Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

HikmahSyiar Islam

Kualitas Ibadah Puasa

KH. Choirul Ansori, MA, Pengurus Lembaga Dakwah PBNU

KUALITAS IBADAH PUASA

Keutamaan Puasa
Puasa pada bulan Ramadlan yang penuh berkah adalah salah satu ibadah teragung yang memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan. Di antaranya, pahala puasa dilipatgandakan tanpa batas. Nabi ﷺ bersabda:

«كُلُّ عَمَلِ ابْنِ ءَادَمَ لَهُ، الحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، إنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عندَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عندَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَـخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عندَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ»  (رواه الشيخان)

Maknanya: “Setiap amal manusia kembali kepadanya. Kebaikan akan dibalas dengan pahala berlipat dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, Allâh ta’âlâ menyatakan: kecuali puasa, karena puasa itu (dikerjakan murni) untuk (mendekatkan diri kepada)-Ku dan Aku yang akan membalasnya (dengan balasan yang melimpah), sungguh manusia meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku. Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika dihisab oleh Tuhannya (dan saat itu ia mendapatkan pahala puasanya). Sungguh pahala dari bau mulut orang yang berpuasa itu menurut Allâh lebih besar dari pahala memakai minyak wangi Misik.  (H.R. al Bukhâri dan Muslim)

Berbeda dengan amal kebaikan lain yang dilipatgandakan pahalanya hingga maksimal tujuh ratus kali lipat, ibadah puasa dilipatgandakan pahalanya berkali-kali lipat tanpa terbatas pada bilangan kelipatan tersebut. Hal ini dikarenakan puasa termasuk bagian dari sabar, sedangkan orang-orang yang bersabar akan memperoleh pahala tanpa batas. Allâh berfirman:

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ   (سورة الزمر: ١٠)

Maknanya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”  (Q.S. az-Zumar: 10)

Oleh karenanya, Nabi ﷺ menamakan bulan Ramadlan sebagai bulan sabar. Bahkan dalam hadits yang lain, Nabi ﷺ bersabda:

«الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ» (رواه الترمذيّ)

Maknanya: “Puasa adalah separuh dari sabar.”  (H.R. at-Tirmidzi)

Sabar terdiri dari tiga macam: sabar dalam berbuat taat kepada Allâh, sabar dalam menjauhi perkara-perkara yang diharamkan oleh Allâh dan sabar dalam ketetapan Allâh yang tidak sesuai dengan keinginan hamba. Ketiga macam sabar ini berkumpul dalam ibadah puasa, karena dalam puasa terdapat kesabaran dalam menjalankan kewajiban atau melakukan perbuatan sunnah. Juga mengandung kesabaran untuk menjauhi syahwat-syahwat nafsu yang diharamkan saat berpuasa serta kesabaran atas apa yang dirasakan oleh orang yang berpuasa seperti rasa sakit menahan lapar, haus dan lemah badan.

Tentunya pelipatgandaan pahala puasa ini tergantung pada kualitas ibadah puasa seseorang. Nabi ﷺ telah mengisyaratkan hal ini dalam beberapa hadits, di antaranya hadits:

«رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الجوعُ والعَطَشُ» (رواه ابن ماجه وابن حبّان واللفظ له)

Maknanya: “Betapa banyak orang yang melakukan shalat malam tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya kecuali (letih karena) begadang dan betapa banyak orang yang berpuasa dan tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”  (H.R. Ibnu Mâjah dan Ibnu Hibbân dengan redaksi Ibnu Hibbân)

Dua Kategori Ibadah
Amal ibadah seperti shalat, puasa dan seterusnya memiliki dua kategori:

  1. Ibadah yang sah; yaitu ibadah tersebut dihukumi sah dan jika merupakan kewajiban maka telah mengugurkan kewajiban seseorang. Kategori ini tercapai dengan memenuhi rukun dan syarat-syarat sah ibadah tersebut serta menjauhi hal-hal yang membatalkannya.
  2. Ibadah yang diterima oleh Allâh, yaitu ibadah yang sah karena telah memenuhi syarat dan rukunnya serta menjauhi hal-hal yang membatalkannya dan diterima oleh Allâh, yakni berpahala, karena telah memenuhi syarat-syarat diterimanya amal shaleh.

Dalam hadits di atas ditegaskan bahwa banyak orang yang melakukan shalat malam tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya kecuali rasa letih karena begadang dan banyak orang yang berpuasa namun tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga. Para ulama menjelaskan hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan:

  1. Aqidah yang rusak. Orang yang berkeyakinan bahwa Allâh adalah seberkas cahaya, manusia yang beronggatakan badan, duduk di atas ‘Arsy, bertempat di langit dan semacamnya, maka orang seperti ini telah rusak aqidahnya karena ia telah menyerupakan Allâh dengan makhluk-Nya. Hal ini mengakibatkan amalnya tidak diterima oleh Allâh, karena syarat pertama dan paling utama diterimanya amal adalah iman yang benar. Allâh berfirman:

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا(سورة النساء: ١٢٤)

Maknanya: “Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.”  (Q.S. an-Nisâ`: 124)

  1. Amal tersebut tidak sesuai dengan aturan pelaksanaannya dalam syara’. Ibadah yang demikian tidak akan diterima oleh Allâh. Setiap amal ibadah untuk dikategorikan sah, harus memenuhi syarat dan rukunnya serta menjauhi hal-hal yang membatalkannya. Jika tidak dipenuhi salah satu syarat, rukun atau dilakukan salah satu hal yang membatalkannya, maka amal tersebut tidak sah, apalagi diterima oleh Allâh.
  2. Amal tersebut tidak memenuhi syarat diterimanya amal shaleh. Setiap amal ibadah untuk dikategorikan diterima oleh Allâh, yakni berpahala, haruslah memenuhi syarat-syarat diterimanya amal shaleh seperti ikhlas yakni niat murni untuk mencari ridla Allâh semata dari amal tersebut, bukan agar dipuji orang, dan syarat-syarat lain semacamnya.

Dua Syarat Utama Diterimanya Amal Shaleh
Untuk diterimanya amal kebaikan haruslah terpenuhi dua perkara, yaitu niat yang murni karena Allâh dan kesesuaian dengan aturan syara’. Nabi ﷺ telah bersabda:

«إِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِلهِ وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ» (رواه أبو داود والنسائيّ)

Maknanya: “Sesungguhnya Allâh tidak akan menerima dari amal hamba kecuali yang dikerjakan murni karena-Nya dan untuk mencari ridla dan pahala dari-Nya” (H.R. Abû Dâwûd dan an-Nasâ`i)

Nabi ﷺ juga bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» (رواه مسلم)

Maknanya: “Barangsiapa melakukan amal kebaikan yang tidak sesuai dengan syari’at kita, maka amal itu tertolak.” (H.R. Muslim)

Dengan demikian, diharuskan adanya niat yang ikhlas hanya karena Allâh dan amal yang sesuai dengan aturan syara’. Jadi seseorang tidak boleh langsung melakukan sesuatu, kecuali setelah mengetahui apa yang Allâh halalkan dan apa yang Allâh haramkan dari sesuatu tersebut serta mengetahui kesesuaiannya dengan syari’at Allâh. Karenanya, ibadah yang sempurna harus berdasarkan niat yang benar dan praktek yang benar. Jika salah satu dari keduanya ditinggalkan maka ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah. (ASR)

Penulis:
KH. Choirul Ansori, MA
Pengurus Lembaga Dakwah PBNU

Abdus Saleh Radai
Latest posts by Abdus Saleh Radai (see all)
Spread the love

Comment here