Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Kiai Said: Kajian Akhlakul Karimah di Kampus untuk Menekan Radikalisme

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengibaratkan dosen sebagai air yang tidak memiliki warna tertentu, warnanya menyesuaikan wadahnya. Artinya, dosen harus dinamis, progresif, dan aktif membawa misi revolusi spiritual. Dalam tatanan keilmuan, dosen harus berkembang sekaligus inovatif dalam ijtihad memajukan ilmu pengetahuan.

Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Forum Muktamar Pemikiran Dosen Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada Senin (5/4) lalu. Kiai Said pada sambutannya mengajak dosen alumni PMII baik di Perguruan Tinggi Islam maupun Perguruan Tinggi Umum untuk terus meningkatkan kualitas pengajaran.

Kiai Said juga menerangkan bahwa ajaran agama terbagi menjadi dua, yaitu ilahiyah samawiyah dan insaniyah ijtidahiyah. Ilahiyah samawiyah bersifat ilahi, yaitu amanah agama yang berisi aqidah atau keyakinan dan syariah yang berkaitan dengan ibadah.

Insaniyah ijtidahiyah bersifat kreasi, tidak sakral, dan tidak dari langit sehingga membutuhkan kreatifitas dan kecerdasan. Hal ini mengacu kepada tsaqofah dan hadarah, yaitu keberhasilan di bidang pengetahuan dan penguasaan teknologi.

Dalam hal aqidah dan syariat, Nahdlatul Ulama tentu sudah tidak perlu di ragukan lagi karena menganut Imam Syafi’i. Setelah rampung terhadap aqidah dan syariat, Kiai Said mengajak warga NU dan dosen PMII untuk menjadi muslim yang beradab dan perlu membangun karakter.

“Percuma kita beragama kalau tidak berkarakter, percuma kita berteknologi berilmu berintelektual kalau tidak berkarakter,” ucap Kiai Said. Hal ini mengingat arus kebudayaan dari luar sangat deras seperti sekularisme, liberalisme, maupun radikalisme.

Kiai Said berpendapat bahwa sejak dahulu Indonesia sudah memiliki watak dengan berkepribadian tengah atau tawasuth. Hal ini telah tercantum dalam Pancasila yang berasal dari falsafah bangsa Indonesia. Tentu hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia selalu cenderung berada di tengah-tengah atau moderat.

Kiai Said juga berpesan untuk memegang teguh wayuallimu alkitab, Al Quran, pembentukan karakter, dengan dibarengi peningkatan skill dan teknologi.

Urgensi Akhlakul Karimah
Selain itu, dosen juga harus memperbanyak ajaran atau kajian mengenai akhlakul karimah, seperti tolong-menolong, hormat kepada orang tua, hormat kepada tamu, hormat kepada tetangga, silaturahim, kerjasama gotong royong. Materi aqidah dan syariah cukup dibahas dalam 2 (dua) kali pertemuan sedangkan 12 pertemuan digunakan untuk pembentukan karakter, kata Kiai Said.

Kiai Said mengibaratkan Akhlakul Karimah sebagai pembersihan jiwa. Iman itu dimulai dengan kalimat lailahaillallah di dasarnya kemudian terus berkembang sampai di puncaknya. “Cabang paling kecil itu, yang paling dasar laillahaillah, diantara laillahaillah dan imathotul adza, ini 77 cabang akhlakul karimah,” terang beliau.

“Jangan sampai berangkapan bahwa hanya ada Kafir dan Islam, pahala dan dosa, surga dan Neraka. Hal tersebut akan menjadikan seseorang radikal. Dosen harus mampu pula mengajarkan aspek kemanusiaan,” pesan Kiai Said.

“Akhlakul karimah yang 77 cabang itu kalau saya ringkas dalam satu kalimah itu menjadi tiga saja, hunsul muasyarah membangun kebersamaan yang baik, husnul muamalah membangun interaksi yang baik, husnul musyarakah membangun pergaulan yang baik,” terang Kiai Said.

Negara yang memiliki karakter dan budaya luar biasa meskipun tidak memiliki aqidah dan syariat tetap akan mendapatkan martabat. Misalnya New Zealand, karakter dan akhlaknya luar biasa sehingga menjadi negara yang bermartabat. Hal ini juga berlaku di Swedia, Swiss, Jepang, maupun Korea Selatan.

“Negara negara tersebut mencapai kemajuan karena akhlaknya baik. Arab saat ini, meskipun memiliki teologi yang benar, syariah yang benar tetapi amburadul budayanya. Arab mengalami 40 tahun perang saudara. Hal ini menjadikan Arab tidak bermartabat dan merosot. Hal ini karena martabat bangsa tergantung kepada budayanya, bukan agamanya, bukan akidahnya tetapi budayanya,” ucap Kiai Said.

Terakhir Kiai Said menekankan kepada warga Nahdliyyin untuk memiliki pemahaman Agama Islam secara utuh. Islam merupakan akidah, tsaqafah, agama kebudayaan, dan peradaban. Setelah menguasai karakter dan teknologi, maka saatnya menggunakan hikmah atau wisdom (kebijaksanaan).

Penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan karakter, pembacaan Al-Quran yang bagus, memiliki visi misi ke depan, serta memiliki wisdom (kebijaksanaan), maka akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Kontributor: Via Qurrotaaini
Editor: Faqih Ulwan

Spread the love

Comment here