Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Menyayangi Hewan Menghargai Pencipta

Hamdan Suahemi

Jakarta, Dakwah NU
Latar Masalah
Belakangan berita viral penyiksaan atas binatang yang dilakukan oleh beberapa orang begitu banyak beredar, entah karena hatinya sedikitpun tidak memiliki rasa belas kasihan ataukah hilangnya empati atas hidupnya hewan.

Tidak kita pungkiri, perbuatan hal semacam itu terkadang kita perbuat juga. Mungkin akibat dari kesalnya atas hewan tersebut. Semisal ayam tetangga masuk ke rumah dan mengotorinya. Kaget campur kesal, ayam itu dipukul, bahkan dikonsumsi tanpa perduli milik tetangga.

Titik sadar itu terjadi di diri saya ketika masuk dalam kultur sufistik di dalam pesantren, sekaligus mengkaji beberapa kitab tasawuf yang di dalamnya mengajarkan akhlak terhadap makhluk hidup.

Padahal ketika masih usia anak-anak hingga remaja, seringnya menganiaya, memukul, dan mematikan. Hampir binatang ternak seperti bebek dan ayam tidak kembali ke kandang pemiliknya, karena mati di jalan akibat disambit batu.

Melidungi Hewan
Kita ini muslim yang diajari akhlak, kepada sesama manusia untuk saling mengasihi, menyayangi, menjaga ukhuwah, merawat ikatan. Takdir kita hidup bersama makhluk lainya yang faktanya mereka pun ingin merasakan hidup.

Bukan saja kepada makhluk bernama manusia, kita muslim juga diajari untuk merawat binatang ternak dengan menggembalanya, bukti kasih sayangnya adalah memberi makan binatang tersebut dengan menyediakan rumput-rumputan, dedaunan dan semak belukar.

Sebab Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menyayangi meskipun terhadap hewan sembelihan, niscaya Allah akan merahmatinya pada Hari Kiamat.” (HR. Bukhari).

Penganiayaan terhadap binatang bertentangan dengan ajaran Islam. Rasulullah SAW dikenal amat menyayangi binatang. Para sahabat diajak untuk menyayangi binatang karena bisa mendatangkan pahala. ” Setiap air yang diberikan kepada hewan hidup (untuk minumnya) mendatangkan pahala.” (HR Bukhari dan Muslim).

Menurut Syaikh Ali al-Jum’ah dalam kitabnya ” al-Bi’ah wa al-Hifazh ‘Alayhaa min Manzhurin Islamiy “. Bahwa ajaran Islam mengharamkan menyiksa hewan.

إيَّاكم أن تتَّخذوا ظُهورَ دوابِّكم منابرَ فإنَّ اللَّهَ إنَّما سخَّرَها لَكم لتبلِّغَكم إلى بلدٍ لم تَكونوا بالغيهِ إلَّا بشِقِّ الأنفُسِ وجعلَ لَكمُ الأرضَ فعَليْها فاقضوا حاجتَكم

Artinya : Janganlah sampai kalian menjadikan punggung hewan pengangkut kalian sebagai tempat duduk/mimbar. Sesungguhnya Allah menciptakannya untuk mengantarkan kalian ke satu negeri yang kalian tidak mngkin mencapainya (tanpa hewan itu) kecuali dengan rasa payah. Dan Allah telah menjadikan bumi untuk kalian dan untuk hewan juga, maka penuhilah hajatmu (seperlunya saja).” (H.R. Abi Dawud)

Kemudian, berdasarkan hadits shohih yg diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
دخلت امرأة النار في هرة ربطتها ، فلم تطعمها ، ولم تدعها تأكل من خشاش الأرض
رواه البخاري

Artinya: Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang disekapnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi ( H.R Bukhori ).

Akan tetapi bila yang dipelihara adalah anjing, maka terlarang, kecuali bila untuk tujuan berburu.

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ.متفق عليه

Artinya : barang siapa memelihara anjing selain anjing berburu atau penjaga hewan ternak, maka pahalanya akan berkurang setiap hari sebesar dua qirath (1 qirath sebesar gunung uhud)” (Muttafaqun ‘alaih).

Menghargai Ciptaan
Menyayangi Hewan sama halnya menyayangi penciptanya. Meskipun di jenis hewan tersebut ada yang diharamkan, ada pula yang dihalalkan.

Sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطْشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطْشِ فَقَالَ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِـي. فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقى فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لَنَـا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا؟ قَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطبَةٍ أَجْرٌ

Artinya : ketika berjalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Dia turun ke suatu sumur dan meminum darinya. Tatkala keluar, tiba-tiba ia melihat seeokor anjing yang sedang kehausan hingga menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah yang basah. Orang itu berkata, Sungguh, anjing ini telah tertimpa (dahaga) seperti yang telah menimpaku. Ia (turun lagi ke sumur) untuk memenuhi sepatu kulitnya (dengan air) kemudian memegang sepatu itu dengan mulutnya lalu naik dan memberi minum anjing tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berterima kasih terhadap perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (apabila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda, “Pada setiap yang memiliki hati yang basah maka ada pahala.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Pada hubungannya dengan menyayangi Hewan, manusia, jin dan malaikat itu tidak lepas dari perhatian Rosulullah Saw terhadap ciptaan Allah SWT ini.

وأما قوله عليه الصلاة والسلام (ارحموا من في الأرض) معناه بإرشادهم إلى الخير بتعليمهم أمور الدين الضرورية التي هي سببٌ لإنقاذهم من النار وبإطعامِ جائِعِهم وكِسوةِ عاريهم ونحو ذلك، وأما قوله عليه الصلاة والسلام (يرحمكم أهل السماء)، فأهلُ السماء هم الملائكة وهم يرحمون من في الأرض أي أن الله يأمُرُهم بأن يستغفروا للمؤمنين.

Intinya catatan di atas, bahwa yang terpenting adalah membiasakan perilaku kasih sayang terhadap penduduk bumi ( makhluk bumi ) maka penduduk langit akan membalas untuk menyayanginya.

Kalimat Akhir
Jika hati dan otak kita masih kita fungsikan, tentunya rasa syukur ke hadirat Allah SWT, atas ciptaanya.

Manusia itu makhluk Allah SWT, hewan itu makhluk Allah SWT, jin juga makhluk Allah, maka sudah sepantasnya memelihara, melindungi dan menyangi terhadap mereka yang tercipta tersebut. Khusunya binatang yang Allah haramkan untuk membunuhnya.

Penulis:
Hamdan Suhaemi
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

Spread the love

Comment here