Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Daerah

LD PBNU Gelar Kegiatan Psikososial dan Implementasi Modul di SDN Inpres Arso VIII Keerom Papua

Keerom, Dakwah NU
Tim Pendamping Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) bersama fasilitator wilayah, pada hari ketujuh, Kamis (3/12/2020) berkunjung ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Arso VIII Kabupaten Keerom Papua. Kunjungan ini dalam rangka asesmen dengan pihak sekolah yakni guru termasuk para orang tua wali murid.

Selain itu, kunjungan ini sekaligus sosialisasi program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Direktorat Sekolah Dasar, yaitu program kejar mutu (Jarmut) bagi Sekolah Dasar yang berada di Kabupaten Keerom Papua.

Tim Pendamping yang terdiri dari Abdus Saleh Radai (ASR), Abdul Qodir, dan Abdullah Faqihuddin Ulwan bersama fasilitator wilayah yang terdiri dari Moh. Dimyati, Manaf Syarifudin, Masruri Sahar, Maman Suherman, dan Sutrisno berangkat pada pagi hari dan mendapatkan kesan perjalanan yang sangat memacu adrenalin, jalanan berlubang besar-besar dan berlumpur.

Pagi hari tim berangkat dari basecamp Arso III ke SDN Inpres Arso VIII diiringi teriknya matahari melewati jalan berlubang serta membelah perbukitan dan melesat di antara hutan belantara. Hutan yang dikelilingi berbagai pohong pinang, perkebunan liar, serta langit berselimut awan indah di tanah Papua menjadi pemandangan pagi itu.

Sesampainya di lokasi, kepala sekolah, pengawas bina gugus sekolah I, dan segenap guru menyambut dengan sangat hangat, fasilitator pendamping bersama fasilitator wilayah beramah tamah di ruang guru berbicara hangat seputar perkembangan siswa siswi dan sekolah selama melalukan belajar dari rumah (BDR) karena pandemi Covid-19. Pada saat ramah tamah tim fasilitator juga mendapati jumlah keseluruhan siswa yakni sebanyak 161 anak dengan 50 putra daerah Papua.Kegiatan di sekolah model ini menurut kepala sekolah yang juga kepala suku, masih full daring.

Ramah tamah antara Fasilitator dan Guru SDN Inpres Arso VIII

Setelah ramah tamah, fasilitator bersama segenap guru memasuki ruangan untuk melaksanakan sosialisasi implementasi modul, asesmen dan psikososial. Diawali dari sambutan Kepala SDN Inpres Arso VIII Bapak Elias Tabuni, S.pd. mengucapkan selamat datang rasa syukurnya atas kehadiran Kemndikdbud RI, para fasilitator pendamping dan fasilitator wilayah.

“Kami ucapkan selamat datang, kami bersyukur di Keerom ini banyak sekolah, tetapi dari kemendikbud ini dipilih sekolah kami SDN Inpres Arso VIII,” kata Bapak Elias yang juga Kepala Suku Tabuni Papua ini.

Terkait program kejar mutu sekolah, ia beranggapan teradapat dua penilaian mutu, “Mutu ini ada dua, mutu yang disebut dengan kualitas, kualitas anak anak peserta didik dan kualitas sekolah kita,” tuturnya menjelaskan.

Ia bercerita di Kabupaten Keerom ini bukan mengejar mutunya tapi mengejar uang, terbukti dari fasilitas yang tidak pernah diperbaharui dari pemerintah. Di Jawa ia bercerita banyak bangunan yang masih kokoh karena mengejar mutu, tetapi kalau di Papua dia mengejar uang. “Jadi tolong perhatikan sekolah ini, kualitas bangunan di sini,” pintanya kepada fim fasislitator.

Tidak hanya itu, ia juga bercerita, pernah ada seseorang yang mengaku dari kementerian menipu sekolah dengan meminta uang 5 juta “Tolong kalau ada bantuan seperti itu tolong lewat dinas terlebih dahulu agar kami jelas. Semoga dengan ada acara ini akan membawa ke perubahan yang lebih baik,”. Sebagai informasi, sebelum mengunjungi sekolah-sekolah di Kabupaten Keerom Papua, tim fasilitator sudah ke Dinas Pendidikan Keerom Papua dan disambut baik oleh Kepala Dinas Pendidikan Keerom.

Baca juga : Kadis Pendidikan Keerom Berikan Arahan Problem Solving dengan Berbagai Metode

Selanjutnya, sambutan dari pengawas pembina gugus sekolah I, Bapak Purwinurwan sangat bersyukur karena di masa pandemi ini kegiatan program kejar mutu dapat terlaksana, “Puji tuhan kita bisa bertatap muka walaupun masa pandemi ini semua berkat tuhan. Saya ucapkan terima kasih kepada sekolah yang menyambut dengan baik dan terima kasih kepada fasilitator yang mau hadir ke sini,” ujarnya

Ia menjelaskan, di kemendikbud ini ada kerja sama penugasan untuk mempercepat mutu kualitas pendidikan anak anak di masa pandemi, “Masa sulit kita untuk belajar, gaboleh ketemu dengan guru, tidak ada pertemuan orang tua dengan guru, keadaan seperti yang menyulitkan pendidikan kita,” keluhnya.

SDN Inpres Arso VIII ini terpilih dari salah satunya di Kecamatan Arso, ada SDN Inpres Arso 6 dan SDN Inpres I Arso I. Orang tua kelas empat, kelas lima, dan kelas enam dikumpulkan untuk diikutsertakan, karena program kejar mutu sekolah terfokus pada kelas empat, kelas lima, dan kelas enam.

“Saya melibatkan semua guru karena untuk menyerap dan menularkan untuk semua anak anak. Jadi apabila program ini baik, saya akan gunakan ini di seluruh wilayah Keerom, saya akan bawa laporanya ke diknas, dan saya akan mengawasi terus,” ujarnya menjelaskan dengan semangat.

Untuk para guru, menurutnya hal ini bukan pekerjaan tambahan, menurutnya hal ini masih pekerjaan guru. Oleh karena itu, ia meminta bapak ibu guru, orang tua dan komite sekolah untuk mengikuti program ini hingga selesai. Terkait LD PBNU dilibatkan dalam program ini, ia menuturkan bahwa LD PBNU diberikan tugas kepada Kemendikbud RI untuk menyosialisasikan program kejar mutu menguatkan mutu di lima sekolah di kabupaten Keerom Papua ini.

“Semoga kehadiran mereka membawa kemajuan dan kebermanfaatan untuk sekolah arso VIII,” harapnya mengakhiri.

Sosialisasi program kejar mutu (Jarmut) Sekolah Dasar

Menanggapi paparan kepala sekolah dan pengawas gugus sekolah I, Abdus Saleh Radai, ketua pelaksana tim pendamping fasilitator mengaku bahwa sekolah SDN Inpres Arso VIII yang membuat dirinya menyegerakan kunjungan ke kantor dinas pendidikan untuk menyosialisasikan program kejar mutu sekolah tersebut.

“Setelah mendengar dari sambutan kepala sekolah, saya agak nyambung, sebenarnya saya komunikasi dengan sekolah ini sudah lama tapi tiba tiba putus entah karna sinyal atau apa (atau di blokir). Sepintas pak warno (Operator Sekolah) cerita banyak sekali penipuan di sekolah dengan embel embel ada bantuan,” cerita Abdus menanggapi.

Menurut Abdus, terkait program kejar mutu, memang jalur yang benar untuk ke sekolah-sekolah adalah ke kepala dinas pendidikan setempat terlebih dahulu, “Kita sudah kunjungan untuk minta izin dan sosialisasi, Alhamdulillah diizinkan, bahkan pak Kadis mensupport penuh kegiatan ini,” tuturnya.

“Kita membawa amanat program kejar mutu melakui kegiatan psikososial dan penguatan implementasi modul di masa pandemi covid-19 ini,” lanjutnya menambahkan.

Lima sekolah yang sudah ditentukan pusat itu mendapatkan sosialisasi dan modul. Ada tiga modul yang diberikan untuk tiap tiap sekolah, modul siswa, modul orang tua, dan modul guru. Yang menarik dari program ini adalah para orang tua mendapatkan modul untuk pegangan pembelajaran anak anaknya. Dari penuturan Abdus, terkait fisik modul masih dalam proses percetakan dan akan didistribusikan dan akan sampai ke Keerom di pertengahan bulan Desember.

Sedangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sudah dibuatkan, jadi ibu bapak guru tidak perlu sulit karena sudah dibuatkan. Namun RPP tersebut dibuat hanya sekedar patokan dan akan lebih baik jika RPP tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan siswa. Sebab bapak ibu guru yang tau persis apa kebutuhan siswa dan sekolah.

Saat ini, pandemi menurunkan mutu belajar siswa dan mutu sekolah, jadi program pemulihan dan peningkatan mutu belajar ini akan dimaksimalkan agar supaya prestasi anak akan meningkat lagi. Jadi tujuan utamanya adalah mandiri siswa belajar selama masa belajar dari rumah.

“Jadi nanti orang tua akan diarahkan untuk membuat anak anaknya belajar di rumah, semuanya itu dikemas jadi satu pada modul itu,” tutur Abdus yang juga Pengurus LD PBNU ini.

Abdus menyampaikan, Direktur Sekolah Dasar Ibu Sri Wahyuningsih mengatakan bahwa kabupaten Keerom atau kabupaten lain yang ditunjuk sudah hijau artinya sudah boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka. “Dari kita menyarankan ada pembelajaran tatap muka, baik itu home visiting ataupun shift,” sarannya.

Diskusi Ketua Pelaksana dengan Kepala Sekolah SDN Inpres Arso VIII terkait pembelajaran di sekolah masa pandemi

Di sela sela menjelaskan Kepala Sekolah menanggapi paparan Abdus, ia menjelaskan “Mulai bulan Agustus kita jalankan home visiting dan akhirnya kita evaluasi dan itu banyak kesulitan jadinya kita menggunakan shift belajar,” tutur kepala sekolah menanggapi.

Mendengar tanggapan tersebut, Abdus sangat mengapresiasi apa yang dilakukan kepala sekolah yang sangat perhatian terhadap siswa siswinya. “Ini sikap pendidikan yang luar biasa dari Arso VIII yang patut dijadikan pembelajaran,”. Apresiasi tidak hanya ditujukan terkait keberanian kepala sekolah, sebab Abdus juga mengapresiasi SDN Inpres Arso VIII yang kepala sekolahnya asli Papua dan juga Kepala Suku.

Abdus juga melihat banyak para guru multikultural baik dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua yang ada di sekolah ini. “Di sini juga kami banyak belajar sebab melihat masjid gereja wihara bisa damai dan berdammpingan, selain itu ada tiga mata pelajaran agama di sekolah, hal itu luar biasa dan tidak ditemukan di ibu kota jakarta,” tutur Abdus dengan kagum.

Terakhir ia mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi para guru dan orang tua karena mampu mendampingi anak anak belajar walaupun di tengah pandemi.

Fasilitator Pendamping, Abdul Qodir saat menjelaskan modul

Pada sesi penjelasan modul, Abdul Qodir, yang juga fasilitator pendamping menyampaikan bahwa banyak sekali keluhan di masa pandemi, Qodir menjelaskan, belajar daring tidak semuanya dapat mengerti. Bahkan saat ini di masa pandemi banyak sekali orang tua yang mengerjakan tugas anaknya. Padahal menurutnya pendidikan yang baik merupakan bekal masa depan bagi siswa siswi.

Terkait modul ia menjelaskan bahwa apabila modul ini sudah tersampaikan maka akan tercipta siswa mandiri dalam belajar. Qodir menjelaskan modul dititik tekankan pada literasi dan numerasi, anak diajarkan bercerita sesuai dengan apa yang anak anak lakukan kesehariannya.

“Penekan literasi ini mengasah anak anak untuk pandai bercerita dan dapat berkomunikasi antara orang tua dan anak. Jadi orang tua dapat mengetahui perkembangan anak sambil mendampingi pembelajaran anak,” jelasnya Qodir yang juga Dosen Unusia ini.

Terakhir ia mengucapkan terima kasih banyak atas kehadiran dan antusias sekolah dalam pelaksanaan program kejar mutu kemendikbud ini, dari data asesmen yang didapat, ia akan bawa ke pusat agar sekolah yang dituju dapat diperhatikan sebagaimana mestinya.

Faqih, Fasilitator Pendamping Bermain bersama Anak Anak dan Bercerita Terkait Pemebelajaran dari Rumah

Pada saat asesmen para guru dan orang tua yang didampingi fasilitator wilayah, anak anak diterapkan pelaksanaan psikososial dengan bercerita terkait sembilan bulan belajar dari rumah dan bermain game tali sepatu. Sebagai pendamping psikososial pada saat kegiatan tersebut adalah Faqih, salah satu tim pendamping dari pusat bersama Abdus dan Qodir.

Pendampingan Psikososial dengan Bercerita dan Bermain Game Tali Sepatu

Banyak hal yang ditanyakan faqih saat psikososial, mulai dari apa yang menjadi kesukaan anak anak dalam belajar di sekolah ataupun di rumah, mata pelajaran yang disukai, belajar dengan siapa ketika di rumah, hingga pertanyaan terkait ketersediaan fasilitas pembelajaran di rumah seperti handphone android. Dengan menyesuaikan layaknya seusia si anak dalam bertanya dan memberikan semangat, hingga akhirnya anak anak memberikan respon yang positif terhadap pertanyaan pertanyaan yang diberikan.

Faqih menuturkan, ada beberapa alasan anak anak mengeluhkan pembelajaran secara daring diantaranya; pertama, tidak paham dengan apa yang disampaikan guru sebab disampaikan secara daring, kedua, tidak ada yang mendampingi dalam belajar di rumah, ketiga, orang tua atau kaka memiliki kesibukan lain sehingga sulit membantu belajar, keempat, mood anak anak tidak begitu baik dan tidak terjaga saat belajar di rumah dikarenakan berbeda suasana, kelima, ada beberapa siswa yang terkendala alat komunikasi yang terkadang susah sinyal. (fqh)

Spread the love

Comment here