Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Syiar Islam

Menghindari Berita Bohong

Zakky Mubarok

Jakarta, Dakwah NU
Dalam aktivitas harian, kita sering menganggap sesuatu perbuatan yang tidak baik, sebagai suatu pelanggaran yang ringan saja, sehingga tidak merasakannya sebagai dosa. Sikap seperti itu, sebenarnya sangat tercela dalam pandangan ajaran agama. Sesungguhnya perbuatan yang tidak baik, meskipun dianggap ringan atau sekedar dosa kecil, bila terus dikerjakan akan menjadi besar dan berat. Dalam al-Qur’an, dijelaskan mengenai kekeliruan-kekeliruan seperti yang disebutkan di atas, diantaranya :

إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ

“Ingatlah waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya sebagai suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar”. (Q.S. Al-Nur, 24:15).

Manusia pada umumnya gemar terhadap gosip atau berita bohong lainnya. Ia memberitakan berbagai gosip yang sama sekali tidak diketahuinya. Begitu ringan lisannya menyampaikan berita bohong itu, sehingga dianggap sebagai suatu yang biasa atau lumrah-lumrah saja. Padahal kebohongan adalah tetap merupakan suatu perbuatan yang sangat tercela. disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa salah satu ciri orang munafik adalah mereka yang gemar berbohong.

Berita bohong atau gosip akan menimbulkan fitnah ditengah-tengah masyarakat, sehingga banyak orang yang akan dirugikan, dan nama baiknya dijatuhkan. Penyebar gosip biasanya tidak merasa bersalah, padahal sikapnya itu merupakan suatu dosa yang berat dan akan dipertanggung jawabkan pada hari Kiamat. Al-Qur’an, mengarahkan setiap orang yang beriman agar berhati-hati dalam menerima berita dan menolak dengan tegas bila ternyata berita itu bohong. Dalam surat al-Nur disebutkan:

وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ

“Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami) ini adalah dusta yang besar”. (Q.S. Al-Nur, 24 : 16).

Membiarkan berita bohong berkembang di tengah-tengah masyarakat, serupa dengan penyebaran fitnah dan permusuhan, yang bisa menimbulkan kerugian-kerugian yang besar dan penyesalan yang sangat mendalam. Sekelompok orang dengan semangat yang menggebu-gebu menyebarkan berita bohong tentang kelompok lain. Kelompok lain pun menyebarkan berita yang sama, maka terjadilah kekacauan antar kelompok yang menimbulkan permusuhan. Dari permusuhan itu akan menimbulkan tindakan-tindakan yang tercela. Setelah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya semua kelompok menyesali sikapnya selama ini. Sayang penyesalan itu tidak berguna lagi, karena kerugian telah mereka derita.

Sebagai manusia muslim, kita diperintahkan agar selalu menghindari perbuatan tercela seperti yang disebutkan di atas dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Bahkan terhadap sesuatu yang syubhat pun, yang belum jelas baik dan buruknya, kita diperintahkan untuk menghindarinya. Barang siapa yang terus-menerus bergelimang dengan syubhat, ia akan tergelincir pada perkara yang diharamkan. Ibarat orang yang meniti perjalannya di tepi jurang, ia lakukan jalan itu terus-menerus, sepandai-pandainya ia menghindari jurang, sewaktu-waktu akan terperosok juga.

Mengenai larangan bergelimang dalam syubhat, dijelaskan hadis Nabi :

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ (رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang harampun jelas juga, dan diantara keduanya ada perkara yang syubhat (meragukan), ia tidak dapat dikenali oleh sebagian besar manusia. Maka siapa yang menghindari syubhat ia akan bersih agamanya dan kehormatannya, dan barang siapa terjerumus di dalamnya akan terperosok ke dalam yang haram. Ia bagaikan penggembala yang menggiring ternaknya disekitar tempat larangan, sewaktu-waktu akan terjerumus di dalamnya. Ingatlah bahwa setiap raja memiliki tempat terlarang, ingatlah bahwa larangan Allah itu ialah segala yang diharamkan-Nya”. (H.R. Bukhari, No: 2051, Muslim, No: 1599).

Dalam lanjutan hadis yang di atas, Nabi mengingatkan kita, bahwa baik buruknya seorang manusia, terletak pada hatinya. Nabi bersabda :

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري ومسلم)

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging, bila daging itu baik, maka baiklah semua jasadnya, dan bila rusak maka rusaklah semuanya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati”. (H.R. Bukhari, No: 2051, Muslim, No: 1599). Hadis ini mengisyaratkan, bahwa baik atau buruknya manusia, ditentukan oleh hatinya, hati itulah yang memberikan komando kepada seluruh anggota tubuh untuk mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu bila hatinya baik, maka baiklah anggota badan yang lain dan baik pulalah aktivitasnya dari seluruh tubuhnya.

Setiap insan muslim, diarahkan ajaran agamanya agar menghindari berita bohong, menganggap remeh kesalahan kecil, dan menghindari perkara syubhat. Nabi s.a.w. tegaskan :

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ (رواه مسلم)

“Kebaikan itu adalah keluhuran akhlak, sedangkan dosa adalah segala sesuatu yang membuat keraguan dalam hati, dan merasa khawatir bila diketahui orang lain”. (H.R. Muslim, No: 2553).

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarok, MA
Penulis adalah Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Dosen Senior Universitas Indonesia

Spread the love

Comment here