Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Metodologi Pembelajaran untuk Membentuk Pribadi Paripurna dari Kitab Al-Amtsilah-Tashrifiah

Metodologi Pembelajaran untuk Membentuk Pribadi Paripurna dari Kitab Al-Amtsilah-Tashrifiah

Jakarta, Dakwah NU
Siapa yang tidak kenal dengan Kitab Amtsilatut Tashrifiah? Kitab tipis karya Syekh Ma’shum bin Ali, Tebu Ireng Jombang. Hampir semua pesantren di seluruh Nusantara pasti menggunakan kitab ini, sebagai pintu gerbang memahami ilmu sharf , Ilmu yang mempelajari tentang asal kata dan perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab. Prasyarat mempelajari kitab-kitab kuning yang besar-besar sudah pasti awalnya adalah belajar tashrif terlebih dahulu. Mustahil orang mampu membaca kitab kuning tanpa melalui gerbang ilmu sharf.

Pengarang kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyyah adalah KH Maksum Ali, Seblak Jombang yang merupakan menantu dari pendiri NU, Hadratus Syeikh KH Hasyim Asyari yang juga pendiri Pesantren Tebuireng Jombang. Nama lengkap KH Ma’shum adalah Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar al-Maskumambani. Beliau lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan sang kakek.

Setelah belajar kepada sang ayah, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng. Ia termasuk salah satu santri generasi awal hadratus syeikh. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif hadratus syeikh, Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo Cukir.

Bertahun-tahun lamanya pemuda Ma’shum mengabdi di Tebuireng. Kemampuannya dalam segala bidang ilmu, terutama bidang falak, hisab, sharaf, dan nahwu, membuat Mbah Hasyim tertarik untuk menikahkan dengan putrinya, Khairiyah.

Seblak sendiri adalah sebuah dusun yang terletak sekitar 300 m sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran, seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan hadratus syeikh. Melihat kondisi ini, Kiai Ma’shum merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan.

Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, di sekitar rumah tersebut kemudian didirikan pondok dan masjid, yang berkembang cukup pesat.

Meski sudah berhasil mendirikan pondok, Kiai Ma’shum tetap istiqomah mengajar di Madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, membantu hadratus syeikh mendidik santri. Pada tahun berikutnya, beliau diangkat menjadi mufattis (pengawas) di madrasah tersebut.

Tanggal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’shum wafat setelah sebelumnya menderita penyakit paru-paru. Beliau wafat pada usia 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan ”musibah besar” terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuan setelah hadratus syeikh. Hingga kini, belum ada seorang ulama pun yang mampu menggantikannya.

Metodologi Pembelajaran dari Kitab Al Amtsilah At-Tashrifiah
Sistematika penulisan Kitab Al Amtislatut Tashrifiah memuat makna filosofi yang sangat tinggi. Kitab ini bukan saja mempunyai sistematika penulisan yang unik, akan tetapi mengandung teori pembelajaran. Salah satu contoh bisa dilihat, pada fi’il tsulasi mujarrad. Dalam Tsulatsi Mujarrod ada enam bab atau enam wazan yang dirangkum menjadi sebuah nazham:

فَتْحُ ضَمٍّ فَتْحُ كَسْرٍ فَتْحَتَانِ * كَسْرُ فَتْحٍ ضَمُّ ضَمٍّ كَسْرَتَانِ

Bab 1 (نَصَرَ – menolong), bab 2 (ضَرَبَ –memukul/mencontohkan), bab 3 (فَتَحَ –membuka), bab 4 (عَلِمَ – mengetahui/memahami), bab 5 (حَسُنَ -bagus), bab 6 (حَسِبَ – mempertimbangkan).

Makna dari sistematika ini adalah:
Proses awal ketika menghadapi orang tidak mengerti/awam maka tahap pertama adalah harus nashara. Maksudnya tolonglah dia dengan mengajarkan dia ilmu agama agar dia mengerti halal-haram, baik dan buruk.

Kebodohan dalam agama digambarkan dengan kegelapan, sementara ilmu disamakan dengan cahaya. Orang bodoh adalah orang yang melangkah dalam kegelapan. Dia tidak tahu kemana arah yang akan dia tuju. Oleh karena itu, orang seperti ini harus ditolong dengan memberikan dia cahaya, supaya dia mampu melihat jalan dan melangkah di jalan Allah.

Proses kedua adalah dharaba, kadang dalam proses pendidikan perlu adanya sedikit pukulan, namun yang dimaksud adalah pukulan mendidik. Supaya murid bisa kembali fokus lagi dalam belajar. Saya teringat, bagaimana dulu guru Al-Quran saya memukul saya dengan semacam rotan apabila saya salah membaca Al-Quran. Dan metode ini ternyata terbukti efektif, saya semakin giat belajar karena takut mendapat pukulan lagi.

Namun dharaba juga bisa bermakna lain, sebagaimana dalam Al-Quran

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا

“sesungguhnya Allah tidak malu membuat contoh berupa nyamuk, atau yang lebih rendah dari itu” (QS. Al Baqarah: 26)

Kata dharaba dalam ayat di atas bermakna “contoh” . Maksudnya, seorang guru harus menjadi contoh atau teladan atau uswah hasanah bagi anak didiknya. Metode pendidikan uswah adalah metode pendidikan terbaik. Metode uswah adalah guru adalah sentral perilaku dari murid-muridnya oleh karena itu tak heran ada istilah guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Uswah hasanah adalah rahasia keberhasilan pengajaran atau dakwah Rasulullah saw. Rasulullah saw adalah uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) bagi umatnya dan seluruh manusia.

Proses ketiga, fataha. Ketika telah melalui proses pertama dan kedua, sudah belajar dan dan belajar melalui keteadanan seorang guru, maka tahap berikutnya seorang murid akan menjadi futuh, terbuka. Maka terbukalah hatinya untuk menrima segala macam ilmu dan kebaikan, hatinya tak lagi keras sehingga sulit menerima nasehat-nasehat kebaikan. Kata Al Ghazali, kerasnya hati adalah salah satu hijab/penghalang untuk menerima ilmu-ilmu ilahiah.

Proses keempat, ‘alima. Setelah hati seorang murid terbuka, maka berate dia telah siap untuk menerima ilmu-ilmu Allah. Pada tahap ini dia sudah menjadi orang ‘alim, orang yang mengerti, orang berilmu. Ia mampu memahami rahasia-rahasia syariat dan rahasia-rahasia ilahi. Pada tahap inilah seseorang layak disebut ulama.

Proses kelima, hasuna. Setelah orang itu menjadi alim, maka tahap berikutnya dengan sebab ilmunya akan melahirkan perilaku-perilaku atau akhlak yang baik. Bukankah tujuan pendidikan adalah membentuk akhlak yang baik. Pendidikan bukanlah proses transfer of knowledge semata, tapi tujuan hakikinya adalah membentuk aklhakul karimah.

Proses keenam, hasiba. Inilah proses puncak dari perjalanan tarbiyah seseorang, bahwa seorang yang berilmu akan menimbang-nimbang terlebih dahulu manfaat dan mafsadatnya untuk orang banyak dari setiap ucapan dan perilakunya. Dari sini akan lahir sikap bijak dalam melihat setiap masalah, persoalan, dan peristiwa yang lalu lalang dalam hidup dan kehidupanya.

Wallahua’lam bisshawab

Gedung PBNU, 14 Oktober 2020

Penulis:
KH. Muhammad Imaduddin (Gus Imad)
Pengurus Lembaga Dakwah PBNU dan Direktur PDPNU

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah