dakwah NU
Berdirinya jam’iyah NU di Surabaya

26 Januari 1926, bisa dikatakan sebagai reaksi atas perkembangan modernisme Islam yg tarik menarik antara perkembangan politik di Timur Tengah pada awal abad 19 dgn dinamika perkembangan Islam di Indonesia, dimana beberapa tokoh reformis pada masa itu telah mendirikan beberapa organisasi Islam pembaharu ditanah air seperti Muhammadiyah, PERSIS (Persatuan Islam), Al Irsyad dll. Reaksi yg dimaksud itu ialah sikap protes dari tokoh2 Islam tradisional dari kalangan pesantren.

Pada awal dasawarsa 1920 an, KH Ahmad Dahlan (1868 – 1923), tokoh reformis pendiri dan pimpinan ormas Islam Muhammadiyah yg ia dirikan di Yogyakarta pada 1912, mulai memasuki daerah Jawa Timur, setelah sekitar delapan tahun, organisasi yg didirikannya itu hanya terbatas di Yogyakarta. Di Surubaya, ia kemudian juga menyerukn Islam modernis yg menekankan perlunya pengkajian Islam langsung dari Al Quran dan Hadis, bukan semata-mata dari kitab2 Fiqih. Seruannya ini segera mendapat sambutan, sehingga pada 1 Nopember 1921, bersama para pengikutnya, KH A. Dahlan mendirikan Cabang organisasinya di ibu kota Jawa Timur itu.

Para ulama dari kalalangan pesantren, sebenarnya menerima paham pembaruan dan pemurnian agama Islam, tetapi pembaharuan dan upaya menegakkan ajaran Islam itu, tidaklah harus berimplikasi pada perombakan dan penolakan secara total prinsip keagamaan yg mereka ikuti seperti Taqlid kpd ulama Salaf dan memelihara nilai2 tradisi yg mereka anut. Sedangkan

kelompok reformis ini, dgn tegas menolak unsur tradisi dlm pelaksanaan ajaran Islam krn dinilai telah keluar dari ajaran Al Quran dan cara2 yg dicontohkan Nabi saw. Oleh krn itu, kalangan tradisionalis mengkhawatirkan bhw gerakan itu akan mengganggu stabilitas kehidupan umat. Terlebih lagi terlihat adanya indikasi bhw gerakan ini mulai mempersoalkan tradisi keilmuan dikalangan pesantren seperti yg terjadi dlm suatu koggres Umat Islam Indonesia di Cirebon 1921 dimana gerakan para reformis mempersoalkan kitab2 kuning karya ulama Salaf sekaligus menganjurkan utk kembali hanya kpd Al Quran dan Hadis Nabi saw.

Maka pada 1926 berdirilah NU yg dipelopori oleh KH Hasyim Asy’ari (1871 – 1947) dan KH Wahab Hasbullah (1888 – 1971). Organisasi para kiyai pesantren yg didirikan dari hasil sidang 46 ulama dari berbagai daerah dan bertempat di Surabaya ini dirumuskan sbg organisasi yg berpedoman kpd faham Ahlis Sunnah wal Jamaah (Aswaja).

KH Hasyim Asy’ari sbg pelopor pendiri NU, ketika belajar ilmu agama Islam di Makkah, sebenarnya adalah teman satu perguruan dgn KH Ahmad Dahlan, pendiri ormas Islam pembaharu tsb. diatas, baik ketika ditanah air sewaktu keduanya belajar kpd KH Shaleh Darat (w. 1903) maupun sewktu berada di Makkah. Ketika berada di Makkah, keduanya belajar pada ulama besar yg sama yaitu Syekh Nawawi Banten (w. 1897), Syekh Mahfudz Tremas (w. 1920), dan Syekh Ahmad Khatib (w.1916) Minangkabau, akan tetapi kemudia masing2 dari mereka mempunyai pandangan yg berbeda sebagaimana dituturkan diatas. Akar perbedaan itu bermula dari perbedaan pandangan yg terjadi dikalangan guru2 mereka berdua dlm merespon ide2 pembaharuan Muhammad Abduh (1849 – 1905), tokoh pembaharu dari Mesir.

Syekh Ahmad Khathib dalam hal ini memperlihatkan sikap controversial, yakni disatu pihak ia menolak pendirian Muhamad Abduh yg menganjurkan melepaskan ikatan madzhab, tetapi disisi lain, ia menyetujui gerakan utk melenyapkan segala bentuk praktek Tariqat. Dlm hal terakhir ini, Syekh Khathib berbeda dgn Syekh Nawawi, dan Syekh Mahfudz Tremas.
Polarisasi pemahaman ditingkat guru ini, mempengaruhi kedua muridnya, dimana KH Ahmad Dahlan terpengaruh oleh pemikiran Syekh Ahmad Khatib, sedangkan KH Hasyim Asyari terpengaruh oleh pemikiran Syekh Mahfudz Tremas yg mengikuti tradisi Syekh Nawawi Banten.

Selain itu, Ketika di Makkah, KH A Dahlan secara teratur juga mempelajari buah pikiran Muhamad Abduh dan Jamaludin Al Afgani (w. 1897), guru Muhamad Abduh serta tokoh2 reformis lainnya dlm waktu yg relatif cukup, terutama saat bepergiannya yg kedua kalinya ke Makkah pada 1902 dan KH A Dahlan juga tercatat sbg anggota “Jami’ah Al Khairiyah”, yg berkedudukan di Jakarta, suatu orgnisasi sosial yg didirikan orang2 Arab di Indonesia dan disitu kemudian bergabung pula seorang reformis dari Sudan, Ahmad Sukarti yg kemudian pada 1914 medirikan jam’iyah Islam reformis “Al Irsyad”. Perbedaan persoalan prinsip yg muncul kemudian antara kelompok reformis dan kaum tradisionalis adalah seputar masalah ijtihad dan Taqlid.

Pertentangan pemikiran antara kedua kelompok tsb. yg pada awalnya lebih bernuansa keagamaan, pada akhirnya tdk bisa dipisahkan dari nuansa politik. Inilah sebabnya, NU sejak awal telah memiliki potensi politik yg tdk bisa dianggap kecil. Hanya saja, keterlibatan NU dlm kancah politik secara segnifikan baru dimulai pada 1939 ketika bergabung dlm Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI), suatu federasi bagi ormas2 Islam yg menyatukan umat Islam Indonesia dlm menghadapi. Belanda.
Meski telah masuk ke wadah Federasi yg didirikan sejak 1937 itu utk kegiatan politik dlm menghadapi penjajah, tetapi secara organisatoris, NU masih memutuskan utk tetap berkiprah diluar bidang politik.

Namun pada Muktamarnya yg ke 15, 1940 di Surabaya, secara khusus NU membicarakan ttg bentuk negara Indonesia yg akan datang setelah negeri ini nanti merdeka serta siapa calon presidennya. Ditengah-tenggah situasi masa2 perdebatan hangat berkaitan dgn pilihan dilematis, apakah Indonesia ini nanti akan dijadikan negara Islam atau bukan, didalam suatu rapat tertutup yg dihadiri oleh 11 ulama NU dibawah pimpinan KH Mahfudz Shidiq Jember, organisasi para kiyai ini telah memutuskan dua nama sbg calon presiden, yaitu Sukarno dgn memperoleh 10 suara dan satu suara utk Mohamad Hatta.

Dua tahun kemudian yakni pada 1942, Jepang mulai mengambil alih kekuasaan Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, MIAI merupakan satu-datunya organisasi yg boleh nerdiri. Tetapi setelah Jepang mencurigai bhw MIAI dimanfaatkan utk perjuangan bangsa Indonesia, akhirnya, organisasi ini dibubarkan Jepang pada 1943 dan pada saat yg sama, sbg penggantinya dibentuklah Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Ketika Jepang menyerah kpd Sekutu pada 15 Agustus 1945, kehidupan politik Indonesia diwarnai oleh perbedaan pandangan antara golongan Islam dan golongan Nasionalis sekuler, khususnya menyangkut bentuk negara yg akan segera diproklamasikan, batas2 wilayah negara, status kekuasaan kepala negara dll, yg sebetulnya perbedaan pandangan itu telah berlangsung sejak jauh sebelum Agustus1945. Sejak awal munculnya persoalan tsb, para pemimpin NU senantiasa terlibat aktif dlm berbagai kesempatan, termasuk ketika berlangsung diskusi panjang pada Mei 1945 antara Sukarno dgn tiga pemimpin muslim ttg definisi Pancasila.

Disitu, dua orang diantaranya adalah tokoh NU, yakni KH Wahid Hasyim dan KH Masykur, yg pada tahap selanjutnya, ketika dibentuk panitia 9 utk merumuskan Pancasila yg bersidang pada 22 Juni 1945, KH Wahid Hasyim masuk dlm salah satu anggota tim tsb. Dan pada 22 Oktober 1945, keluarlah maklumat Resolusi Jihad NU yg sangat terkenal itu, ketika Belanda datang kembali utk menjajah Indonesia dgn membonceng tentara sekutu yg kemudian terjadi pertempuran besar-besaran di kota Surabaya yg dikenal pertempuran 10 Nopember 1945.

Oleh:
KH Busyrol Karim Abdul Mughni
Rois Syuriyah PCNU Kab Kediri

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah