Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Menelisik Diri Mengenali Manusia

Hamdan Suhaemi

Jakarta, Dakwah NU
Terkadang hal yang tidak penting dianggap serius, ada pula yang serius, genting disikapi biasa dan ditertawai. Respon yang berbeda dari yang bicara dengan yang diajak bicara. Kejiwaan berbeda terbentuk dari stimmung ( kondisi batin ) akibat faktor dalam, dan faktor luar.

Kita saja sering melihat persoalan orang, malas untuk menanggapi, sisi lain individualitas dominan terpengaruh akibat sense ( rasa ) yang semakin hilang akibat fokus hidup tidak lagi keluar dari dirinya melainkan fokus hidup pada diri sendiri ( self ). Kebutuhan primer, sekunder dan lux selalu membayangi alam fikiran dan mengendalikan jiwa, akibatnya menderita ketika harapan tidak tersampaikan.

Menurut Yanuar Pangestu ( 2019), menambahkan soal kejiwaan yang lebih melihat diri, tidak melihat luar diri. Apapun yang dilakukan oleh manusia merupakan apa yang ia kehendaki dalam diri. Peranan penting dalam perilaku yang ditunjukkan adalah dorongan diri untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan. Tetapi sebagai manusia, naluri tidak dapat berdiri sendiri. Karena hakikatnya manusia juga diberi akal untuk dapat berfikir apakah tindakan yang dilakukannya benar menurut norma, aturan sosial yang telah tertanam dalam dirinya.

Bagi Sigmund Freud ( 1856 -1939), manusia termotivasi untuk mencari kesenangan serta menurunkan ketegangan dan kecemasan. Motivasi dalam diri ini diperoleh dari energi psikis dan fisik dari dorongan-dorongan dasar yang mereka miliki.

Imam al-Ghozali berpendapat bahwa al-nafs, al-aql, al-qalb, al-ruh bermakna satu, yaitu al-lathifah al-ruhaniyah atau al-lathifah al- rabbaniyah. Itulah subtansi jiwa yang sebenarnya, sesuatu yang halus (lathifah), ketuhanan (rabbaniyah), dan keruhanian (ruhaniyah). Akhlak adalah keadaan jiwa yang berbentuk bathiniah.

Sang imam, telah meletakkan akhlak bukan sebagai tujuan akhir manusia di dalam perjalanan hidupnya, melainkan sebagai alat untuk ikut mendukung fungsi tertinggi jiwa dalam mencapai kebenaran tertinggi, ma’rifat Allah, yang di dalamnya manusia dapat menikmati kebahagiaannya. Adapun kebahagiaan yang diharapkan oleh jiwa manusia adalah terukirnya dan menyatunya hakikat-hakikat ketuhanan di dalam jiwa sehingga hakikat-hakikat tersebut seakan-akan adalah jiwa itu sendiri.

Mengenali manusia, tidak satu arah biologis, melainkan mengenalinya pada psikologisnya. Karakter yang terbentuk sejak lahir adalah dasar utama mendalami diri. Maka tidak perlu heran jika jiwa tertutup akibat gejala paranoia ( ketakutan jiwa ) akan mempengaruhi diri manusia an-sich.

Kebebasan manusia menurut Ja’far Sulaeman ( 2017) yaitu kebebasan ketika memutuskan menjadi apa, juga berlaku dalam kebebasan menetukan jalan dan pilihan jalan spiritualitasnya, karena spiritualitas adalah tahapan tertinggi dari kemanusiaan seseorang.

Dimensi spiritualitas adalah dimensi mengalami dan merasakan kehadiran, pengalaman kehadiran ini levelnya di atas rasio, hanya mempercayai Tuhan tanpa pernah bisa menjumpainya, maka ini adalah sebagai sebuah bentuk pengingkaran terhadap eksistensi kemanusiaannya yang harus bebas melakukan pencariannya bertemu dengan Tuhan.

Syeikh Ibnu Atho’illah al-Iskandary dalam kitabnya Syarah Hikam, mengurai satu pemaknaan tentang manusia, mengenali manusia.

اُخْرُجْ من اَوْصافِ بَشاَرِيَّتِكَ عن كلِ وَصْفٍ مُنَا قِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الحَقِّ مُجِيبًا ومنْ حَضـْرَتِهِ قـَريْباً

Artinya : Keluarlah dari sifat-sifat kemanusianmu ( sifat buruk dan rendah ), semua sifat yang menyalahi kehambaanmu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Allah SWT dan mendekat kepadanya.

Totalitas diri, yang tumbuh menggumpal di jiwa menjadi kekuatan dalam menghadapi persoalan hidup, kemelut, dan prahara hidup. Sementara kekuatan itu tumbuh dari jiwa yang tenang. (ASR)

Penulis:
Hamdan Suhaemi
Wakil ketua PW Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

Spread the love

Comment here