Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Kiai Muiz: Pesan Luhur dalam Pancasila Harus Diamalkan

muiz ali

Jakarta, Dakwah NU
Duta Pancasila Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI KH Abdul Muiz Ali (AMA) menilai, sudah sejak lama masyarakat mengakui Pancasila tapi faktanya masih banyak yang belum bisa mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Menurutnya, hal ini disebabkan karena selama ini Pancasila hanya dijadikan konsep, bukan diamalkan secara real dan faktual.

“Jadi Pancasila itu menurut saya sila ke-2 sampai 4 itu rujukannya sila 1. Kalau orang mengamalkan sila agama dengan benar, maka sila lainnya bisa otomas diterapkan,” kata Kiai Muiz saat memberikan sambutan dalam Webinar Kesaktian Pancasila bertema yang diselenggarakan LD PBNU, Senin (7/5/21).

Ia juga menilai masyarakat seringkali gagap dalam menghadapi keberagaman. Kegagapan ini, menurut Kiai Muiz sering kali membuat orang mengisolasi diri atau tidak mau berjumpa dengan pihak lainnya.

Atau di sisi ekstrem lainnya, kegagapan ini muncul dalam sikap anarkis atau tindakan kekerasan (baik dalam kata-kata, sikap, maupun dalam tekanan) diri kita pada pihak lainnya.

“Ini sungguh menjadi sebuah tantangan, mengingat konteks keberadaan kita di Indonesia. Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keberagamannya, dimulai dari suku, ras, etnis, bahasa, budaya, hingga agama,” ujar Pengurus Lembaga Dakwah PBNU ini.

Maka dari itu, Kiai AMA berpesan agar masyarakat mau belajar menghadapi berbagai keberagaman yang ada di Indonesia. Sebab keberagaman sesungguhnya adalah sebuah pembelajaran seumur hidup bagi semua.

Perlu diingat, terdapat pesan-pesan luhur yang ada dalam Pancasila yang harus diamalkan, Pertama, pengamalan dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Di antaranya, tidak merasa terancam dengan keberadaan orang yang beragama lain, turut mendukung hak agama lain untuk beribadah dan memfasilitasi pendirian rumah ibadah di sekitarnya.

Kemudian, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Beberapa pengamalannya antara lain; memperjuangkan martabat manusia, tanpa melihat latar belakangnya, bersikap sebagai manusia yang penuh dengan keramahan, bukan kemarahan, bagi sesama, serta penuh perhatian terhadap sesama yang menderita, baik dalam skala lokal maupun global.

“Jadi pancasila adalah rujukan bersama, menjadi rujukan kebangsaan selama orang itu mau tinggal di Indonesia, hidup nyaman di indonesia, maka nyaman itu harus di atas nilai-nilai Pancasila. Soal beragama itu adalah nilai privasi, jangan sampai mengatasnamakan agama yang bersifat privasi,” tegas Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat ini.

Selanjutnya, pengamalan sila Persatuan Indonesia yaitu terbuka untuk bekerja sama dengan pihak manapun, tidak cepat menghakimi atau mengkotak-kotakkan pihak lain dan mendukung acara-acara nasional dan acara-acara kebudayaan yang memperteguh semangat kebangsaan.

“Pengamalan sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, yaitu menjadi suara kebenaran dalam ribut dan membingungkan situasi politik, berani mengevaluasi dan mengkritisi pimpinan dan pemerintahan yang dinilai jauh dari nilai-nilai Pancasila, dan tidak bersikap picik dalam memilih seorang pemimpin dalam kehidupan bersama,” lanjutnya.

Sementara sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, dengan memastikan semua orang mempunyai hak dan akses yang sama untuk memperoleh hak-hak mendasar dalam hidupnya, menjadi jembatan agar tersampainya bantuan dari pemerintah atau orang baik kepada mereka yang sedang berkesusahan serta belajar mencukupkan diri, menghindari sikap iri hati, agar kita terbebas dari belenggu nafsu duniawi.

“Indonesia hadir bagi kita, bukan saja karena kita memiliki kesamaan latar belakang penjajahan atau penderitaan. Namun yang terutama, Indonesia bisa hadir bagi kita karena Indonesia membawa sebuah nilai yang disepakati bersama,” ujarnya.

Nilai inilah yang menjadi fondasi persatuan kemerdekaan sekaligus juga menjadi fondasi perjalanan negeri ini hingga saat ini. Nilai-nilai tersebut juga menjadi sebuah harapan yang mendorong bangsa untuk terus maju dan menggapai kebaikan bagi bersama. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam kata Pancasila.

“Maka, jika kita bertanya bagaimana kita harus menghadirkan diri, maka kita perlu menjawabnya dengan menjalani sebuah kehidupan yang memang diisi dengan pengaktualisasian nilai-nilai Pancasila ini. Dengan cara inilah maka kita bisa menjaga dan mengembangkan negeri kita yang tercinta ini,” ujarnya.

“Dengan Pancasila, kita pun dapat belajar menjalani hidup yang terus melampaui diri mengatasi segala egosentrisme pribadi dan kelompok; namun terus belajar membuka serta mendukung kehidupan bersama dengan pihak-pihak lainnya yang berbeda dengan kita,” pungkasnya. (fqh)

Kontributor: Fadhilla Berliannisa
Editor: Faqih Ulwan

Spread the love

Comment here