Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

HikmahNasional

Prihatin, Gus Mus Minta Para Dai Lakukan ini dalam Berdakwah

Jakarta, Dakwah NU
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan Gus Mus menyampaikan satu pesan penting kepada para ustadz dan kiai dalam acara haul Kiai Achmad Masduqi Mahfud dan Nyai Hj. Chasinah Chamzah yang dilaksanakan secara daring, Kamis (03/12/2020).

Dalam acara peringatan wafatnya pengasuh Pondok Pesantren Syafi’iyah Nurul Huda tersebut, Gus Mus berpesan kepada para kiai dan ustadz untuk menghidupkan kembali akhlak Rasulullah SAW dalam berdakwah.

“Tolong para kyai-kyai, para ustadz, para Habaib, hadirkan lagi akhlaknya Rasulullah SAW, kasih sayangnya Rasulullah kepada sesama, dengan dakwahnya Rasulullah yang mengajak. Tolong untuk dihadirkan, tolong dihadirkan itu,” jelas Gus Mus terisak.

Pesan yang disampaikan Gus Mus tersebut tidak terlepas dari maraknya dakwah tanpa kasih sayang yang banyak terjadi saat ini. “Hari-hari ini kita menyaksikan banyak sekali orang yang ingin mengajak ke surga tapi dengan cara neraka,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Mus mengungkapkan bahwa saat ini ilmu dapat diperoleh secara mudah melalui internet dan setiap orang dapat ber-muthola’ah sendiri. Namun, di dalam medsos tidak ditemukan keteladanan dan rasa kasih sayang antar sesama.

“…di medsos justru kebalikannya, mereka mengatas namakan Nabi Muhammad SAW tapi dengan perilaku yang bertentangan sama sekali dengan Rasulullah SAW,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang ini.

Gus Mus juga menekankan kepada para pemimpin, kiai dan ustadz untuk sedikit banyak mencontohkan akhlak-akhlak Rasulullah SAW kaitannya dengan umat, anak-anak didik, dan orang-orang yang perlu diajak ke surga melalui perilaku, bukan dari ucapan saja. Hal ini bertujuan untuk memudahkan orang-orang awam lebih mengenal pribadi Rasulullah.

“Tolong tampilkan itu, bukan hanya dalam ucapan saja, tapi dalam perilaku, tolong tampilkan itu dalam perilaku, agar orang-orang awam yang lugu-lugu ini bisa meniru,” jelas Gus Mus.

Keteladanan Rasulullah SAW
Dalam kesempatan yang sama, Gus Mus mengajak umat untuk berusaha meniru akhlak dan perilaku Rasulullah yang penuh kasih sayang.

“Kita tahu bahwa kanjeng Nabi SAW itu ber-amar ma’ruf nahi munkar pun itu harus dipahami dengan landasan kasih sayang. Bahwa saya sering mengatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu sebenarnya manifestasi dari kasih sayang,” jelasnya.

Kemudian, Gus Mus juga menjelaskan gambaran akhlak yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Menurutnya, Rasul memiliki wajah yang selalu tersenyum, ramah, dan selalu menyambut. Rasul selalu bersabda dengan lembut, tidak pernah menyinggung orang, menghina ataupun mencaci.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin tersebut, akhlak Rasul yang sedemikian rupa sesuai dengan yang diajarkan dalam Al quran. “Al quran memang menyuruh untuk demikian, karena kanjeng Rasul SAW adalah pengamal pertama dari Al quranul karim,” tegas Gus Mus.

Beliau menyampaikan para kiai selalu berusaha meneladani akhlak Rasul tersebut, baik dengan meniru kasih sayang Rasul ataupun cara beliau menyebarkan ilmu.

Keteladanan Kiai Achmad Masduqi Mahfud dan Nyai Hj. Chasinah Chamzah
Memperingati wafat kedua saudaranya, Gus Mus menjelaskan dua hal yang dapat diteladani dari Kiai Achmad Masduqi Mahfud dan Nyai Hj. Chasinah Chamzah, yaitu kasih sayang dan disiplin. Menurut Gus Mus, beliau berdua berhasil menerapkan kasih sayang dan disiplin dengan seimbang.

“…karena dilandasi kasih sayang, disiplin itu tidak menjadi kaku. Ini seni yg harus dipelajari, bagaimana bisa menyanyangi dengan tetap disiplin atau sebaliknya,” jelas Gus Mus.

Gus Mus mengatakan bahwa seringkali orang ingin menerapkan disiplin namun tidak memperhatikan sentuhan kasih sayang atau sebaliknya, yaitu orang yang ingin menerapkan kasih sayang namun meninggalkan disiplin.

Lebih lanjut, Gus Mus menegaskan bahwa arti dari disiplin yaitu menerapkan semua hal dengan pas. Wajib harus dianggap wajib, sunnah harus dianggap sunnah, larangan dianggap larangan, dan baik dianggap baik.

“Jadi kadang-kadang orang yang menyanyangi seseorang, kadang-kadang tidak mempertimbangkan. Pokoknya yang penting bisa menyenangkan yang disayangi itu. Apa yang disenangi kesayangannya itu keliru atau benar, itu diikuti. Ini kasih sayang yang tidak disiplin. Ada yang berdisiplin tapi tanpa kasih sayang, akhirnya orang orang yang ada di bawahnya merasa dikejami olehnya, padahal maksudnya tentu baik,” jelasnya mengakhiri. (fqh)

Kontributor: Fadhilla Berliannisa (Mahasiswi Univ Diponegoro)
Editor: Faqih Ulwan

Spread the love

Comment here