Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Daerah

LD PBNU Gelar Kegiatan Psikososial dan Implementasi Modul di SDN Inpres Arso VI Keerom Papua

Keerom, Dakwah NU
Tim Pendamping Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) bersama fasilitator wilayah, pada hari keenam, Rabu (2/12/2020) berkunjung ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Arso VI Kabupaten Keerom Papua. Kunjungan ini dalam rangka asesmen dengan pihak sekolah yakni guru termasuk para orang tua wali murid.

Tidak hanya itu, kunjungan ini sekaligus sosialisasi program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Direktorat Sekolah Dasar, yaitu program kejar mutu (Jarmut) bagi sekolah dasar yang berada di Kabupaten Keerom Papua.

Perjalanan ke SDN Inpres Arso VI sangat berkesan dan memacu adrenalin, sama seperti hari sebelumnya, pagi hari tim berangkat diiringi hujan menembus jalan berlubang membelah perbukitan dan melesat di antara hutan belantara. Hutan yang dikelilingi berbagai pohong pinang, perkebunan liar, serta langit berselimut mendung di tanah Papua menjadi pemandangan pagi itu.

Sesampainya di lokasi, kepala sekolah, komite sekolah, dan segenap guru menyambut dengan sangat ramah, fasilitator pendamping bersama fasilitator wilayah beramah tamah di ruang guru berbicara hangat seputar perkembangan siswa siswi dan sekolah selama melalukan belajar dari rumah (BDR) karena pandemi Covid-19. Pada saat ramah tamah tim fasilitator juga mendapati jumlah keseluruhan siswa yakni sebanyak 161 anak dengan 51 putra daerah Papua.

Ramah tamah antara Fasilitator dan Guru SDN Inpres Arso VI

Pada sebuah kesempatan saat ramah tamah, Arnold, perantau asal NTT, Seorang guru pendidikan agama katolik di SDN Inpres Arso VI menyampaikan keluhannya sebagai guru kontrak daerah. Menurut pengakuannya upah pegawai kontrak sangat minim dan tidak sesuai dengan harga kebutuhan pokok di Papua yang sangat tinggi.

“Gaji tidak cukup, buat beli minyak saja kadang tidak cukup. harus utang kesekolah untuk kebutuhan sehari-hari. Saya berharapa ada pengangkatan guru kontrak sebagai PNS, karena kami sudah aktif dapodik sudah KKG dan PGG. Tenaga honorer lebih rendah lagi, karena hanya di bebankan kepada dana BOS. Kesempatan bapak dari pusat turun ke bawah, tolong perjuangkan, nasib kami di Papua,” ujarnya, di ruang perpustakaan yang habis dibobol maling.

Setelah ramah tamah, fasilitator bersama segenap guru memasuki ruangan untuk melaksanakan sosialisasi implementasi modul, asesmen dan psikososial. Diawali dari sambutan Kepala SDN Inpres Arso VI Juariah, S.Pd. mengucapkan selamat datang untuk para fasilitator pendamping dan fasilitator wilayah.

Ia berharap dengan hadirnya para fasilitator ke SDN Inpres Arso VI dapat memperbaiki mutu belajar siswa. Ia juga meminta fasilitator membawa semua keluhan sekolah ke pusat (kemendikbud) agar segera ditindaklanjuti.

“Saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya, walaupun dengan jarak satu hari dari informasi yang disampaikan tapi kita memaksimalkan persiapan sosialisasi program kejar mutu di sekolah kami. Tolong mungkin yang menjadi keluhan kita diperhatikan juga, baik dari dapodiknya dan lainnya,” katanya saat membuka sambutan.

Ia bercerita, peningkatan mutu belajar di Papua bagi sekolah sangat berat, baik dari sarana prasarananya yang kurang memadai ataupun semangat anak dan guru dalam belajar,  “ya begitulah, kita mau akreditasi kita pele pele (sekat sekat_red) saja itu ruang ruangan hanya untuk memenuhi akreditasi saja,” keluhnya.

“Kami mohon, dengan kehadiran bapak bapak, mohon fasilitas kami dapat dilengkapi dan dimaksimalkan,” sambungnya menekankan kembali agar mutu belajar siswa meningkat dengan adanya pengadaan fasilitas sarana dan prasarana.

“Saat ini kita belum membuka luring atau tatap muka, jadi yang punya android kita belajar daring full dan yg hp kayu (non android) beberapa anak dipanggil ke sekolah untuk mendapatkan tugas,” terang Ibu Kepala Sekolah.

Sementara itu komite SDN Inpres Arso VI, Bapak Egidius Unab berharap dengan adanya sosialisasi program kejar mutu sekolah dasar ini, mutu sekolah kami jadi jauh lebih baik. “Baik dari pendidik ataupun sekolah kami, jadi lebih baik. Kami berterima kasih sekali atas perhatiannya, karena di masa pandemi, mutu belajar kami menurun sekali,” tuturnya menjelaskan.

Ia menyampaikan pembelajaran di masa pandemi ini membuat anak anak ini kurang begitu meyakinkan dalam mutu pembelajaran. Orang tua pun kesulitan mengatasi guru, dengan ini kerja sama antara guru dan orang tua dapat maksimal. Kita memang memaklumi sebab penyakit ini mematikan, tetapi kalau begini terus, bagaimama nasib anak anak, sekolah hanya lewat online (daring), begitu ia menjelaskan.

“Di semester kedua kami memohon agar sekolah lebih diaktifkan lagi walaupun di masa pandemi. Semoga dapat segera berjalan begitujuga arahan dari dinas,” harapnya.

Tidak hanya melaporkan keadaan pembelajaran, ia juga memberi saran agar sekolah atau pembelajaran tatap muka tetap digelar, “Seperti belajar dengan kelompok kelompok kecil kelas, tidak masalah di luar sekolah, yang penting anak anak bisa belajar dengan baik dan bertatap muka langsung dengan dewan guru. Apabila tatap muka, guru akan mengenal muridnya,” ujarnya memberikan saran.

Menurutnya SD ini merupakan dasarnya masa depan anak anak, apabila dasarnya sudah bagus dan kokoh, maka SMP, SMA, hingga Kuliah pun akan turut bagus nantinya. “Semoga dengan program ini, baik sekolah dan para siswa dapat tertata lebih bagus dan jauh lebih baik dari apa yang diharapkan,” katanya.

“Terima kasih atas kehadirannya, semoga mutu sekolah dasar kita akan lebih baik lagi,” sambungnya mengakhiri.

Pengawas Bina Gugus Sekolah I, Bapak Purwinurwan memberikan sambutan kegiatan, ia menjelaskan
bahwa SDN Inpres Arso VI, sejak sembilan bulan lalu (mulainya pandemi Covid-19) menggunakan mix methode dalam pembelajaran yakni dengan luring dan daring salah satunya dengan whatsapp.

“Mungkin juga dengan hp hp kayu (non android) dengan sms bagi yang tidak memiliki hp android dan juga luringnya dengan menyampaikan tugas berupa dokumen untuk anak anaknya dan dikembalikan ke sekolah apabila sudah selesai,” tuturnya bercerita.

Ia juga bercerita, sebelumnya ada beberapa guru yang mengunjungi anak anak ke rumah masing masing untuk meninjau situasi belajar anak di rumah. Pada saat memberikan sambutan, Bapak Purwinurwan menjelaskan maksud dan tujuan fasilitator pusat dan wilayah hadir ke SDN Inpres Arso VI kepada para guru dan orang tua yang hadir.

“Tujuan kehadiran mereka yang ditugaskan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan adalah membantu mutu pendidikan, mempercepat mutu pendidikan ini cepat tercapai,” ujarnya.

Karna tugas ini melekat pada kelas 4, 5, dan 6, maka pengawas mengarahkan untuk menghadiri anak anak beserta orang tuanya, begitu juga para guru untuk ikut agar mengetahui programnya. “Harapannya para guru dapat mengikuti dengan baik dan ilmunya dapat dimanfaatkan dengan baik di rumah maupun di sekolah,” ucapnya.

Sebagaimana yang disampaikan Bapak Purwinurwan, orang tua juga mendapatkan modul sehingga dapat digunakan untuk belajar. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa tugas bapak ibu yang hadir adalah untuk menularkan kepada orang tua lain yang tidak hadir. Sehingga para orang tua yang tidak hadir mendapatkan ilmu seperti yang ibu bapak dapatkan.

Sosialisasi program kejar mutu (Jarmut) Sekolah Dasar

Pada kesempatan yang sama, Abdus Saleh Radai, ketua pelaksana program kejar mutu Kemendikbud RI, mengucapkan terima kasih banyak kepada kepala sekolah yg telah bersedia bekerjasama dengan LD PBNU dalam kegiatan ini. “Kita bertugas menyampaikan program kegiatan yang diamanahkan oleh Direktur Sekolah Dasar Ibu Sri Wahyuningsih dengan nama program kejar mutu sekolah dasar melalui kegiatan assesmen, psikososial dan implementasi modul,” ungkapnya.

Baca juga : Kadis Pendidikan Keerom Berikan Arahan Problem Solving dengan Berbagai Metode

Abdus menuturkan, program ini merupakan langkah awal menuju kesuksesan sekolah dasar. Kemendikbud melalui LD PBNU ingin memastikan anak dapat belajar secara mandiri, setelah guru mampu mengimplementasikan muatan modul yang sudah disiapkan, serta melalui pendampingan orangtua yang maksimal dalam mendampingi belajar anak-anaknya.

“Kita sudah sembilan bulan melaksanakan belajar dari rumah, tentu saja situasi seperti ini membuat orang tua di masa belajar dari rumah merasa sangat kesulitan, yang kedua orang tua sibuk dengan kerjaan, ada yang bekerja di kantor pabrik, meladang atau dagang,” tutur Abdus yang juga pengurus Lembaga Dakwah PBNU ini

Permasalah selanjutnya, menurut Abdus, adalah alat belajar, saat ini alatnya adalah handphone android, tidak semua orang tua memiliki hape yang memadai. Permasalahan selanjutnya adalah jam belajar anak anak, orang tua dan anak kesulitan apabila punya kesibukan yang berbeda di jam yang sama.

Abdus, praktisi pendidikan ini mengapresiasi para guru, menurutnya, walaupun pada masa belajar dari rumah, para guru tetap melaksanalan aktivitas pembelajaran. Ada juga beberapa guru yg ia temui, berinisiatif mengajarkan orang tua untuk bisa mengajari anak anaknya.

Beda anak dan beda siswa menurutnya, apabila ada orang tua yang juga guru pasti sangat berbeda saat di sekolah dan di rumah, “Kami hadir ke tempat ini membawa pesan ide baru dari direktorat sekolah dasar untuk mencari jalan keluar belajar dari rumah di Kabupaten Keerom Papua ini,” tuturnya.

“Dalam keadaan apapun anak anak jangan jadi korban, direktorat sekolah dasar mencari jalan keluar salah satunya dengan program kejar mutu ini. Program yang dicanangkan direktorat sekolah dasar adalah bagaimana anak anak itu aktif belajar yang hal tersebut harus didampingi orang tua,” sambungnya menjelaskan.

Fasilitator Pendamping, Abdul Qodir saat menjelaskan modul

Pada sesi penjelasan modul, Abdul Qodir, yang juga fasilitator pendamping menjelaskan bahwa modul memiliki titik tekan literasi dan numerasi. “Asumsi kami adalah membaca dan menghitung merupakan hal dasar dalam hal akademis,” tuturnya.

Kemendikbud memaksimalkan potensi anak dengan membaca dan menulis, anak anak diarahkan untuk belajar dan menganalisa pada setiap bacaan cerita. Setelah membaca dan menganalisa, anak anak diminta untuk menceritakan kembali pengetahuan yang ia dapatkan. Cerita cerita yang ada, semuanya terdapat informasi dan edukasi.

“Yang kita sosialisasikan adalah modul guru, orang tua dan siswa. Bahasa yang digunakan modul adalah akselerasi. Contoh bahasa indonesia, pelajaran itu diberikan pelajaran literasi untuk anak aktif bercerita kesehariannya. Jadi nanti antara guru org tua dan siswa akan sinkron sehingga tercipta anak belajar secara mandiri,” Jelas Qodir Dosen Unusia ini.

“Nah org tua itu harus tau, tidak boleh hanya sekedar mendampingi saja. Program ini juga mengarahkan untuk memberikan reward cepat untuk hasil kerja anak anak saat menyelesaikan tugas sehingga orang tua dan siswa dapat termotivasi untuk belajar di rumah,” sambungnya menjelaskan.

Sebagai informasi, terkait rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) LD PBNU sudah menyiapkannya, tetapi apabila ada usulan yang lebih baik dengan mengangkat kearifan lokal, hal itu lebih baik. RPP yang dibuat hanya secara umum dan sekadar gambaran, apabila ada muatan lokal maka akan lebih baik.

Menurut Qodir, titik tekan modul ini adalah literasi dan numerasi, “Usia SD adalah golden age yang sedang sekali meniru, jadi titik tekan modul ini agar mengasah pikiran anak dalam berliterasi dan numerasi itung itungan,” jelasnya.

Fasilitator Pendamping Bermain bersama Anak Anak dan Bercerita Terkait Pemebelajaran dari Rumah

Pada saat asesmen para guru dan orang tua yang didampingi fasilitator wilayah, anak anak didampingi pelaksanaan psikososial bersama dengan bercerita terkait sembilan bulan belajar dari rumah dan bermain game tali sepatu. Yang sebagai pendamping psikososial pada saat kegiatan tersebut adalah Faqih, salah satu tim pendamping dari pusat bersama Abdus dan Qodir.

Pendampingan Psikososial dengan Bercerita dan Bermain Game Tali Sepatu

Faqih menuturkan, ada beberapa alasan anak anak mengeluhkan pembelajaran secara daring diantaranya; pertama, tidak paham dengan apa yang disampaikan guru sebab disampaikan secara daring, kedua, tidak ada yang mendampingi dalam belajar di rumah, ketiga, orang tua atau kaka memiliki kesibukan lain sehingga sulit membantu belajar, keempat, mood anak anak tidak begitu baik dan tidak terjaga saat belajar di rumah dikarenakan berbeda suasana, kelima, ada beberapa siswa yang terkendala alat komunikasi yang terkadang susah sinyal. (fqh)

Spread the love

Comment here