Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW: Momentum Introspeksi

Fuad Thohari

PERAYAAN MAULID NABI SAW: MOMENTUM INTROSPEKSI

Jakarta, Dakwah NU
Dewasa ini peringatan hari lahir (maulud) Nabi Muhammad saw. tanggal 12 Rabi’ul Awal merupakan satu dari tiga hari raya umat Islam. Meskipun perayaan maulid berbeda dengan Idul Fitri dan Idul Adha dan tidak ditentukan nash, namun dirayakan hampir di seluruh dunia.

Sulit dipastikan kapan perayaan maulid Nabi saw mulai diselenggarakan. Menurut sejarawan Mesir Hasan as-Sandubi, perayaan maulid pertama kalinya diselenggarakan penguasa dinasti Fathimi Mesir, Mu’iz li-Dinillah (341/953-365/975). Motivasinya tidak lain agar dirinya populer di mata rakyat. Sementara menurut Nico Kaptein –orientalis Belanda– perayaan maulid baru terjadi pada abad V Hijrah atau abad XI Masehi, ketika dinasti Fathimi dipimpin Al-Amir tahun 517 H. Perayaan maulid ketika itu selalu digabung dengan maulid leluhur penting dinasti Fathimi Isma’ili; Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Meskipun rasa hormat kepada ahlu al bait juga diwajibkan bagi kaum Sunni, pilihan atas keempat orang di atas dan bukan yang lain, dalam konteks ini jelas untuk menunjukkan supremasi teologi Isma’ili yang bercorak Syi’ah.

Setelah dinasti Fathimi dengan idiologi-teologis Syi’ah runtuh dan digantikan penguasa Sunni, perayaan maulid tetap berlangsung dan untuk pertama kalinya diperingati Nur ad-Din (511H/1118M-569H/1174M) penguasa Siria. Berbeda dengan dinasti Fathimi yang bercorak Syi’ah, perayaan maulid yang diselenggarakan Nur ad Din hanya dikhususkan kepada Nabi saw dan tidak disertakan perayaan maulid tokoh penting lain dalam tradisi Syi’ah, misalnya: Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain.
Seremonial maulid dilaksanakan malam hari, jalan-jalan dihiasi lentera, para tamu ditempatkan secara khusus dan diberi hadiah. Selama pesta berlangsung dideklamasikan untaian syair untuk memuji penguasa.

Peringatan maulid akhirnya berkembang luas. Di Mosul, maulid diselenggarakan Umar al-Malla pada paro abad VI H/XII M. Kira-kira 20 tahun kemudian, peringatan maulid diselenggarakan di Mekah, tepatnya pada bulan Rabi’ ul Awwal tahun 579 H/Agustus 1183 M. Menarik untuk dicatat, perayaan maulid di Mekah belum ditetapkan satu tanggal saja; maulid diperingati tiap Senin selama bulan Rabi’ ul Awal, 4 atau 5 kali.

Menurut Jalaluddin as- Suyuthi, tradisi perayaan maulid berawal dari inovasi kreatif Mudaffar ad Din Kokburi –penguasa adil dan terpelajar (malik al-‘adil al-‘alim) dan terkenal sangat bersih– untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pendapat Imam Suyuthi ini –menurut Nico Kaptein—sarat dengan muatan politis. Sebab andaikata Imam Suyuthi –sesuai fakta sejarah– menyebutkan maulid dari dinasti Fathimi, pembelaannya terhadap maulid kurang meyakinkan. Karena dinasti Fathimi beridiologi-teologis Syi’ah yang –di kemudian hari–dinilai negatif-reduktif hampir semua cendekiawan Sunni. Imam Suyuthi sendiri bahkan mempunyai pandangan yang sangat meremehkan dinasti Fathimi. Dalam pengantar salah satu karyanya Tarikh al Khulafa’, Imam Suyuthi menyatakan tidak akan membahas dinasti Fathimi karena imamat mereka illegal. Ada empat argumen yang dimajukan. Pertama, garis keturunan mereka diragukan. Sehingga nama Fathimipun tidak benar dan lebih tepat jika mereka dijuluki Banu ‘Ubaid; kedua, kebanyakan Banu ‘Ubaid termasuk kelompok atheis (zanadiqah) yang membelot dari Islam; ketiga, mereka menuntut menjadi khalifah ketika sudah ada seorang imam; dan keempat, mereka melanggar satu ketentuan yang menyatakan, “Siapapun yang mengklaim sebagai khalifah selama pemerintahan Abasyiah”, dianggap melakukan tindakan makar (subversif).

Ketika menulis fatwa maulid, Imam Suyuthi juga sadar adanya perayaan maulid yang diselenggarakan Umar al Malla’. Perayaan ini sengaja ditutupi karena di kemudian hari Umar al Malla’ diremehkan. Ibn Rajab menganggap dia condong kepada inovasi-destruktif (bid’ah sayiah). Kalau Suyuthi mengaitkan dengan tokoh ini –kata Nico– reputasi kesunniannya bisa diragukan. Dan pada gilirannya pembelaannya terhadap maulid Nabi juga menimbulkan skeptis. Inilah serangkaian analisis Nico Kaptein ketika menyikapi pembelaan Suyuthi terhadap kontroversi perayaan maulid Nabi dengan mengaitkan latar historis kemunculannya kepada kharisma Muzaffar. Penguasa Sunni yang tidak memiliki cacat moral dan dikisahkan begitu indah dalam lembaran sejarah.

Selanjutnya fenomena perayaan maulid Nabi saw berkembang dan diperingati mayoritas masyarakat Islam, mulai: dinasti ‘Azafi di Sabtah tahun 674 H/1250 M, dinasti Marini dan Wattasi 691 H/1292 M, dinasti Nasri di Andalus pada paro ke dua abad VIII/XIV, dan meluas ke seluruh dunia tidak terkecuali umat Islam Indonesia.

PERAYAAN MAULID NABI SAW BID’AH?
Maulid Nabi saw dalam realitasnya merupakan perayaan kontroversial dengan reputasi heterodoks dan menyisakan polemik di kalangan ulama. Salah satu argumen penting menentang maulid; Al-Quran dan As-Sunnah tidak pernah menyebutkan perayaan ini. Apalagi Nabi Muhammad saw dan masyarakat zaman dahulu (salaf al-umat) tidak pernah merayakannya. Taj ad Din ibn Umar Ali al-Lakhmi al-Iskandari al-Maliki (w. 731 H/1333 M) mengklaim, perayaan maulid sebagai inovasi destruktif (bid’ah madzmumah) sebagaimana dinyatakan dalam karyanya, Al-Maurid fi al-Kalam ‘ala ‘Amal al-Maulid. Sementara itu, Imam Suyuthi menganggap sebagai bid’ah hasanah, ketika diminta memberikan fatwa perayaan maulid sebagaimana dinyatakan dalam kitabnya, Husnu al-Maqasid fi ‘Amal al-Maulid. Bahkan Abu Thayib Muhammad bin Ibrahim as-Sabti al-Maliki (w. 695 H) –guru Ibn Hayan– juga mengizinkan dan meliburkan sekolah saat perayaan maulid Nabi saw.

MAULID DIRAYAKAN SECARA KOLOSAL
Maulid Nabi dirayakan Muzaffar ad-Din Kokburi di Irbil secara kolosal pada tahun 604 H/1207 M atau abad VII H/XIII M. Menurut sejarawan Ibn Khalikan, perayaan ini diselengarakan tiap tahun dan menyedot animo masyarakat dari pelbagai penjuru kota; Mosul, Nisabin, dan Baghdad. Bahkan kedatangan mereka sudah terlihat sejak bulan Muharam. Muzaffar menyediakan akomodasi dan konser hiburan bagi para tamu. Pestanya dirayakan meriah, pada tanggal 8 dan 12 Rabi’ ul Awal. Menurut informasi Sibt Ibn Al-Jauzi (582 H/1186 M–654 H/1257 M), Muzaffar menghidangkan 5000 kambing panggang, 10.000 ayam, 100 kuda, 100.000 pinggan, dan 30.000 piring manisan. Ulama dan sufi terkemuka mendapat jubah kehormatan dan hadiah. Ditampilkan konser untuk para sufi dari sore sampai menjelang Subuh. Muzaffar –sang khalifah—begitu familiarnya ikut menari bersama mereka. Untuk merayakan maulid Nabi ini, Muzaffar menghabiskan 30.000 Dirham.

Bagaimana trend perayaan maulid Nabi saw di tengah masyarakat kita? Apakah yang dilakukan Muzaffar pernah terjadi di sini? Ataukah perayaan maulid Nabi selama ini hanya disuguhi ceramah, konser musik, lawakan yang menggelikan atau provokasi, dan caci-maki? Apa manfaatnya, jika perayaan maulid Nabi diisi seremonial lain yang menanggalkan nuansa Islam; tidak ada lagi bacaan Al-Qur’an dan Barjanji, sedekah, dan nihil dengan aktifitas yang berdimensi sosial dan moralitas kepada sesama?

MOMENTUM INTROSPEKSI
Allah menyatakan dalam surat Al-Ahzab, 33:21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. Dalam satu riwayat hadis bersumber dari ‘Aisyah r.a. ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, Aisyah menjawab, “Akhlaqnya Al-Qur’an”. (Musnad Ahmad, Juz VI, h. 216). Ulama kemudian menafsirkan akhlak Rasulullah dengan ayat 1-10 surat Al-Mukminun.

Rutinitas ritual perayaan maulid Nabi saw hendaknya dijadikan momentum introspeksi dalam meneladani Rasulullah Muhammad saw sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an ayat 1-10 surat Al-Mukminun. Sehingga resultan dari seremonial perayaan maulid Nabi saw diharapkan; pertama, membentuk masyarakat egaliter, bermoral, khusyu’, tawadlu’ (low profile) dan tidak ada anarki (Q.S.23:2). Bukankah sholat yang dilakukan dengan khusu’ akan mencegah perbuatan keji dan mungkar? (Al-‘Ankabut, 29:45). Kedua, tercipta lingkungan yang kondusif; damai, tentram, santun, dan tidak ada friksi. Seremoni peringatan maulid Nabi harus dijauhkan dari caci-maki, provokasi, dan aktifitas lain yang tidak bermanfaat (Q.S.23:3). Ketiga, dapat membangkitkan gairah (spirit) umat Islam dalam berinfaq, sedekah, zakat, dan aktifitas lain yang bernuansa moral dan berimplikasi bagi kehidupan sosial (Q.S.23:4). Bahkan sedapat mungkin, perayaan maulid Nabi kali ini dijadikan solusi dari situasi krisis ekonomi yang sekarang melanda bangsa kita Indonesia. Jangan sekedar diisi pidato, ceramah, atau konser musik, lalu bubar.

Perlu ada kesadaran publik, ritus perayaan maulid Nabi saw sebagai instrumen muhasabah, introspeksi, dan merenungkan nasib sesama yang diikuti dengan sumbangan nyata berupa materi lewat institusi sedekah, infaq, maupun zakat. Perayaan maulid Nabi bukan sekedar seremonial formal, tetapi juga berdimensi moralitas yang diletakkan pada fungsi pencerahan kemanusiaan. Inilah realisasi konkret sikap seorang muslim dalam meneladani Rasulullah Muhammad saw lewat perayaan maulid. (ASR)

Penulis:
Dr. KH. Fuad Thohari, MA
Pengurus Lembaga Dakwah PBNU

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah