Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Syiar Islam

Mengimbangi Keburukan dengan Kebaikan

Jakarta, Dakwah NU
Sebagai manusia biasa, tentu semua orang tidak terlepas dari dosa, kekeliruan dan kekhilafan, baik yang disadari ataupun yang tidak. Makhluk Allah yang paling mulia dinamai manusia, dinamai demikian, karena menurut sebagian para ahli ia sering lupa, yaitu diambil dari kata nisyân. Hati manusia dalam bahasa al-Qur’an, disebut Qalbu karena sering bersikap labil, selalu diliputi keraguan, selalu tidak konsisten, yang diambil dari kata taqallub.

Karena kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dimiliki manusia, maka Allah s.w.t. yang Maha Kasih memberikan ampunan terhadap kesalahan hamban-Nya apabila ia mohon ampun dan bertaubat.

وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar”. (QS. Thaha, 20: 82).

Ampunan Allah dan rahmat-Nya demikian agung sehingga tidak mungkin dapat dihitung secara matematis ataupun digambarkan dalam fikiran seseorang. Betapapun besar dosa manusia dan betapapun banyaknya akan diampuni Allah s.w.t. apabila ia menyesali perbuatan dosanya, kemudian bertaubat dan tidak mengulaginya kembali.

وَهُوَ ٱلَّذِي يَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ وَيَعۡفُواْ عَنِ ٱلسَّئَِّاتِ وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ

“Dan dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, (QS. al-Syura, 42: 25).

Keagungan kasih Allah untuk mengampuni dosa umat manusia dalam segala bentuknya digambarkan dalam hadis Qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً (رواه الترمذي)

“Wahai manusia (putra Adam), sesungguhnya engkau jika memohon dan mengharapkan ampunan-Ku, niscaya akan Aku ampuni dosa yang telah kamu kerjakan, dan terhadap semua itu Aku tidak peduli. Wahai manusia, sekiranya dosa dan kesalahanmu memenuhi petala langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli terhadapnya. Wahai manusia, jika kamu datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan dan dosa sepenuh bumi, lalu kamu datang menemuiKu dan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, No: 3463).

Bertaubat dan memohon ampun kepada Allah harus dilakukan dengan penuh kesadaran, mengakui kesalahan dan kekeliruan, berusaha untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela dan berjalan meniti kebenaran. Setelah semua itu dilakukan seseorang, ia harus selalu berusaha untuk terus menekuni perbuatan baik, menjalaninya dengan teguh dan selalu melakukan intropeksi terhadap kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya.

Dengan cara tersebut, ia dapat menyadari kekeliruannya di masa lalu dan dapat memahami dengan baik jalan yang akan ditempuhnya pada masa yang akan datang. Dalam suatu hadis disebutkan:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَمَثَلُ الْإِيمَانِ كَمَثَلِ فَرَسٍ فَرَّ مِنْ آخِيَّتِهِ يَجُولُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى آخِيَّتِهِ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَسْهُو ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى الْإِيمَانِ (رواه أحمد)

“Hubungan seorang mukmin dengan imannya, bagaikan kuda yang tertambat pada sebatang pohon, kadang-kadang kuda itu pergi lalu kembali ketambatannya. Seseorang mukmin terkadang lupa, kemudian ingat lagi”. (HR. Ahmad, No: 11065).

Karena setiap individu manusia tidak pernah terlepas dari kekurangan, kekhilafan, dan dosa, maka kita harus selalu mengimbangi perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela dengan perbuatan yang baik dan terpuji. Sesungguhnya perbuatan yang baik dan terpuji dapat menutup serta menghilangkan perbuatan buruk dan tercela.

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّئاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Hud, 11: 114).

Senada dengan ayat tersebut di atas Rasulullah s.a.w. bersabda:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ (رواه الترمذي)

“Bertakwalah kamu kepada Allah di manapun kamu berada, susulah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik. Karena sesungguhnya kebaikan itu menghapuskan keburukan. dan bergaulah sesama manusia dengan akhlak yang baik”. (HR. al-Tirmidzi, No: 1910).

Gambaran penghapusan dosa yang dilukiskan uraian di atas demikian indah, setiap perbuatan baik yang dilakukan seseorang akan mengalahkan keburukan yang ada padanya. Ibarat sinar lentera yang redup, akan hilang dengan sendirinya, apabila didatangkan di samping sinar lampu yang terang benderang. Kegelapan malam yang mencekam dan menyesatkan banyak orang, akan sirna dengan sendirinya manakala matahari mulai memancarkan sinarnya.
Dikuatkan dalam hadis:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلَ الَّذِيْ يَعْمَلُ السَّيِّئَاتِ ثُمَّ يَعْمَلُ الْحَسَنَاتِ كَمَثَلِ رَجُلٍ كَانَتْ عَلَيْهِ دَرْعٌ ضَيِّقَةٌ قَدْ خَنَقَتْهُ ثُمَّ عَمِلَ حَسَنَةً فَانْفَكَّتْ حَلْقُهُ، ثُمَّ عَمِلَ حَسَنَةً فَانْفَكَّتْ أُخْرَى، حَتَّى يَخْرُجَ إِلَى اْلأَرْضِ (رواه أحمد)

“Dari Uqbah bin Amir r.a.: “Perumpamaan orang yang mengerjakan perbuatan buruk, kemudian mengerjakan perbuatan baik, bagaikan seorang yang terbelenggu rantai besi. Lalu orang itu melakukan suatu kebaikan, maka terlepaslah satu mata rantai yang mengikatnya. Pada saat ia melakukan kebaikan lagi, maka terlepas pulalah mata rantai berikutnya sampai ia benar-benar bebas dari belenggu”. (HR. Ahmad, No: 17536).

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarok, MA
Penulis adalah Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Dosen Senior Universitas Indonesia

Spread the love

Comment here