Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Kiai Said: NU Punya Banyak Kekayaan yang Tidak dimiliki Ormas Lain

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj menyebutkan empat kekayaan yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama.

Pertama, ijtimaiyah, kekayaan sosial masyarakat. Kiai Said menyebut jamaah Nahdliyyin sangat banyak dan ini tidak dimiliki ormas lain. Kekayaan yang sangat tak ternilai jika ditukar dengan materi apapun.

Dengan kekayaan masyarakat ini, beliau mengajak masyarakat untuk terus menjalankan perintah Allah, amal makruf nahi munkar. Misalnya, membangun pendidikan, majelis taklim.

“Kekayaan ijtimaiyah harus kita pelihara amankan, banyak pihak yang ingin menggerogoti kita, banyak pihak yang ingin menjauhkan masyarakat dai Kiai, masyarakat dengan NU.Kita jaga pelihara kekayaan ini luar biasa yang seandainya kita bisa me-menej-nya, bisa menjadi kekuatan apa saja,” ujarnya dalam Rapat Kerja Nasional Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Rabu (18/9/21).

“Percuma kamu berkumpul berorganisasi ga ada apa-apa, kecuali kalau kita memiliki tiga agenda. Pertama peduli dengan fakir miskin, masyarakat yang masih miskin, menderita. Kita harus peduli ke sana. Bukan umatku kalau tidak peduli sesama umat Islam. Apalagi di musim pandemi ini mereka yang miskin semakin miskin, yang susah semakin susah. Ini tantangan luar biasa” jelas Kiai Said.

Kedua, kekayaan tsaqofiyah. Kiai Said menyebut tahlilan, haul, ziarah kubur tawasul, halal bihalal, maulid nabi, sebagai hazanah tsaqofiyah yang harus dijaga, pelihara dan ditingkatkan kualitas mutunya. Kekayaan tsaqofah NU luar biasa, ormas lain tidak punya, sehingga tidak boleh luntur.

“Kekayaan peradaban kita merupakan pemberian dari Allah yang kita banggakan. Setiap umat memiliki kebanggaan masing-masing. Khazanah kita tahlil ziarah kubur istighosah silaturahim. Harus dipelihara,” tegasnya.

Ketiga, adalah kekayaan simbol yang sangat luar biasa. Salah satu contohnya adalah jika ada bedug di masjid sudah pasti itu simbol NU. Namun, menurut Kiai Said masyarakat masih belum mampu meneruskan warisan para ulama ini.

Selain itu juga menjaga warisan politik. Para Walisongo dahulu memelihara kekuasan politik dengan membangun pesantren. Sekarang, sudah banyak perubahan, NU sudah memulai ke dinamika politik yang lebih dalam. Hari ini beberapa penjabat banyak yang NU. Semua ada orang NU-nya. Sayangnya masih belum bisa maksimal mewarnai.

“Sudah mengarah ke politik tapi belum bisa menjadi penentu, pengambil keputusan. Mari kita teruskan dengan profesional. Agar semakin banyak amal makruf nahi munkar. Mencegah kemungkaran, kita menajdi imam, penentu bukan malah pengikut. Ini secara umum alhamdulillah sedikit demi sedikit sudah masuk dalam politik,” ujarnya.

Nahdlatul Ulama di bidang Ekonomi
Dalam sambutannya, Kiai Said juga menjelaskan bahwa NU masih kurang dalam kekayaan finansial. Ini masih jauh yang diinginkan. NU tergolong ormas yang miskin, belum mandiri sendiri. Belum mandiri apalagi membantu orang lain.

“Kita masih ketinggalan di bidang ekonomi. Kalau ada pun sebatas UMKM menengah ke bawah. Oleh karena itu kita masih sering minder karena masih jauh yang kita inginkan di bidang finansial. Bayangkan seandainya kita bersatu untuk menjadi konglomerat, belum tentu berhasil karena membutuhkan team work pematangan sistem. Kita masih belum mapan, masih sibuk dengan urusan rumah tangga sendiri agar dapur kita semakin menyala. Jadi belum sampai menjadi kebesaran ekonomi,” jelasnya.

Oleh karena itu, Kiai Said mengingatkan agar masyarakat tidak boleh ketinggalan. Dahulu, Walisongo pengusaha, Kiai Wahab kaya, kiai-kiai pejuang itu pedagang, laya untuk bekal perjuangan.

Jika sudah kaya, insyaallah NU bisa meningkatkan kualitas, misalnya membuat beasiswa kepada siswa yang miskin, meningkatkan kualitas guru, melengkapi pembangunan madrasah.

“Mari kita harus tergugah, ngeh dan sadar, jangan sampai kita meninggalkan anak cucu yang lemah pendidikan, imannya hartanya. Mari kita upayakan generasi akan datang ini generasi yang kuat iman, agama, ilmu pendidikan, peradaban dan hartanya. Kekuatan simbol masyarakat budaya politik dan dana harus kita perkuat,” pungkasnya. (fbr)

Spread the love

Comment here