Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Hikmah

Memadukan Kesalehan Individual dan Kesalehan Sosial

LD-PBNU Jakarta-Tujuan utama diturunkannya al-Qur’an adalah untuk membangun kesadaran manusia dalam menciptakan individu yang saleh serta membangkitkan semangat kesalehan sosial.Mampu memberi pancaran cahaya hidayah, serta nilai positif dalam kehidupan, dan juga menjadi kompas kehidupan menuju manusia paripurna, mulia dan bermartabat.

Al-Qur’an tidak sebatas dapat meluruskan aqidah dan keyakinan dan menuntun ibadah agar benar dan khusyuk di hadapan Allah semata, akan tetapi juga berfungsi sebagai media untuk menjaga dan melindungi kita dari penyimpangan, serta menuntun kepada kebaikan secara konsisten.

Kesalehan Sosial

Islam dan Al-Qur’an dapat menuntun manusia dalam tiga bangunan hubungan. Pertama, membangun hubungan dengan Tuhannya. Kedua, memperkuat hubungan dengan dirinya dan yang terakhir, menyelaraskan hubungan dengan sesama manusia.

Jika menelusuri substansi dari setiap konteks dari teks kesalehan tersebut maka akan lebih terasa dimensi-dimensi sosial yang dikandungnya. Memahami teks Al-Qur’an dengan membatasinya dalam bingkai kesalehan yang ritualistik akan terasa jauh dari tujuan sejati penciptaan teks itu sendiri.

Untuk itu, penting menerjemahkan dan melakukan transformasi terhadap doktrin-doktrin formal dan ritual keagamaan ke dalam ranah kesalehan sosial serta praktis nyata untuk memberikan pertolongan dan pembelaan tentang nilai-nilai kemanusiaan terhadap kaum mustad’afin.

Sebagian besar pemeluk agama cenderung menampilkan formalitas ritual ibadahnya untuk menunjukkan jatidiri mereka dalam beragama, mereka melakukan ketaatan beribadahnya kepada Allah Swt dengan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam melaksanakan ajaran agamanya. Tetapi pada saat yang sama mereka abai, mereka justru meninggalkan esensi ibadah yang sangat berharga dalam kesehariannya, sebuah ibadah yang mempunyai efek nilai sosial positif pada lingkungan sekitarnya.

Dalam melaksanakan amal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt tidak terbatas apa yang ada dalam rukun Islam lima saja, ini menunjukkan bahwa kebaikan seseorang tidak cukup dengan melakukan kesalehan untuk dirinya sendiri, tetapi akan lebih sempurna ketika ia melakukan kesalehan disamping untuk kepentingan dirinya sendiri, juga untuk kepentingan masyarakat di sekitarnya.

Apabila agama terlibat atau dilibatkan dalam konteks destruktif, maka sebetulnya gerakan-gerakan destruktif atas nama agama tidak tepat dikatakan sebagai tindakan kesalehan, sebab motivasi awalnya bukannya masalah agama, tetapi kemudian “diseret” untuk melegitimasi gerakan perlawanan kultural tadi.

Karena itu, saatnyalah agama dikembalikan kepada misi kesalehannya yang tidak dipolitisasi untuk kepentingan perlawanan. Fungsi-fungsi islam sebagai pencerahan etika yang agung, sudah saatnya mengambil alih fungsi doktrinasi dan arogansi keagamaan.

Islam yang humanis, ramah, bersahabat atau lebih tepatnya “islam yang saleh” mestinya telah menjadi simbol-simbol yang mewarnai seluruh sekat-sekat kehidupan sosial, agar islam meninggalkan watak palsunya yang destruktif (mufsid) menuju watak sejatinya yang konstruktif (muslih).

mengapa islam yang saleh? Karena kondisi kekinian memerlukan keberpihakan kepada kemaslahatan umat manusia. “Tuhan tidak perlu dibela” adalah jargon filosofis yang menyiratkan bahwa sebetulnya agama adalah untuk kepentingan manusia bukan untuk Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jadi, kesalehan yang ideal menurut Al-Qur’an adalah kesalehan yang memadukan secara sinergis antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Perpaduan tersebut, boleh jadi, karena dalam setiap kesalehan ritual terdapat unsur kesalehan sosial, demikian pula sebaliknya.

Persoalannya adalah kesalehan ritual tidak dapat diukur ketika tetap dalam bingkainya. kesalehan ritual akan lebih terukur jika ia telah membumi dalam ranah kesalehan sosial. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kesalehan-kesalehan ritual tanpa kesalehan sosial adalah kesalehan yang tidak berarti bagi kehidupan sosial.Dari sini kelihatan, bahwa kesalehan terdiri dua jenis: kesalehan individu dan kesalehan sosial

Apalagi kesalehan juga meliputi sikap kearifan dalam mengelola bumi dengan mengedapankan konsep pemerataan pembangunan yang berkeadilan demi keberlangsungan hidup penduduk dimuka bumi. Inilah prinsip dasar kesalehan dimuka bumi.

Oleh karena itu, penting kiranya untuk menanamkan keyakinan kepada masyarakat luas tentang definisi kesalehan secara tepat, bahwa lingkup kesalehan tidak dibatasi pada kegiatan ibadah individu saja, tetapi juga mencakup kesalehan secara kolektif, inilah puncak peradaban manusia.

Kesalehan tidak berhenti pada kegiatan ritual semata, seperti ibadah tengah malam dengan memperbanyak rakaat, berlama-lama bersujud, memperbanyak doa dan zikir dalam kesendiriannya, tetapi yang diharapkan dalam kesalehan, ketika melakukan ibadah tersebut dengan melibatkan dan mendoakan orang lain, baik keluarga dekatnya, jamaah dan masyarakat sekitarnya, misal dengan solat berjamaah, berdoa bersama, istighotsah kubro, jamiyah tahlil, nariyah, hadiyu, dan lainnya.

Kesalehan Sebagai Itsar

Kesalehan sosial dalam Al-Qurán disebut dengan istilah itsar (mendahulukan orang lain). Itsar merupakan kemuliaan bagi jiwa yang membuat seseorang menahan dirinya dari keperluan yang dibutuhkan olehnya untuk diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Syeikh Abdul Wahab Al-sya’roni, tokoh sufi abad ke-10, mengatakan bahwa itsar adalah kebiasaan kaum sufi yang dicintai oleh Allah SWT. Karena itu, Allah SWT memuji mereka, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al- Hasr: 9

….dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”

Ibn Miskawaih menjelaskan, Itsar adalah kemuliaan (karom), rasa menghibur, saling lapang dada. Yang dimaksud Karom disini adalah menginfakkan harta secara mudah untuk urusan yang mulia dan manfaat yang banyak sebagaimana mestinya, dengan syarat-syarat kedermawanan.

Termasuk dalam kategori kesalehan,selain kegiatan di luar ibadah yang berhubungan dengan Tuhan (habl min Allah), juga tentunya kegiatan terkait hubungan dengan sesama manusia (habl min al-Nas), seperti gerakan kepedulian sosial, kegiatan gotong-royong membangun kebersamaan dengan warga, kelompok dan masyarakat sekitar terkait lingkungan dan dompet kemanusiaan. Dalam kontek pandemi ini temasuk mematuhi protokoler kesehatan, tetap di rumah dan apapun yang mempunyai asas manfaat secara kolektif serta mengurangi resiko kerusakan kepada lingkungan sekitar.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang kesalehan dari kata Shalaha dan derivasinya sebanyak 180 kali, 30 persennya dibarengi dengan kata keimanan (seperti alladzina amanu wa amilu al-shalihat). Ini menunjukkan bahwa keimanan adalah fondasi dasar dalam beramal saleh, keduanya ada selalu beriringan. Kesalehan tak terpisahkan dengan kesempurnaan iman, sebaliknya kesalehan tak berarti apa-apa tanpa dibarengi dengan keimanan

Pada akhirnya, kesalehan sosial bertujuan untuk mencapai nilai-nilai sosial melalui gerakan yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan merupakan bagiandalam upaya untuk menghilangkan strata sosial yang timbul dari kepedulian sosial dari dalam diri masing-masing.

Dr. H. Sa’dullah Affandy, MA.
Katib Syuriah PBNU
Atase Ketenagakerjaan KBRI Riyadh

*Sumber detikcom. (Redaksi)

Spread the love

Comment here