Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

NasionalPendidikan Islam

Lembaga Perguruan Tinggi NU Mengkritisi Pendidikan Indonesia

Jakarta, LD-PBNU – Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) mengadakan focus gorup discussion dengan tema, Pendidikan Indonesia: Masalah, Solusi, dan Tantangan Masa Depan. Acara FGD tersebut digelar pada tanggal 26 Februari 2020, di ruang rapat lantai 5 gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.

Ketua PBNU Bidang Pendidikan dan Perguruan Tinggi, KH. A. Hanief Saha Gofur memantik diskusi dengan menyinggung pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa Indonesia. Diskusi ini dihadiri beberapa panelis diantaranya Rektor PTNU Prof. Masykuri, Perwakilan Majelis Pendidikan Kristen bapak Hansen, dan Ketua Umum PGRI Ibu Unifah Rosyidi.

Pada kesempatan ini Prof. Masykuri menyampaikan hasil forum rektor yang membahas permasalahan mahasiswa di perguruan tinggi  diantaranya, peninjauan akreditasi 25 tahun dengan tinjauan 5 tahun sekali, alumni perguruan tinggi minimal 80% harus sudah kerja, dan tidak ada laporan bahwa masyarakat dirugikan.

Prof. Masykuri melanjutkan dengan memberikan masukan dalam forum rektor tersebut, “pendirian program studi tidak berbasis portofolio tetapi dengan kemitraan dan memiliki reputasi, dan BUMN akan mengklasifikasikan kelas kelas Perseroan Terbatas (PT) dari low, midle, hingga high class untuk bermitra dengan perguruan tinggi.”

Hal ini dikarena perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang mengarah kepada kapitalisme belum kepada karakter. Pendidikan karakter, spiritualitas  selalu terabaikan, pendidikan karakter harus diperjuangkan untuk perguruan tinggi. Prof. Masykuri, menambahkan.

Sementara, Hansen selaku perwakilan majelis pendidikan kristen mengatakan, pendidikan sekarang dijadikan seperti Perseroan Terbatas (PT) sebab dikenakan pajak, dan juga salah satu akreditasi sekolah adalah penguasaan gedung dan tanah, ini agak sulit karena tidak diberikan hak sepenuhnya kepada yayasan.

Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi menyatakan bahwa perlunya ada pendekatan secara struktura dan kulturan dala menuikapi perndaan dalam pendidikan.

“Dibutuhkan pendekatan untuk membuat sebuah kebijakan yang baik untuk pendidikan. Sebab pendidikan makin ke sini bukan makin baik dalam aspek struktur, kultur, dan akademik. Pendekatan ini harus dibangun respek dan menghormati. NU sama dengan PGRI menghormati dan respek terhadap perbedaan.” sergahnya.

Kegiatan diskusi ini didasari karena adanya kesadaran untuk mensejahterakan masyarakat melalui pendidikan. Seluruh organisasi masyarakat harus bahu membahu memberikan kekuatan agar terwujudnya pendidikan Indonesia yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Unifah, ketua umum PGRI menambahkan. (ASR)

Pewarta : Abdullah Fakih
Editor     : Abdus Saleh Radai

Abdus Saleh Radai
Latest posts by Abdus Saleh Radai (see all)
Spread the love

Comment here