Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Seni Budaya

Ruqyah Selain dari Al-Qur’an dan Hadits itu Syirik?

Kang Doel

Jakarta, Dakwah NU
Selama ini penjelasan yang disampaikan kepada khalayak umum ruqyah itu harus berupa bacaan Alquran atau dari hadits, sehingga ruqyah yang tidak dari Alquran-Hadits dianggap sebagai bukan ruqyah bahkan sampai ada yang memvonis bahwa itu bentuk ruuqyah yang syirik, ini adalah pemahaman yang terkesan terburu-buru.

Kalau menelusuri lebih jauh, vonis ini bermuara dari kitab-kitab atau ustadz-ustadz yang cenderung dari kalngan scriptualis yang hanya memahami dalil secara textual, bahkan kadang serampangan pemahamannya saat tidak menyoundingkan dengan nash lain atau keterangan ulama yang kompeten.

Sebaliknya kalau kita menelusuri dari literatur ulama yang kompetensinya diakui dan tidak sekedar mengambil makna textual atau arti harfiah saja, akan kita dapati keterangan yang membaca dari sudut berbeda dan membuahkan kesimpulan berbeda pula dari pemahaman diatas.

Contoh soal dalam kitab Al ‘Aunul ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud jilid 10 hal 370 memberikan definisi simple tentang ruqyah itu adalah :

(الرقية: هي العوذة بضم العين أي ما يرقى به من الدعاء لطلب الشفاء)

Ruqyah itu doa perlindungan , dengan dibaca dlommah ‘ain-nya, maksudnya doa yang digunakan sebagai jampi-jampi untuk mencari kesembuhan

Disini dan banyak literature yang menyebutkan bahwa ruqyah itu tidak hanya dari Alquran hadits belaka. Lantas, apakah di era Rasulullah pernah ada ruqyah yang tidak dari Alquran dan tidak dari doa ajaran Rasulullah langsung? bahkan tidak diketahui artinya?
Ada bahkan dilegalkan oleh Rasulullah, salah satunya dalam kitab Majma’uzzawa-id wamanba’ul fawaid karya AlHaitsami 5-111 disebutkan

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: «عَرَضْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رُقْيَةً مِنَ الْحُمَةِ فَأَذِنَ لَنَا فِيهَا وَقَالَ: ” إِنَّمَا هِيَ مَوَاثِيقُ “. وَالرُّقْيَةُ: بِسْمِ اللَّهِ شَجَّةٌ قَرْنِيَّةٌ مِلْحَةُ بَحْرٍ».رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ.

Dari Abdillah bin Zaid, berkata,”Kami sampaikan kepada Rasulullah ﷺ satu ruqyah dari racun binatang berbisa, kemudian Rasulullah memberi izin kepada kami dalam ruqyah itu dan bersabda, “Itu hanyalah sumpah/perjanjian.” Dan ruqyahnya adalah “بِسْمِ اللَّهِ شَجَّةٌ قَرْنِيَّةٌ مِلْحَةُ بَحْرٍ” (Aththobroniy meriwayatkannya dalam Al Ausath, dan sanadnya hasan)

Hadits ini menguatkan hadits sejenis yang dengan redaksi sedikit berbeda dari jalur yang berbeda;

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: «ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رُقْيَةٌ مِنَ الْحُمَةِ، فَقَالَ: ” اعْرِضُوهَا عَلَيَّ “، فَعَرَضُوهَا عَلَيْهِ: بِسْمِ اللَّهِ قَرْنِيَّةٌ شَجَّةٌ مِلْحَةُ بَحْرٍ قِفْطًا، فَقَالَ: ” هَذِهِ مَوَاثِيقُ أَخَذَهَا سُلَيْمَانُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى الْهَوَامِّ، لَا أَرَى بِهَا بَأْسًا ” قَالَ: فَلُدِغَ رَجُلٌ وَهُوَ مَعَ عَلْقَمَةَ، فَرَقَاهُ بِهَا، فَكَأَنَّمَا نَشِطَ مِنْ عِقَالٍ».

Dari Abdillah bin Mas’ud berkata,”Diceritakan disisi Nabi ﷺ tentang sebuah ruqyah dari racun binatang berbisa, lalu Rasulullah bersabda,”tunjukkan itu kepadaku!” kemudian mereka menunjukkannya kepadanya بِسْمِ اللَّهِ قَرْنِيَّةٌ شَجَّةٌ مِلْحَةُ بَحْرٍ قِفْطًا , kemudian Rasulullah bersabda,” Itu adalah perjanjian/sumpah yang dibuat oleh Sulaiman ﷺ kepada binatang berbisa, aku tidak menilai ada masalah pada ruqyah itu.” Abdillah bin Mas’ud berkata, “lalu seseorang terkena racun binatang berbisa, sedang dia bersama dengan Alqomah, lalu Alqomah meruqyahnya dengan doa itu, kemudia dia seakan terlepas dari ikatan.”

Dalam menjelasskan hadits ini, As Syaukaniy dalam Tuhfatudzdzakirin bi’uddatil hishnil hashiin Min Kalami Sayyidil Mursalin jilid 1 hal 322 menjelaskan:

وَقَالَ هِيَ كَلِمَات لَا يعرف مَعْنَاهَا يرقي بهَا

Pengarang kitab Miftahul Hishni berkata,” itu adalah kalimat yang tidak diketahui maknanya yang digunakan untuk meruqyah.
Lebih lanjut Al Syaukaniy menjelaskan :

وَفِي الحَدِيث دَلِيل على أَنَّهَا تجوز الرّقية بالألفاظ الَّتِي لَا يعرف مَعْنَاهَا إِذا حصل التجريب بنفعها وتأثيرها لَكِن لَا بُد أَن يعرف الراقي أَنَّهَا لَيست من السحر الَّذِي لَا يجوز اسْتِعْمَاله

Dalam hadits ini ada petunjuk bahwa sesungguhnya boleh meruqyah dengan kalimat yang tidak diketahui artinya jika ada pengalaman akan kemanfaatan dan efeknya, akan tetapi haruslah peruqyah mengerti bahwa kalimat itu bukan sihir yang tidak diperbolehkan pemakaiannya, walaupun ada keterangan di Fathul bari Syarh Shahih Al Bukhori karya Syekh Ibnu hajar Al Asqolani yang menyatakan.

Ulama telah memiliki konsensus atas diperbolahkannya ruqyah manakala memenuhi tiga kriteria, yakni :
1. Ruqyah itu dengan memakai kalam Allah Ta’ala atau nama dan sifat-sifat-Nya,
2. Dengan Bahasa Arab atau Bahasa yang diketahui artinya dari selain Bahasa Arab
3. Tidak diyakini bahwa ruqyah itulah yang berimplikasi positif namun sebab dzat Allah

Namun bukan bermakna mutlak bahwa yang tidak diketahui artinya serta merta dilarang, meskipun begitu, dihindari lebih baik sebagai bentuk kehati-hatian jika tidak diketahui artinya, namun jika diketahui artinya maka itu sah disebut ruqyah, soal kemanfaatannya itu hak prerogratif Allah. Semoga menambah wawasan kita dan bermanfaat

Penulis:
KH. Abdul Wahab (Kang Doel)
Ketua Jam’iyyah Ruqyah Aswaja An Nahdliyah (JRA)

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here