Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Hikmah

Rais Syuriyah PCNU Kediri: Persaudaraan Ala Sahabat Ansor dan Muhajirin

Kediri, LD-PBNU
Nabi Muhamad Saw. mencanangkan program hijrah/pindah dari tanah air beliau, Mekkah ke Madinah yang berjarak sekitar 450 km, ketika kaum muslimin Mekah sangat tertindas, bahkan Nabi sendiri hendak dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Para sahabat yang hijrah dari Mekah ke Madinah yang kemudian mereka dikenal dengan sebutan sahabat “Muhajirin” itu, banyak pengorbanannya, krn mereka pindah kekota yang baru itu tanpa bekal yang memadai, namun para penduduk Madinah menyambutnya dengan hangat dan rasa hormat. Sejak itulah kota yang semula bernama “Yatsrib” itu dinamakan “Madinah”

Ketika Nabi Saw. baru tiba di Madinah, pertama kali yang beliau lakukan selain membangun masjid sebagai tempat beribadah sekaligus pusat semua aktivitas kaum muslimin, Nabi Saw. juga melakukan terobosan sosio politik yang sangat monumental, yaitu mempersaudarakan dan mempersatukan sahabat Muhajirin dengan kaum muslim penduduk asli Madinah yang terdiri dari berbagai suku yang kemudian disebut dengan sahabat “Ansor” (penolong).

Nabi Saw. mempersaudarakan antara kedua golongan sahabat tersebut. secara orang perorang, yakni, masing-masing dari setiap orang dari kedua golongan tersebut, dipersaudarakan dengan orang lain dari golongan yang lain. Abu Bakar As Shidiq misalnya, dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zuhair, Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’adz bin Jabal, Salman Al Farisi dengan Abu Darda r.a, dan seterusnya.

Mereka yang dipersaudarakan ada sekitar 90 orang, separuh dari Muhajirin dan separuh dari Ansor. Ikatan persaudaraan yang dibangun beliau, selain mempertautkan darah juga harta sekaligus. Persatuan dan persaudaraan antara kedua golongan tersebut. yang didasarkan pada kesamaan aqidah, ternyata jauh lebih kuat dibandingkan dengan jenis persaudaraan lainnya, bahkan lebih hebat daripada pertalian darah dan jauh lebih kuat dari sekedar pertautan ras dan etnis, sehingga ketika sebelumnya masing-masing golongan belum kuat posisinya, maka setelah itu bisa mendorong perubahan dan konsolidasi yang kemudian lahir kekuatan yang sangat besar.

Bahkan kaum Qiraisy Mekkah yang mengusir Nabi Saw. dan para sahabatnya dari tanah kelahirannya, 8 tahun kemudian Nabi dengan para sahabatnya berhasil menundukkan kaum penindas itu dengan menaklukkan kota Mekkah dibawah kekuasaan kaum muslimin, bahkan juga sampai seluruh jazirah Arab akhirnya berada dibawah kepemimpinan Nabi Saw.  Yang paling banyak menjadi pembicaraan setelah diadakannya ikatan persaudaraan itu adalah Abdurrahman bin Auf r.a. dari golongan Muhajirin yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Ar Rabi’ dari golongan Ansor.  Kepada saudara barunya itu, Sa’ad yang memiliki banyak harta dan mempunyai dua isteri, menawarkan hartanya utk dibagi dua dengan Abdur Rahman, bahkan ia menawarkan salah seorang isterinya kepada Abdur Rahman, mana dari keduanya yang ia sukai, akan diceraikannya agar dinikahi oleh teman barunya itu.

Abdur Rahman menjawab tawaran saudara barunya itu dengan berkata:

“Tidak. Semoga Allah memberkahimu, keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian”.

Abdur Rahman pun kemudian mulai berdagang dipasar kaum Yahudi Bani Qainuqa’. Tak seberapa lama, ia pun mendapatkan jodoh dan berkat kelihaiannya berdagang, ia kemudian dikenal sebagai pedagang yang paling sukses.

Selain Sa’ad bin Ar Rabi’, para sahabat Anshar lainnya juga minta kepada Nabi Saw. agar beliau membagi kebun² kurma mereka kepada saudara barunya dari golongan Muhajirin, tetapi Nabi ﷺ menjawab:

“Tidak perlu. Cukuplah kalian memberikan bahan makanan pokok saja dan sahabat² Muhajirin bisa bergabung dengan kalian dlm bekerja memanen buahnya”. Jawab Nabi Saw.

Sikap kaum Muhajirin sendiri juga terpuji. Dalam penghidupannya, dikalangan kaum Muhajirin ada yang mencari nafkah dengan bertani mengerjakan lahan milik kaum Ansor dan ada pula yang berdagang. Diantara mereka meski tidak sedikit pula yang kehidupannya serba kekurangan, tetapi mereka tidak menerima begitu saja pemberian dari saudara² yang ingin membantunya kecuali dlm keadaan betul² mendesak.

Dikalangan sahabat Muhajirin, memang tidak sedikit dari mereka yang tak mempunyai penghasilan tetap yang cukup utk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Diantara mereka ini ialah Abu Hurairah r.a. Lantaran krn tidak mempunyai kesibukan sehari-hari, Abu Hurairah yang sangat mencintai ilmu ini, hampir setiap harinya senantiasa menemani Nabi Saw. dimana saja beliau berada, sehingga ia sering makan bersama beliau, atau diberi makanan oleh beliau. Disebabkan sehari-harinya selalu bersama Nabi Saw, Abu Hurairah ra menduduki ranking pertama dari 5 sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Saw., yakni sebanyak 5374 Hadis.

Jalinan persahabatan antara sahabat Ansor dengan sahabat Muhajirin yang begitu baik itu terus berlanjut meski Nabi Saw. telah wafat. Hanya saja pernah terjadi perselisihan antara kedua golongan sahabat tersebut ketika Nabi Saw. baru saja wafat.  Ceritanya, sewaktu jenazah Rasulullah ﷺ masih terbaring dirumah Aisyah r.a. dan dikerumuni para sahabat yang sedang melayat, saat itulah muncul persoalan besar yang jawabannya tidak bisa diperoleh secara langsung dari dua peninggalan Nabi yakni Al Qur’an dan hadits, yaitu nengenai siapakah pengganti kepemimpinan beliau dan bagaimana sistem pengangkatannya. Padahal menurut para sahabat, tidak boleh kaum muslimin hidup tanpa ada seorang pemimpin lebih dari tiga hari.

Perundingan tentang pengangkatan Khalifah itu terjadi di balairung “Tsaqifah Bani Saidah” milik klan “Sa’idah” yang berjarak beberapa ratus meter diarah barat rumah Nabi Saw. Disitu sempat terjadi perdebatan diantara golongan Muhajirin dan Ansor, yang intinya, dari gologangan manakah orang yang akan ditetapkan sebagai khalifah. Masing-masing mengklaim bahwa orang dari golongannya lah yang paling berhak diangkat menjadi khalifah.

Namun setelah beberapa lama terjadi perdebatan dan pertentangan sengit antara kedua kelompok elit yang mewakili golongan masing-masing, akhirnya terjadilah kesepakatan dari kedua belah pihak bahwa khalifah diangkat dari golongan Muhajirin, lalu ditunjuklah Abu Bakar r.a. sebagai khalifah dan dibai’at langsung disitu oleh sekelompok kecil sahabat dari kedua golongan tersebut. Kemudian pada keesokan harinya, dilakukan bai’at umum terhadap Abu Bakar r.a. oleh kaum muslimin dimasjid Nabawi. Dan berdamailah kedua golongan tersebut, yang sebelumnya nyaris terjadi perpecahan diantara keduanya.

Penulis:
KH. Busyrol Karim Abdul Mughni
Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kediri

Spread the love

Comment here