Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Internasional

Putra Madura Lulus Camlaude di Universitas Zaitunah, Gus Dubes: Sangat Membanggakan Indonesia

Jakarta, Dakwah NU
Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, menghadiri ujian Magister mahasiswa Indonesia asal Madura di pascasarjana Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Zaitunah, Ahmad Khalilurrahman Abdul Qodir. Ia mengangkat tema, Abul Abbas Ibnu Suraij dan Pengaruhnya dalam Fikih Muamalah.

“Saya mempunyai tradisi, menghadiri sidang ujian mahasiswa Indonesia di berbagai kampus Tunisia. Hari ini saya menghadiri ujian Magister mahasiswa pascasarjana asal Madura di Universitas Zaitunah. Sungguh sangat membanggakan, karena mampu mempertahankan tesisnya di hadapan para guru besar Universitas Zaitunah”, ujar Dubes RI yang akrab dipanggil Gus Dubes.

Ia menambahkan, para penguji memberikan nilai cumlaude dengan apresiasi, karena Ahmad Khalilurrahman Abdul Qodir berhasil mempertahankan tesisnya dengan sangat memuaskan.

“Para penguji memperikan apresiasi, karena kajian tentang Imam Syafii termasuk hal baru di tengah warga Tunisia yang mayoritas bermazhab Maliki. Ini juga menunjukkan Zaitunah sebagai perguruan tinggi yang menjunjung tinggi tradisi akademis, karena memberikan ruang terbuka bagi para mahasiswa untuk melakukan kajian pada mazhab-mazhab di luar mayoritas”, ujar Dubes RI yang lulus dari Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir ini.

Zuhairi Misrawi Duta Besar Indonesia untuk Negara Tunisia foto bersama tim penguji tesis dan para mahasiswa

Sementara dalam tesisnya, Ahmad Khalilurrahman Abdul Qodir menegaskan, bahwa Ibnu Suraij merupakan ulama pembaru fikih mazhab Syafii pada abad ketiga hijriyah. Keulamaannya diakui oleh Imam Nawawi dan Imam Tajuddin al-Subki.

“Ibnu Suraij berjasa dalam menyusun kaidah-kaidah taklid dan takhrij. Menariknya, ia mengambil jalan baru dari berbagai pandangan di dalam mazhab, bahkan ia kadang berbeda pandangan dengan Imam Syafii dan beberapa pengikutnya”, ujar lulusan Pesantren Bata-Bata, Pamekasan, Madura.

Dubes RI untuk Tunisia menegaskan, bahwa para penguji memberikan apresiasi, karena tesis ini membuktikan bahwa bermazhab bukan memupuk fanatisme, melainkan menjaga integritas gagasan.

“Ibnu Suraij mengajarkan pada kita agar berilmu dengan menggunakan hati nurani dan akal sehat, sehingga tradisi bermazhab terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Imam Syafii saja punya pandangan lama dan pandangan baru”, pungkas dia. (red)

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here