Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Poligami dalam Peradaban Manusia

Jakarta, Dakwah NU
Sebelum datangnya Islam, manusia zaman dulu memang ada yang memiliki istri dengan jumlah puluhan. Namun, selang datangnya Islam, agama membatasi menjadi hanya empat istri saja.

Kiai Taufik Damas Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, menjelaskan tekait dengan hukum poligami yang sesungguhnya.

Praktik poligami identik dengan firman Allah yang terdapat dalam surah an-Nissa ayat 3. Di mana Allah membolehkan untuk menikahi perempuan-perempuan baik lebih dari satu.

Berbeda dengan Kiai Taufik Damas yang ternyata tidak sepakat akan hal itu. Menurutnya, an-Nissa ayat 3 tidak bisa disebut sebagai ayat poligami. Karena jika disebut ayat poligami, maka seakan-akan ayat tersebut bisa dijadikan acuan berpoligami. Padahal, ayat itu sejatinya adalah membatasi praktik poligami yang pada masa itu jumlahnya lebih dari empat.

Disebutkan juga saat zaman Nabi, ketika ada sahabat yang baru masuk Islam dan memiliki istri lebih dari empat, Nabi memerintahkan untuk menguranginya menjadi empat saja. Sehingga ayat ini merujuk pada pembatasan. Sayangnya, dalam praktiknya banyak orang menganggap sebagai ayat motivasi untuk melakukan poligami.

Dalam kajian fiqih, tidak ada yang menjadikan ayat itu sebagai kewajiban atau menyunnahkan poligami. “Apalagi dalam fiqih kontemporer, ulama saat ini hanya mengatakan bahwa poligami ini boleh tapi tidak bisa dilakukan secara sembarangan,” jelas beliau.

Dalam berpoligami yang perlu diperhatikan adalah konsep adil. Dalam an-Nissa ditegaskan bahwa nikahilah perempuan-perempuan baik dua, tiga, atau empat. Namun jika merasa tidak bisa adil, maka cukuplah satu saja. Karena yang bisa menilai adil hanyalah diri pelaku poligami.

Faktanya, perempuan tidak pernah mau dipoligami. Jika akhirnya memutuskan untuk merelakan suaminya poligami, tentu ada faktor pendukung kuat sehingga ia melakukan hal tersebut. Misalnya, istri yang didiagnosa secara medis mandul atau tidak bisa memberikan keturunan. Hal ini jelas di perbolehkan poligami dengan tujuan mencari keturunan.

Kita melihat pada era modern ini banyak sekali tokoh agama yang pada praktiknya melakukan poligami, bahkan sampai melakukan seminar edukasi terkait cara berpoligami.

“Islam mendorong kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, dan tindakan ini menurut saya tidak mencerminkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Padahal, Islam sangat menjunjung perempuan. Boleh berpoligami jika dalam kondisi darurat. Salah besar jika harus dikampanyekan,” tutur Kiai Taufik Damas.

Beliau menyarankan kepada para lelaki yang ingin berpoligami agar berpikir terlebih dahulu. Karena hal ini akan menyakiti istri. Seorang istri seharusnya dihormati serta dihargai.

Beliau menegaskan bahwa hal ini terkait dengan pendidikan keadaban. Keadaban adalah setiap orang harus menghargai apapun jenis kelaminnya. Bahwa laki-laki dan perempuan itu hanya berbeda dalam soal fisik, tapi dalam konsep berpikir kedua makhluk itu dikategorikan sama.

Dengan adanya pemahaman ini, diharapkan kita menjadi manusia yang beradab, saling menghargai tak saling menyakiti. Saling menjaga tak saling memberi luka. Sehingga terciptalah kehidupan rumah tangga yang baik serta sehat. (fbn)

Sumber: https://youtu.be/yBTtNrgbpdg

Kontributor: Nurul Hafizatul Muhajirah
Editor: Faqih Ulwan 

Spread the love

Comment here