Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Nusron Wahid dan Samsul Ma’arif, Kandidat Ideal Sekretaris Jenderal PBNU

Jakarta, Dakwah NU
Paska perhelatan Muktamar NU ke 34 di Lampung yang berlangsung 22-24 Desember kemarin, publik
Nahdliyin menunggu komposisi kepengurusan PBNU 2021-2026. Pos-pos strategis, terutama posisi Sekretaris Jenderal (Sekjen), jabatan terpenting setelah Ketua Umum, idealnya diisi tokoh muda yang kenyang pengalaman. Sekjen memiliki tugas utama membantu meringankan beban kerja Ketua Umum. Lebih spesifik lagi, Sekjen bertanggungjawab mengorganisasi program dan kerja-kerja politik keumatan, kemanusiaan dan kenegaraan PBNU.

Oleh karena ini, ada sejumlah kriteria ideal figur Sekjen PBNU memasuki abad kedua ini. Pertama, Sekjen memiliki kecakapan me-recovery friksi antar kandidat paska Muktamar. Kedua, dari sisi umur lebih muda ketimbang Ketua Umum. Ketiga, memiliki pemahaman yang memadai terkait infra dan suprastruktur NU. Keempat, figur Sekjen harus memiliki rekam jejak ke-NU-an selevel Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU), strata kepengurusan tingkat Provinsi. Kelima, Sekjen idealnya bukan merupakan pengurus harian Partai Polittik (Parpol).

Meski memiliki kader yang melimpah, tidak mudah memenuhi lima kriteria ideal tersebut. Umumnya, kader-kader NU senior, adalah pengurus harian Parpol. Kader senior ada pula yang berada pada posisi tengah mengemban jabatan publik semacam Bupati atau Walikota. Untuk kasus ini (pengurus harian Parpol dan pejabat publik), secara Ad/ART NU, terhalang menduduki posisi Sekjen. Sekjen tidak pula berasal dari “eksternal” yakni tokoh yang tiba masuk ke NU kemudian menjadi pengurus seperti Menteri Erick Thohir. Santer disebut Erick Thohir akan menempati pos Bendahara Umum PBNU. Posisi Sekjen secara politik beda “kelas” dengan bendahara umum.

Sementara, mantan pejabat publik (mantan Bupati/Walikota atau bahkan Gubernur), juga tidak ideal sebagai Sekjen. Terkait para mantan pejabat publik yang meminati posisi Sekjen, tidak in line dengan misi regenerasi yang diusung Ketua Umum PBNU terpilih; KH Yahya Cholil Tsaquf. Di samping itu, berkaca dari kasus KH. Slamet Efendi Yusuf (almarhum), mantan salah satu Ketua Partai Golkar, yang menjabat Wakil Ketua Umum PBNU periode 2015-2020, terbukti kurang maksimal. Selamat ber-NU seakan dengan energi yang tersisa. Di antara beberapa nama pejabat (juga mantan pejabat) publik yang turut meramaikan bursa Sekjen adalah: Saifullah Yusuf (Gus Iful), Walikota Pasuruan dan Amin Said Husni (Mantan Bupati Bondowoso, Jawa Timur)

Nusron Wahid dan Syamsul Ma’arif
Dengan kriteria di atas, nama-nama kandidat ideal Sekjen, secara alamiah tersortir pada beberapa nama berikut: Nusron Wahid (NW), Nadirsyah Husen, Ulil Abshar Abdalla dan Syamsul Ma’arif. NW adalah salah satu tokoh terpenting dibalik terpilihnya Gus Yahya Cholil Staquf. Saat ini bisa disebut, NW merupakan politisi dan kader NU paling menonjol. Politikus yang meniti karir mulai dari Ketua Umum PB PMII (Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) ini, kini salah satu ketua di DPP Partai Golkar.

Latar belakang NW sebagai mantan Ketua Umum PB PMII menjadi penting, untuk menghindari the winner takes all, ketika misalnya Gus Iful yang sama-sama berlatar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Gus Yahya, menempati posisi Sekjen. Posisi NW sebagai salah satu ketua DPP Partai Golkar, mutlak harus dilepas manakala NW mengambil posisi Sekjen PBNU. Posisi Sekjen bagi NW, akan mempermudah dan meringankan kerja-kerja Gus Yahya me-recovery friksi antar kandidat pada Muktamar ke 34 Lampung. Lebih dari itu, NW terbukti mampu mengakomodir dan mengorganisir tim lintas Parpol, lintas aktivis (PMII-HMI-Ansor) bagi kemenangan Gus Yahya.

Nama lain yang potensial, meski kurang ideal, sebagai Sekjen PBNU adalah Nadhirsah Husen, Ulil Abshar Abdalla dan KH Syamsul Ma’arif. Pilihan Sekjen dari nama-nama ini, manakala PBNU dan Gus Yahya menghendaki NU dengan wajah non-politik praktis, sekaligus merepresentasikan kelompok pemikir di NU. Seperti umum dikenal, Nadirsyah Husen, Di samping sebagai Rois Suriah NU Cabang Istimewa Australia, dia juga dosen Hukum Monash University Australia. Sedang Ulil Abshar Abdalla, kader ”terlantar” NU, sangat potensial untuk disodorkan sebagai Sekjen. Hal ini setidaknya manakala NU menghendaki “juru bicara” yang fasih tentang jaringan Islam nasional maupun internasional. Di tangan kandidat Sekjen model Nadirsyah dan Ulil, kebesaran gagasan, gerakan dan globalisasi NU, memiliki masa depan gemilang.

Sementara ketika PBNU era Gus Yahya menghendaki wajah NU yang lebih bisa berkolaborasi dengan kekuatan Islam nasional, juga menetralisir bahkan merangkul kelompok Islam garis keras, KH Syamsul Ma’arif, bisa dipertimbangkan sebagai Sekjen. Syamsul Ma’arif adalah Ketua Tanfdiz PWNU DKI Jakarta. Style-nya yang low profile, tenang dan adem, cocok dengan tantangan internal maupaun ekternal yang dihadapi NU. Tantangan internal NU adalah menghapus friksi Muktamar, baik friksi antar tim sukses maupun friksi antara PMII-HMI, juga antar Parpol. Syamsul ideal sebab dia tidak berlatar belakang Parpol.

Oleh:
Dr Moh Sholeh-Basyari
Direktur Ekskutif
Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS)

Spread the love

Comment here