Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Moderasi Beragama Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur

Zuahairi Misrawi

Tunisia, Dakwah NU
Salah satu hal yang menonjol dari Tunisia adalah moderasi beragama. Sama halnya Mesir dan Indonesia, Tunisia mempunyai karakter keberagamaan yang moderat, toleran, dan ramah. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari pemikiran ulama terkemuka, Muhammad Thahir bin ‘Asyur. Ia sangat dicintai dan dihormati warga Tunisia dan warga dari berbagai dunia, termasuk Indonesia, karena pemikirannya mendorong ijtihad dan keramahtamahan pada sesama dalam rangka membangun peradaban kemanusiaan.

Setibanya di Tunisia, saya pun memulai aktivitas dengan berziarah ke makam Muhammad Thahir bin ‘Asyur. Secara pribadi, saya mempunyai sanad intelektual dengan ulama istimewa ini. Saya merasa berhutang budi, karena sejak masih menimba ilmu di Kairo, saya membaca karya-karya besarnya, Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah, Ushul al-Nidham al-Ijtima’I fi al-Islam, Kasyf al-Mughattha min al-Ma’ani wa al-Alfadh al-Waqi’ah fi al-Muwaththa’, dan mognus opus tafsir al-Quran, al-Tahrir wa al-Tanwir.

Alkisah, sejak di Kairo dulu, saya mempunyai kebiasaan berselancar dalamnya samudera buku dari satu toko buku ke toko buku yang lain. Kebiasaan ini masih berlangsung di Tunisia. Saya membutuhkan waktu satu bulan untuk mengunjungi semua toko buku di seantero kota Tunis. Bahkan, saya sudah menggagas “diplomasi buku” dengan Ikatan Perbukuan Tunisia, khususnya dalam rangka menerbitkan dan mendiskusikan buku-buku karya pemikir Tanah Air.

Kembali ke sosok Muhammad Thahir bin ‘Asyur, tidak jauh dari Masjid al-Azhar dan Universitas al-Azhar, Kairo, terdapat toko buku kitab-kitab klasik (al-turats), Dar al-Salam. Biasanya, para mahasiswa setiap selesai kuliah, langsung berbondong-bondong ke toko buku ini untuk memborong buku. Saya di antara mahasiswa yang mempunyai kebiasaan tersebut.

Alhasil, saya membeli dan mengkhatamkan karya-karya Muhammad Thahir bin ‘Asyur di atas. Saya masih ingat, betapa pemikirannya menggugah kesadaran intelektual dan membangkitkan rasionalitas keberagamaan yang moderat, toleran, dan ramah. Pemikiran ulama terkemuka Tunisia ini selalu mewarnai tulisan-tulisan saya. Ada keinginan untuk selalu kembali membuka lembaran karya-karyanya. Hingga akhirnya saya mendapatkan tugas sebagai Duta Besar RI untuk Tunisia. Rasanya betul-betul pucuk dicita, dan ulam pun tiba.

Sanad keilmuan saya tersambung pada Muhammad Thahir bin Asyur, dan saat ini saya merasa sangat dekat dengan sosok spesial ini. Tuhan punya caranya sendiri untuk mendekatkan saya pada ilmu dan buku, pada pemikiran ulama yang dikenal dengan keindahan bahasa Arabnya. Sebab itu, saya sudah dua kali berziarah ke makamnya, yaitu pada hari kedua tiba di Tunis dan peringatan Harlah Nahdlatul Ulama ke 96 bersama Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia. Dan, saya akan selalu berziarah ke makamnya.

Saya sudah meminta PCINU untuk membersihkan komplek makamnya setiap bulan. Dan mereka juga mempunyai komunitas ‘Ashurian, setiap minggu mengkaji buku-buku Muhammad Thahir bin ‘Ashur. Bersama Syaikh Shalahuddin al-Mustawi, salah satu murid ulama terkemuka ini dan mustasyar PCINU Tunisia, saya sudah berbincang untuk membuat modul pemikiran Muhammad Thahir bin ‘Asyur dan KBRI Tunis akan membuat semacam Pendidikan Wawasan Keulamaan, sehingga setiap mahasiswa Indonesia di Tunisia menguasai metodologi pemikiran sosok ulama moderat ini.

Moderasi beragama ala Muhammad Thahir bin ‘Asyur memang sangat istimewa, karena memenuhi dua unsur, yaitu metodologi dan implementasi. Di dalam karnya, Maqashid al-Syariah al-Islamiyyah, ia menjelaskan perihal teori dan metodologi yang harus digunakan untuk memahami Syariat Islam. Ia memandang Ushul Fikih sudah tidak mampu lagi untuk digunakan sebagai instrumen kontekstualisasi Syariat Islam dengan perkembangan zaman yang begitu cepat. Konsekuensinya, fikih mengalami stagnasi dan berjalan di tempat. Sebab itu, diperlukan Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah sebagai metodologi untuk menyelami kedalaman dan keindahan Syariat Islam.

Muhammad Thahir bin ‘Asyur mendorong upaya sungguh-sungguh agar umat Islam melakukan ijtihad, sehingga fikih mampu merespons perkembangan zaman dengan payung Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah. Sebab tujuan utama dari Maqashih al-Syari’ah al-Islamiyyah yaitu mewujudkan kemaslahatan bersama, yang akan memberikan dampak pada setiap individu. Melalui metodologi Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah, ia sebenarnya hendak melanjutkan pemikiran ulama terdahulu, yaitu Imam al-Syathibi, Imam Izzuddin bin ‘Abdussalam, dan Imam Syihabuddin al-Qarafi.

Dari Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah sebagai metodologi, Muhammad Thahir bin ‘Asyur beranjak pada gagasan perlunya membangun mesyarakat. Sebab itu, ia menawarkan perlunya dasar untuk membangun sistem yang mencerminkan moderasi beragama. Dalam waktu yang cukup panjang, umat Islam hidup dalam situasi fitnah, koflik, perang, ketidakpastian, dan keterombang-ambingan, sehingga mereka tercerabut dari karakter utama Islam yang moderat, toleran, dan ramah. Padahal agama mempunyai peran penting dalam membangun peradaban.

Maka dari itu, dalam Ushul al-Nidham al-Ijtima’I fi al-Islam, Muhammad Thahir bin ‘Asyur menawarkan empat pilar yang dapat digunakan dalam membangun peradaban, yaitu fitrah, moderasi, toleransi, dan kecermatan dalam memahami realitas. Ia juga menegaskan perlu memberikan peran yang terhormat pada kaum perempuan, karena antara laki-laki dan perempuan saling melengkapi dan menyempurnakan. Perempuan mempunyai keistimewaan, karena diciptakan Tuhan untuk menebarkan kasih-sayang, cinta, dan keramahtamahan.

Beberapa pemikiran Muhammad bin Thahir bin ‘Asyur di atas merupakan khazanah yang sangat penting untuk mengukuhkan gagasan moderasi beragama yang sedang membuncah di Tanah Air. Gagasan moderasi beragama di Tunisia mempunyai sejarah dan basis yang panjang sejak Imam Abul Hasan al-Syadzili, Ibnu Khaldun, Muhammad Thahir bin ‘Asyur, hingga para ulama kontemporer. Sebab itu, sebagai Duta Besar RI untuk Tunisia, saya memandang perlunya gagasan “Poros Moderasi Beragama Indonesia-Tunisia”.

Saya mulai menyampaikan gagasan ini kepada Menteri Luar Negeri Tunisia, Othman Jerandi, sejumlah ulama dan pemikir Tunisia. Mereka menyambut baik agar moderasi beragama mempunyai pengaruh yang luas. Pengalaman Indonesia dan Tunisia diharapkan dapat menginspirasi dunia Islam dan dunia internasional.

Oleh: Zuhairi Misrawi
Duta Besar RI untuk Tunisia

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here