Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Sejarah Islam

Ngaji Peradaban Islam: Bait Keseluruhan Sajak Hassan ibn Tsabit

Jakarta, Dakwah NU
Pengurus Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), K.H. Idris Sholeh, Lc. menjelaskan inti dari bait syair milik sahabat Hasan Ibn Tsabbit, yaitu Qasidah al-Hamziyah dalam Kajian Peradaban Islam episode ke-11 yang ditayangkan oleh MDHW TV, Jum’at (9/4/21).

Setidaknya, ada tiga inti qasida yang dijelaskan oleh Kiai Idris, yakni keberanian pasukan umat Islam, pembalasan atas ejekan salah seorang pembesar Quraisy bernama Abu Sufyan bin al- Harrits bin Abdul Muthallib kepada Rasulullah Saw, serta pujian kepada Nabi Muhammad Saw.

“Sebelumnya sudah saya jelaskan bait, syair milik Hasan bin Tsabit yang dikenal dengan Qasidah al-Hamziyah yang berisikan muqadimah tholaliyah, muqadimah ghozaliyah dan muqadimah al hamriyah. Di mana muqadimah ini beliau tulis pada zaman jahiliyah yaitu sebelum beliau masuk agama Islam,” ucapnya memulai kajian.

Selanjutnya, beliau menjelaskan inti dari qasidah yang ditulis Hasan ketika beliau sudah masuk Islam ini. Kiai Idris menyebutkan bahwa di sana ada perbedaan jelas sekali yaitu mufradat atau kosakata.

Dalam muqadimah berisikan tentang istilah-istilah tokoh dan hal-hal yang familiar pada zaman jahiliyah, seperti mengisahkan khamr atau jenis khamr yang bercampurkan madu dengan air sehingga memunculkan aroma seperti thuffah atau apel.

Kemudian, pengaruh dari khamr tersebut yaitu ketika meminumnya maka akan muncul rasa percaya diri keberanian seperti seakan-akan menjadi seorang raja, menjadi sayyid. Sehingga punya keberanian menghadapi musuhnya ketika di medan perang.

Baru masuk pada inti utama yaitu berisikan tentang keberanian pasukan umat Islam dan peringatan kepada orang kafir Quraisy, bahwa umat Islam akan menaklukan kota Makkah dengan kuda-kudanya berlari cepat berlomba seperti terbang dan datang seperti hujan sehingga penduduk Makkah tidak ada perlawanan sama sekali, justru perempuan-perempuan mereka mengusir kuda-kuda umat Islam yang gagah berani itu dengan kerudungnya.

Ini pemandangan di mana Nabi Muhammad Saw menyaksikan peristiwa Fathu Makkah. Nabi mengatakan betul apa yang dikatakan disampaikan dalam puisi Hasan bin Tsabit bahwa nanti kuda-kuda umat Islam yang gagah berani itu tidak ada perlawanan dari orang-orang kafir Quraisy, malah yang terjadi perempuan-perempuan kafir Quraisy menghalaunya dengan kerudung mereka.

“Ini tanda kekalahan dan tidak ada perlawanan dari orang kafir Quraisy, dan ini terjadi ketika Fathu Makkah,” ujar Kiai Idris.

Kemudian, inti dari bait selanjutnya yaitu pujian kepada Nabi Muhammad Saw dan menyebutkan malaikat Jibril akan membela pasukan umat Islam ketika menaklukan kota Makkah dan Allah akan mengirimkan pasukan yaitu kaum Ansor. 

Kaum Ansor yang terdiri dari kaum Khazar dan suku Aus yang berasal dari Yaman, yang selalu bertikai dengan orang yang ada di Hijaz, baik itu peperangan, atau saling menghina. Dan ketika kaum Quraisy meledek menghina dengan puisi-puisinya, maka kami akan membalas dnegan puisi-puisi lagi atau bila perlu dengan peperangan.

Baru masuk dalam inti yang utama, yaitu pembalasan atas ejekan pembesar Quraisy yaitu Abu Sofyan, ketika menghina Nabi Muhammad Saw. Hasan bin Tsabit menjawab, “tolong sampaikan kepada Abu Sufyan, engkau adalah tidak ada artinya dan nilainya, engkau adalah pengecut. Ingat pedang-pedang kami telah membuat engkau menjadi budak, yang dulu membawa bendera kaum Quraisy, terjatuh, kemudian bendera itu dipegang oleh budak perempuan.

“Ini menggambarkan pada kekalahan kafir Quraisy dalam perang Badar,” jelasnya lagi.

Engkau telah menghina Muhammad dan Akulah yang meresponnya, dan Allah-lah yang akan membalasnya. Kau yang telah menghina Muhammad sementara kau tidak sebanding dengan Muhammad.

Bait ini salah satu bait Hasan yang menurut orang Arab merupakan syair yang sangat netral dan indah, yakni baik itu keburukan maupun kebaikannya dibandingkan dengan Nabi Muhammad Saw tidak sebanding sama sekali. Hasan berkata,

Kau telah menghina orang yang telah diberkati, kau telah menghina orang yang selalu bersikap baik, kau telah menghina orang yang selalu mengajarkan ajaran yang benar. Orang yang kamu hina adalah orang yang bergelar al amin, orang yang dipercaya.

Di mana orang yang memiliki akhlak yang selalu memenuhi janji. Orang yang menghina Nabi Muhammad Saw, Rasul Allah. Sesungguhnya harga diriku orang tua dan kakekku untuk membentengi Nabi Muhammad. Lisanku seperto pedang yang tajam yg tidak ada cacat sama sekali, lautanku tidak ternodai sedikitpun oleh imba.

“Qasidah keseluruhan dari sahabat yang mulia Hasan bin Tsabit yang menjelaskan ketegasan pasukan umat Islam ketika menaklukkan Makkah. Qasidah ini terjadi sebelum Fathu Makkah. Dan berisi tentang pembalasan atas ejekan pembesar Quraisy dan beri pujian kepada Rasulullah Saw yang menyampaikan kebenaran,” pungkas beliau. (fqh)

Spread the love

Comment here