Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Penjelasan Gus Nadir Soal Ibadah dalam Situasi Tidak Aman

Jakarta, Dakwah NU
Rais Syuriyah PCINU Australia dan New Zealand, KH. Nadirsyah Hosen yang akrab disapa Gus Nadir menjelaskan cara beribadah di tengah pandemi menurut Islam dalam kajian bertajuk Tren Terkini Kajian Hukum Islam di Era New Normal.

Dalam pertemuan virtual tersebut, Gus Nadir, Prof. Amin Abdullah dan Rektor IAIN Palu memberikan penjelasan mengenai berbagai persoalan yang timbul di masa pandemi saat ini. Sebagai penyempurna pembahasan, Gus Nadir menambahkan poin-poin yang belum disentuh oleh Prof. Amin Abdullah dari segi praktisnya.

Di awal pembahasan, Gus Nadir menyampaikan bahwa terdapat persoalan dasar yang terjadi masa pandemi Covid-19. Hal itu adalah perdebatan masalah meteorologi khususnya persoalan ushul fiqih sebagai ungkapan problematika yang muncul di tengah masyarakat. Berbagai persoalan ibadah yang terjadi menimbulkan pertentangan mengenai penempatan hifdzun-din (pemeliharaan agama) dan hifdzun-nafs (pemeliharaan jiwa).

“Kita sepakati lima hal yang harus dijaga dalam maqashidus syariah. Tentang ini, para ulama berselisih mengenai urutannya, khususnya menempatkan hifdzun-din (pemeliharaan agama), apakah menjaga agama ditempatkan pada urutan pertama, atau diurutan pertama itu kita tempatkan hifdzun-nafs (pemeliharaan jiwa)?,” ungkap Gus Nadir.

Menurut Gus Nadir, terjadi benturan antara penempatan keduanya. Untuk itu, kemudian, beliau menyampaikan kaidah menarik yang dipakai oleh Syekh Prof. Dr. Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir dan Syekh Al-Qaradawi.

“Terjadi benturan antara keduanya terlihat di pandemi corona ini. Para ulama kontemporer, seperti oleh Syekh Prof. Dr. Ali Jum’ah, mantan mukti Mesir dan Syekh Al-Qaradawi, keduanya menggunakan satu kaidah menarik,” tuturnya.

“Jadi, secara harfiah, sehatnya badan ini diutamakan daripada sehatnya agama. Indikasinya, jika terjadi pertentangan antara hifdzun-din dan hifdzun-nafs maka yang dimenangkan hifdzun-nafs. Karena, bagaimana kemudian kita bisa beribadah dengan aman dan nyaman jika kondisi badan dan masyarakat kita tidak aman dan nyaman”, tambahnya menjelaskan.

Menurut beliau, para ulama telah paham semua mengenai persoalan kaidah-kaidah ini, bahkan mumpuni atau ngelotok (hafal di luar kepala).

Selanjutnya, Gus Nadir juga menyampaikan kaidah-kaidah yang memiliki perbedaan, misalnya kaidah al mafasid muqaddam ‘ala jaib al-mashalih, yang berarti kemaslahatan yang nyata wajib didahulukan, daripada mafsadah yang belum nyata.

“Menurut ulama yang mengkanter dengan kaidah ini, mereka beranggapan kemaslahatan masalah sholat jumat berjamaah di masjid itu adalah yang muhaqaqah (nyata), sementara kerusakan (mafsadah) akibat corona itu belum nyata, paling tidak, tidak mereka lihat di daerah mereka”, terang Gus Nadir.

Dari penjelasan beliau, diketahui bahwa menurut para ulama yang menggunakan kaidah ini, kemaslahatan nyata seperti sholat berjamaah atau sholat jumat di tengah pandemi harus tetap dilaksanakan dibandingkan lockdown.

“Mereka beranggapan covid ini adalah penyakit orang kaya, orang yang suka travelling, suka melakukan perjalanan lintas provinsi, lintas daerah dan suka bersinggungan atau berinteraksi melewati batas-batas daerah atau komunitas itu yang memiliki potensi terkena. Sementara mereka yang hanya berangkat dari rumah ke sawah ke masjid, paling-paling kemudian jarang  ke pasar seringnya mengambil sayur dari rumah, apakah juga harus lockdown, harus tinggal di rumah?”, jelas Gus Nadir.

Menanggapi perbedaan tersebut, Gus Nadir menjelaskan bahwa hal tersebut menyangkut anggapan mereka mengenai tidak ada kejelasan mengenai siapa yang berhak menentukan mafsadah (kerusakan) yang diakibatkan corona.

Selanjutnya, untuk menjawab semua perdebatan tersebut, Gus Nadir menjawab untuk mengembalikan persoalan kepada persatuan kaidah-kaidah tadi.

“Berbagai persoalan mengenai covid ini kita bisa kembalikan kepada persatuan kaidah tadi, yang kemudian dalam tataran fikih praktis itu menyasar kepada sejumlah area, baik masalah fikih ibadah, seperti yang dicontohkan Prof. Amin masalah wudhu dan virus, soal penguburan jenazah dan lain-lain. Semuanya bisa dikembalikan kepada perdebatan kaidah-kaidah tadi”, jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Nadir juga menyampaikan menganai peran ulul amri di tengah perdebatan yang ada. Dijelaskan bahwa, ulul amri adalah orang yang memberi keputusan dan sifatnya mengikat. Meskipun begitu, sosok ulul amri kemudian menjadi pertanyaan susulan.

“Tapi ternyata masih dipertanyakan juga. Misalnya yang disebut ulul amri sekarang itu yang mana? Apakah keputusan presiden saja ataukah keputusan gubernur, atau keputusan antara gubernur dan walikota, yang masih sering berbeda pandangan, atau dinaikkan menjadi level internasional yaitu keputusan badan dunia seperti WHO?”, terang Gus Nadir.

Di akhir, Gus Nadir juga menyampaikan beberapa permasalahan yang ditimbulkan covid-19, antara lain hukum penguburan jenazah covid, transaksi online yang akan selanjutnya masuk ke dalam hukum fikih muamalah dan pembatasan Hak Asasi Manusia (HAM). (Ahn)

*Fadhilla Berliannisa (Mahasiswi Univ Diponegoro)

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah