Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Pesan untuk Kader dan Pengurus Nahdlatul Ulama

Jakarta, Dakwah NU
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, K.H. Achmad Chalwani, menyampaikan pesan penting untuk para kader dan pengurus Nahdlatul Ulama dalam rangka menyambut Harlah NU yang ke-95 tahun, Sabtu (31/01/21)

Dalam video yang diunggah oleh channel YouTube NU Online itu, Kiai Chalwani mengingatkan kepada para pengurus dan generasi penerus NU agar teguh memegang pesan-pesan dari Kiai NU tempo dulu. Salah satunya adalah pesan dari Simbah K.H. Ali Maksum Krapyak.

“Mbah Kiai Ali Maksum itu setiap pengajian-pengajian sering berpesan 4 hal,” ujarnya.

Pertama al-ma’rifatu bi nahdlatul ulama, makrifat ngerti (mengetahui) NU. Yang kedua, ats-tsiqatu bi nahdlatul ulama, mantap percaya dengan NU. Yang ketiga, al-jihadu fi nahdlatil ulama, berjuang di dalam nahdlatul ulama. Yang keempat, tidak kalah pentingnya as-shobru fi nahdlatil ulama, sabar tahan uji di NU.

Menurut beliau, keempat hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan. Seperti halnya yang disampaikan oleh Gus Ali Watucongol, bahwa berjuang di Nahdlatul Ulama tidak boleh cari keuntungan, namun berusaha memberi keuntungan untuk NU.

“Jangan mencari keuntungan lewat NU. Loh yang butuh itu kita. NU tidak butuh sama kita, NU sudah bagus. NU dijaga oleh Allah kok,” tegas beliau.

Selanjutnya, pesan dari Simbah K.H. Ahmad Shiddiq Jember yang pernah disampaikan pada tahun 1983 ketika Munas NU di Situbondo, yaitu bahwa NU merupakan organisasi keagamaan yang tidak pernah punya watak atau menghimpun suatu kekuatan untuk dihadapkan kekuatan lain. “Akan tetapi NU punya watak bagaimana menghimpun berbagai kekuatan yang ada untuk bersama-sama mewujudkan rahmatal lil alamin. Ini pesan Mbah Ahmad Shiddiq, saya dengar langsung tahun 1983,” ujarnya.

Sikap Nahdlatul Ulama Menghadapi Pemerintah
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Chalwani juga menyampaikan mengenai sikap Nahdlatul Ulama terhadap pemerintah sejak orde baru hingga sekarang.

Tahun 1983 saat orde baru, dalam menghadapi pemerintah NU sudah lebih dahulu memiliki dasar, yaitu addinu wal mulku tauamani la ghaliba li akhadihima. “Agama dan pemerintahan kan dua anak kembar. Tidak ada salah satu yang lebih unggul, tidak ada, la ghaliba khadihima. Itu dalam kitab Adabul Dunya Waddin,” ujarnya.

“Siapapun pemegang pemerintahan, ya kita harus mengimbangi. Maka NU ndak punya, tidak pernah rekayasa untuk menurunkan, melengserkan pejabat. tu bukan watak NU. Itu berarti kan menghadapkan NU dengan pemerintah. Itu bukan watak NU. NU punya watak mengingatkan itu saja,” lanjut beliau.

Di tahun 1998 pun, saat Soeharto lengser, lanjut beliau, NU tidak punya peran menurunkan, NU hanya mengingatkan. “Tidak ada keputusan NU yang menurunkan, untuk membangkang. Mana ada, ndak ada itu,” ujarnya.

Terakhir, Kiai Chalwani juga menuturkan mengenai bentuk dari negara Indonesia. Dalam hadits, al-muslimuna ‘alaa syurutihim, dijelaskan bahwa orang Islam itu tergantung perjanjian, syuruth, dan kesepakatannya. Sedangkan di Indonesia, bentuk perjanjian itu dinamakan Pancasila, yang semestinya sudah tidak boleh didiskusikan lagi, sebab Pancasila merupakan upaya final.

“Nah tokoh-tokoh bangsa kita tempo dulu, kan sudah bikin syuruth, perjanjian, namanya Pancasila. Maka salah satu pernyataan KH. Ahmad Shiddiq tahun 1983, di Situbondo waktu Munas NU, Pak Ahmad Shidiq mengatakan, Pancasila adalah upaya final dalam dalam melaksanakan syariat Islam, gitu. Itu di Situbondo, Mbah Ahmad Shiddiq, saya langsung dengar,” pungkasnya. (fqh)

Kontributor: Fadhilla Berliannisa
Editor : Faqih Ulwan

Spread the love

Comment here