Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Internasional

Perjalanan Cinta Sufi Agung, Imam Abul Hasan al-Syadzili

Tunisia, Dakwah NU
“Tunisia selalu dijaga oleh para wali Allah”. Ungkapan ini sangat populer di Tunisia, sembari menjadi keyakinan warganya, bahwa negeri tercintanya akan selalu dalam kedamaian dan lindungan Tuhan. Dan, ungkapan tersebut bukan sekadar isapan jempol, melainkan sebuah fakta yang mengakar kuat dalam keberagamaan warganya.

Salah satunya yang paling menonjol dan menjadi kebanggaan, tidak hanya bagi warga Tunisia, melainkan warga dunia, yaitu Imam Abul Hasan al-Syadzili (1196-1258). Nama aslinya, Ali bin Abdillah bin Abdul Jabbar. Ia kemudian lebih dikenal dengan nama, “Abul Hasan”, karena merujuk pada nama aslinya “Ali”. Ia sendiri garis keturunannya tersambung pada Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib, putera Sayyidah Fathimah Azzahra.

Warga Tunisia patut berbangga, karena nama akhir “al-Syadzili”, yang kemudian menjelma sebagai nama salah satu tarekat sufi terbesar di dunia, tarekat al-Syadziliyyah, diambil dari nama kawasan dekat Kota Tunis, yaitu Syadzulah. Kawasan ini sangat bersejarah karena menjadi tempat Imam Abul Hasan melakukan khalwat, menyendiri bermunajat kepada Tuhan selama kurang lebih enam bulan, hingga akhirnya mendapatkan mandat “wali” untuk menyebarkan jalan tasawuf kepada umat Islam.

Alhamdulillah, saya sudah berziarah ke zawiyah, tempat Imam Abul Hasan al-Syadzili melakukan khalwat tersebut. Sebelum itu, saya mengikuti lantunan dzikir ala tarekat al-Syadziliyyah, yang dipimpin langsung oleh keturunan dan para syaikh yang mendapatkan ijazah dari para murid-murid Imam Abul Hasan al-Syadzili, yang mana sanadnya bersambung kepada sosok waliyullah tersebut.

Sejak saat masih berada di Indonesia, saya sudah dikabarkan oleh para mahasiswa Universitas al-Zaitunah dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia, bahwa di kota Tunis ada tempat yang sangat bersejarah, yaitu napak tilas Imam Abul Hasan al-Syadizili. Sebab itu, setibanya di Tunisia, saya memprioritaskan ziarah sekaligus ikut melantunkan dzikir ala tarekat al-Syadziliyyah.

Istimewanya, para syaikh menyambut kehadiran saya dan rombongan dengan penuh suka-cita. Konon, saya adalah Duta Besar RI pertama yang berziarah ke zawiyah Imam Abul Hasan al-Syadzili. Saya mendapatkan hadiah buku, mognum opus Imam Abul Hasan al-Syadzili, Nibras al-Atqiya wa Dalilul Atqiya. Buku ini berisi bacaan dzikir Imam Abul Hasan al-Syadzili, yang terdiri dari al-Hizb al-Kabir, Hizbul Birr, Hizbul Hamd, Hizbul Fath, Hizbut Tawassul, Hizbut Luthf, Hizbut Tawhid, Hizbun Nashr, Hizbul Bahr, Hizbul Ikhfa’, dan Hizbul Khafi.

Saya sendiri sejak masih kecil selalu diperintahkan oleh kakek dan ayah untuk membaca Hizbul Bahr dan Hizbul Nashr. Keduanya diyakini dapat menjadi pelindung diri dari berbagai gangguan, cobaan, dan kejahatan, sekaligus menjadi jalan untuk meraih kesuksesan dan kemenangan. Saat itu, saya belum tahu jika bacaan tersebut merupakan karya besar Imam Abul Hasan al-Syadzili.

Saya benar-benar bahagia saat bisa terhanyut kembali dalam suasana spiritualitas para pengikut tarekat Syadziliyyah. Ada kenikmatan batin yang luar biasa. Dalam menunaikan tugas negara, diperlukan spiritualitas yang tinggi, sehingga saya dapat melaksanakan amanat suci tersebut. Yang membuat takjub saya, para pengikut tarekat Syadziliyyah tidak hanya dari kalangan biasa, melainkan juga kelas menengah, di samping saya melihat para perempuan juga memenuhi masjid. Mereka hanyut dalam lantunan dzikir, yang benar-benar mencerahkan relung batin.

Tunisia menjadi salah satu kota spiritual bersejarah dan penting di dunia, karena sosok Imam Abul Hasan al-Syadzili. Di kawasan al-Syadulah, ia memperkokoh jalan fikih dan jalan tasawuf. Dari sini pula, ia menyebarluaskan jalan spiritual, yang mana salah satu muridnya dari kalangan perempuan, yang kemudian menjadi salah satu sufi perempuan terkemuka, yaitu Aisyah al-Manubiyah. Lalu, ia melanjutkan petualangannya ke Alexandria dan wafat di Humaitara, Mesir dalam perjalanan melaksanakan ibadah haji ke Mekkah.

Dari Mesir, ia mempunyai murid yang kelak menjadi titik-tolak tersebarnya tarekat al-Syadziliyyah ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Syaikh Abul Abbas al-Mursi, Syaikh Izzuddin bin Abdussalam, dan Ibnu Athaillah al-Sakandari, merupakan sosok-sosok penting yang menjadikan bacaan dzikir dan ajaran Imam Abul Hasan al-Syadzili menjadi bagian penting dalam kokohnya Islam sebagai jalan cinta. Islam menjadi agama yang menebarkan kasih-sayang pada seluruh makhluk Tuhan, rahmatan lil ‘alamin.

Abdul Halim Mahmud dalam al-Madrasah al-Syadziliyyah al-Haditsah wa Imamuha Abul Hasan al-Syadzili menegaskan, bahwa jalan tasawuf yang diajarkan oleh Imam Abul Hasan al-Syadzili merupakan jalan moderasi, karena ia menggabungkan antara syariat dan tarekat. Siapapun yang hendak menjalani tarekat sejatinya dapat memahami dan mengamalkan syariat dengan baik dan benar. Seorang sufi harus harus mempunyai pengetahuan yang baik terhadap syariat.

Menurut Imam Abul Hasan al-Syadzili ada dua yang harus dipenuhi bagi siapapun yang meraih cinta Tuhan. Pertama, ia harus benar-benar tidak berlebih-lebihan dalam mencintai dunia, karena cinta dunia yang berlebihan merupakan pangkal dari segala kekeliruan. Kedua, tidak rela menjadi bodoh, karena kebodohan merupakan pangkal keterpurukan. Karena itu pula, selain mencerahkan batin melalui khalwat, Imam Abul Hasal al-Syadzili juga mempunyai minat baca yang sangat tinggi. Ia juga mengajar murid-muridnya.

Pada akhirnya, jalan cinta yang diajarkan Imam Abul Hasan al-Syadzili mempunyai dua dimensi. Yaitu, dimensi ketuhanan, yang di dalamnya mengajak kita agar kembali kepada Allah (al-hijrah ilallah) dan dimensi kemanusiaan agar kita berperan dalam mewujudkan peradaban kemanusiaan yang kokoh.

Semua itu benar-benar terjadi, karena tarekat al-Syadziliyyah mempunyai peran yang sangat besar dalam membangun keberagamaan yang humanis dan nasionalis. Tunisia dan Indonesia merupakan contoh yang sangat baik untuk itu. Di Tunisia, para pengikut tarekat al-Syadziliyyah mempunyai karakter yang sangat menonjol, yaitu cinta Tanah Air. Mereka menjaga Tunisia dari anasir-anasir ekstremisme sembari membangun solidaritas kebangsaan. Begitu pula di Indonesia, kita mendapatkan para pengikut Tarekat al-Syadziliyyah, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama menjadi garda terdepan dalam menjaga Tanah Air dan membangun moderasi beragama.

Sebagai Duta Besar RI untuk Tunisia, saya ingin agar diplomasi spiritual antara Indonesia-Tunisia di masa mendatang dapat dilakukan dengan mendorong agar tasawuf ala Tarekat al-Syadziliyyah dapat memperkokoh hubungan bilateral di antara kedua negara. Yaitu, spiritualitas yang dapat membangun jalan cinta dan moderasi. Bismillah.

Oleh: Zuhairi Misrawi
Duta Besar RI untuk Tunisia

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here