Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

ArtikelTokoh

Materi Dakwah K.H. Hasyim Asy’ari

Samsul Marif

Jakarta, Dakwah NU
K.H. Hasyim Asy’ari semasa hidupnya banyak sekali memberikan jasa dan kontribusi terhadap Islam, negara, pendidikan dan lain sebagainya. Kontribusi tersebut apabila dilihat dari sudut pandang pendidikan maka K.H. Hasyim adalah tokoh yang dapat dihargai seorang pendidik, begitu pula dalam pandangan kenegaraan maka K.H. Hasyim Asy’ari adalah seorang negarawan dan lain sebagainya. Namun, dalam kesempatan ini akan diteliti dari sudut dakwah dengan berbagai sudut pandang dakwahnya.

Dakwah sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, harus ada materi, mempunyai sifat memperbaiki dan adanya argumentasi sehingga orang mendapatkan dakwah (mad’u) dapat terpengaruh atas dakwah tersebut. K.H. Hasyim Asy’ari sebagai da’i maka juga mempunyai materi tertentu yang dapat dikaji dari sudut dakwah itu sendiri.

Pengertian Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah
Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah (Aswaja) yang dimaksud oleh K.H. Hasyim Asy’ari adalah kelompok yang dianggap selamat, dan mereka merupakan ahli tafsir, hadits, fiqh dan berpegangan dengan sunnah Rasul dan pendapat Khalifah empat. Dalam bidang fikih mengikuti salah satu dari mazhab empat yaitu Imam Hanbali, Imam Syafii, Imam Maliki dan Imam Hanafi.

Pada sisi lain K.H. Hasyim Asy’ari juga secara tidak langsung menyatakan bahwa aswaja adalah kelompok yang mengikuti mazhab Syafii, ushuludin mengikuti mazhab Abu Hasan al-Asyari dan tasawuf mengikuti mazhab al-Ghazali dan Abu Hasan al-Syadzili, sebagaimana yang diikuti oleh penduduk pribumi (Jawa) Islam pada masa lalu.

Dari pendapat dan keterangan di atas, nampak sekali bahwa K.H. Hasyim Asy’ari mencoba untuk mempertahankan tradisi Islam yang sudah ada di Jawa. Padahal Islam yang modern seperti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha beliau mengenalnya dengan baik. Bahkan K.H. Hasyim Asy’ari juga menganut sebagian ide Abduh sebagai upaya revitalisasi komunitas muslim yang tengah dijajah.

Adapun alasan penggunaan salah satu mazhab empat adalah pertama, umat telah sepakat dalam memahami syariat berpegangan dengan ulama salaf, tabi`in berpegangan dalam syariah kepada sahabat Nabi. Tabiin tabiin berpegangan pada kaum tabiin. Begitu pula setiap ulama dalam masalah syariat berpegangan dengan ulama sebelumnya. Hal seperti ini secara akal menunjukkan fenomena yang baik, sebab Syariat tidak akan diketahui kecuali dengan dalil naql dan istinbâth. Padahal dalil naql tidak akan benar dan lurus kalau tidak mengambil dari kelompok sebelumnya secara berangkai (kontinyu). Dalam istinbath harus mengetahui mazhab yang lebih dahulu, agar tidak keluar dari pendapat mereka yang mengakibatkan berbeda dengan kesepakatan (Ijma’). Begitu pula pola bangunan dalam istinbat pun harus sesuai dengan mereka, sebab mereka adalah ahlinya.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa semua bentuk profesi itu harus mengikuti jejak ahlinya. Khusus untuk syariat yang mempunyai keahlian adalah ulama salaf yang memang telah mengerti dengan baik cara menetapkan hukum dan mereka juga mendapatkannya secara muttasil (bersambung) dari ulama sebelumnya. Karena kita mempunyai jarak yang jauh dengan ulama salaf maka yang menjadi pegangan adalah mazhab empat yang sudah teruji. K.H. Hasyim mengganggap mazhab Imam Imamiyah dan Zaidiyah adalah bid’ah tidak bisa dijadikan pegangan.

Kedua, adalah sabda Nabi Muhamad saw yang berbunyi, ikutilah golongan terbesar. Sedangkan empat mazhab tersebut adalah kelompok besar, dan meninggalkan salah satu mazhab tersebut berarti meninggal salah satu kelompok besar.

Ketiga, keadaan zaman yang sudah begitu hancur, di mana sudah susah ditemukan ulama yang benar, kebanyakan orang sudah tidak amanat. Oleh karena itu, orang harus kembali ke tradisi yang mengikuti tradisi para ulama salaf yang jujur dan amanat.

Selain dari itu, K.H. Hasyim Asy’ari juga menyatakan bahwa sebagian besar tokoh Islam mengikuti salah satu mazhab empat, seperti Imam Bukhari, Ibn Khuzaimah dan al-Nasâi yang mengikuti mazhab Syafii, dari jalur al-Hamîdî, Za’farani dan al-Karâbisî. Imam Junaid al-Baghdadi mengikuti mazhab Tsauri dan lain sebagainya.

Selain empat mazhab, sebenarnya K.H. Hasyim Asy’ari juga mengakui beberapa mazhab lainnya, seperti mazhabnya Auza’i, Daud al-Zhahiri, dan Ishaq ibn Rahaweh. Hanya saja mazhab-mazhab tersebut sebaiknya tidak diikuti karena tidak memenuhi standar yang dapat menghindarkan dari perubahan.

Berkaitan dengan beberapa pemikiran yang muncul pada saat itu, seperti pemikiran Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridha yang diperoleh dari Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab, Ibn Taimiyah, dan dua muridnya Ibn al-Qayyim dan Ibn ‘Abd al-Hadi K.H. Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa pemikiran tersebut dianggap sebagai kurang dalam beberapa fatwanya. Fatwa yang dianggap tidak sesuai antara lain mengenai ziarah kubur Nabi Muhammad saw.

Kelompok lain yang dianggap bid’ah dan merusak sistem keagamaan yang sudah mapan di Jawa adalah Rafidiyah, Abahiyah, hulûl, reikarnasi (tanâsukh al-Arwah). Penjelasan dari itu adalah sebagai berikut:

  1. Rafidiyah. Kelompok ini menurut K.H. Hasyim Asy’ari adalah kelompok yang menghina sahabat Abu Bakar dan Umar dan membenci para sahabat lainnya. Akan tetapi mereka menjunjung tinggi sahabat Ali ibn Abu Thalib. Menanggapi kelompok ini, K.H. Hasyim Asy’ari dengan mengutip dari beberapa ulama menyatakan bahwa kelompok ini adalah sesat. Kesesatan mereka antara lain dikarenakan telah menghina dan membenci sahabat Nabi Muhammad saw. Padahal menghina dan membenci sahabat sama dengan membenci Nabi Muhammad. Kaidah ini didasarkan pada hadits yang menyatakan bahwa membenci sahabat adalah salah satu bentuk membenci Rasul Allah dari Abdullah ibn Maghfal.
  2. Abahiyyun. Kelompok ini menurut K.H. Hasyim Asy’ari yang mengutip dari pendapat ulama, adalah kelompok yang menyatakan bahwa seorang hamba apabila telah sampai pada mahabbah yang sebenarnya, hatinya telah bersih dari lupa dan keimanannya sudah benar-benar iman maka ia telah gugur dari perintah dan larangan, dan ia menganggap dirinya tidak akan dimasukan neraka oleh Allah swt walaupun berbuat dosa besar. Sebagian dari mereka juga ada yang menyatakan bahwa sudah tidak perlu lagi beribadah secara zhahir, dan ibadahnya hanya cukup tafakur dan memperbaiki akhlak kebatinan. Kelompok ini adalah sesat, kufur dan zindik.
  3. Tanâsukh al-Arwah. Kelompok ini adalah kelompok yang mengakui adanya perpindahan ruh orang yang telah mati pada orang lain baik sejenis atau tidak. Baik tidaknya, nikmat atau celakanya tergantung pada keseharian mereka pada waktu masih hidup. K.H. Hasyim Asy’ari sependapat dengan al-Syihab al-Khafaji yang menyatakan kafirnya orang tersebut karena telah membohongi al-Qur’an, Hadits dan Nabi Muhammad saw.
  4. Hulûl dan ittihâd. Kelompok ini oleh K.H. Hasyim Asy’ari dianggap sebagai kelompok tasawuf/sufi yang bodoh. Karena dengan pendapat mereka yang menyatakan bahwa wujud Allah adalah mutlak dan tidak ada wujud selain Allah sama sekali. Pemikiran ini dianggap sebagai kafir yang nyata.

Artikel terkait: Sosok dan Kiprah K.H. Hasyim Asy’ari

Penulis:
Dr. KH. Samsul Ma’arif
Pengurus Lembaga Dakwah PBNU
Ketua PWNU DKI Jakarta

Spread the love

Comment here