Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

PC JRA Batoro Katong Ponorogo Sukses Gelar Pelatihan Praktisi yang Keempat

Ponorogo, Dakwah NU
Mujiz Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Gus Allamah Alauddin Shiddiqi atau sering dikenal dengan Gus Amak berpesan agar jangan sekali-kali meruqyah dengan memasang tarif. Beliau menegaskan, jika diberi (upah) diterima tapi jika tidak diberi jangan meminta.

Hal ini disampaikannya saat mengisi acara pelatihan praktisi JRA Batoro Katong Ponorogo yang bertempat di kampus Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, Ahad (4/4/21). Kepada seluruh peserta yang hadir, beliau meminta agar saat meruqyah, diniatkan untuk investasi akhirat bukan yang lain.

Diketahui, bahwa pelatihan yang mengusung tema kearifan lokal Ponorogo ini merupakan pelatihan keempat kali yang diadakan oleh PC JRA Batoro Katong Ponorogo. Pelatihan diikuti oleh para peserta yang berasal dari Kabupaten Ponorogo, juga peserta dari luar daerah, seperti dari PC JRA Trenggalek, Madiun, Tulung Agung, Blitar, bahkan Jakarta.

Imam Syafi’i selaku ketua panitia mengatakan bahwa kegiatan dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Hal ini dilakukan demi menjaga kesehatan peserta, praktisi, dan utamanya terhadap kesehatan mujiz.

Lebih lanjut, Imam sapaan akrab beliau mengapresiasi atas kesuksesan kegiatan pelatihan tersebut. Ini merupakan kerja keras dan kekompakan seluruh panitia yang telah mempersiapkan sejak jauh hari.

“Terimakasih banyak kepada seluruh panitia yang telah menyukseskan acara ini, mulai dari persiapan yang matang dan pelaksanaan kegiatan yang lancar hampir tanpa suatu kendala yang berarti,” ucapnya.

“Semoga amal baik kita semua, yakni mengajak untuk mensyiarkan keagungan Al-Qur’an sebagai syifa’ merupakan amal jariyah yang tak terputus hingga kiamat nanti. Adapun jika terdapat kesalahan kekhilafan atas nama seluruh panitia memohon maaf yang sebesar-besarnya,” tambahnya lagi.

Sementara, Ustadz Cholid Abasa Rifa’i, Wakil Ketua JRA Batoro Katong mengaku senang dengan terlaksananya acara pelatihan praktisi JRA Batoro Katong keempat ini. Beliau berharap, kegiatan dapat membawa manfaat dan keberkahan bagi semua partisipan. 

“Alhamdulillah saya merasa senang dengan pelaksanaan kegiatan ini, semoga dapat membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua. Semakin banyak yang tergabung menjadi keluarga besar PC JRA Batoro Katong semoga semangat mendakwahkan Al-Qur’an sebagai syifa’ semakin baik dan istiqomah kedepannya,” harapnya. 

Antusiasme Peserta Pelatihan
Kegiatan pelatihan kali ini dengan mendatangkan Dadak Merak langsung dari desa Ngabar dan desa Patihan Kidul, Siman, Ponorogo. Sebab banyak di antara praktisi merupakan pelestari kesenian tradisional Reyog Ponorogo yang mendunia ini.

Salah seorang praktisi JRA Batoro Katong Ponorogo sekaligus pemain Reog Ponorogo, Ahmad Khabibullah mengaku bangga dengan adanya ide kreativitas panitia dengan mengusung tema kearifan lokal kesenian daerah Reog Ponorogo.

“Sebagai praktisi sekaligus pemain Reog Ponorogo, saya mengaku bangga dan mengapresiasi panitia atas ide kreatifnya mengusung kesenian daerah Reog Ponorogo dalam acara Pelatihan Praktisi JRA Batoro Katong keempat ini,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini perlu dilakukan sebagai salah satu cara melestarikan kesenian lokal, supaya identitas sebagai warga Ponorogo tidak hilang.

“Bahkan mujiz kita pun sangat menghargai kebudayaan daerah kita dengan memakai pakaian warok Ponorogo, menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya daerah perlu kita junjung tinggi” ungkap pembarong asal Ngabar ini.

Selain itu, peserta pelatihan praktisi lain asal Pacitan, Alex Febriansyah, mengatakan kepada Infokom JRA Batoro Katong bahwa awalnya, ia mengikuti kegiatan ini untuk mengetahui keilmuan mengenai ruqyah aswaja, sebab yang ia tau bahwa ruqyah selalu diidentik dengan kesurupan.

“Saya peserta asal Pacitan yang mengikuti pelatihan di Ponorogo untuk menjawab rasa penasaran saya mengenai ruqyah, sebab setahu saya ruqyah selalu dikaitkan dengan kesurupan,” ungkapnya.

Namun, lanjut Alex, setelah mengikuti pelatihan ruqyah aswaja di Ponorogo ia menjadi paham bahwa anggapan ruqyah identik dengan kesurupan selama ini itu tidak benar.

“Gus Amak menjelaskan kepada kita (peserta pelatihan,red) bahwa sebenarnya ruqyah itu tidak harus kesurupan. Kemukjizatan Al-Qur’an dapat mengobati umat Rasulullah Saw bahkan tanpa reaksi atau muntahan, apalagi kesurupan,” pungkasnya.

Kontributor: Mukhlas Habibi
Editor: Fadhilla Berliannisa

Spread the love

Comment here