Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Daerah

Kiai Misbah Sampaikan Tiga Kunci Ikhtiar Lahir dan Batin Hadapi Covid-19

Batam, Dakwah NU
Direktur Aswaja Center Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Misbahul Munir Kholil, menjelaskan bentuk ikhtiar lahir batin yang dapat dilakukan umat dalam menghadapi pandemi Covid-19. Hal tersebut Ia sampaikan saat mengisi khutbah Jum’at di Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, Batam Jum’at (12/3/21).

Yang pertama adalah jangan lupa doa kepada Allah SWT, karena Rasulullah mengingatkan tidak ada yang bisa menolak keputusan Allah kecuali doa. Apalagi sekarang bulan rajab, perbanyak doa, ujarnya. Kedua dengan memperbanyak istighfar, memohon maaf kepada Allah SWT, sebab kita dzolim banyak salah dan dosa. Allah SWT telah berjanji, Allah tidak akan pernah menurunkan azab di tengah-tengah suatu kaum kecuali mereka mau membaca istighfar. “Sekarang bulan Rajab bulan istighfar, perbanyak baca istighfar,” ujar Kiai Misbah.

Ikhtiar batin selanjutnya adalah memperbanyak sholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, karena Allah sudah berjanji, “Dan Allah tidak akan menurunkan azab sedangkan engkau Muhammad ada di tengah-tengah masyarakat itu,” Apalagi besok setelah bulan Rajab, bulan Sya’ban. Perbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Terakhir, bentuk ikhtiar batin yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak sedekah. “Karena kita tahu sedekah itu bisa menolak bala. Setelah kita ikhtiar, setelah kita usaha kok ternyata masih kena covid, kita sakit, kita ikhtiar dapat pahala, kita selamat kita bersyukur alhamdulillah dapat pahala. Inilah yang kita inginkan sebagai umat Islam. Dalam keadaan, situasi apapun kita selalu mendapatkan pahala di sisi Allah SWT,” lanjut Kiai Misbah berujar.

Selain ikhtiar batin, dalam rangka untuk menghadapi pandemi, Kiai Misbah juga mengimbau masyarakat melakukan ikhtiar lahir (nyata), yaitu dengan mengikuti apa yang menjadi protokol kesehatan pemerintah 3M, yakni mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak, termasuk dalam melaksanakan sholat.

Meskipun sebenarnya, lanjut beliau, sholat berjarak itu tidak benar dalam aturan syariat. Sebab pada saat sholat, pasti akan selalu diingatkan untuk meluruskan shaf. Rapatnya shaf dalam sholat merupakan bentuk kesiapan dalam menghadapi apapun, termasuk di dalamnya adalah berperang. Dan rapatnya shaf dalam shalat inilah yang membuat umat Islam diseagani.

“Tapi mengapa Majelis Ulama Indonesia memperbolehkan seperti ini, situasinya darurat. Tetap, apa kata pemerintah, prokes, iya 3M, ya harus dilakukan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Misbah mengatakan bahwa Covid-19 adalah bentuk peringatan dari Allah. Peringatan dari Allah yang sebenarnya bukan akibat dari ulah semua orang. Kadang kita tidak mengerti apa yang terjadi, ini penyakit apa, tidak mengerti. Mengapa ini bisa terjadi? Karena ulah sebagian manusia.

Sebab itu, beliau menyampaikan bahwa sikap saling mengingatkan itu penting. Bagaimana agar sekiranya langit tidak runtuh, bumi tidak bergoncang, tidak turun azab dari Allah, tidak menyebar bencana.

Allah SWT telah mengingatkan kepada kita tentang bagaimana terjadi kerusakan di daratan dan lautan, termasuk bagaimana merebaknya Covid di dunia saat ini,

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” (QS. ar-Rum: 41).

Pernah suatu ketika Sayyidina Rasulillah Muhammad SAW, menyampaikan, “Apabila kemaksiatan telah merajalela di tengah-tengah umatku, maka Allah akan menurunkan azab bencana tanpa terkecuali,” semua bakal kena. Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apa di tengah-tengah itu tidak ada orang sholih, tidak ada kiai, tidak ada ulama?” Apa jawaban Sayyidina Rasulillah, “Orang sholih ada, orang baik ada, ulamanya mungkin ada.

Kemudian Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah, “Bagaimana bisa terjadi Ya Rasulullah?Kalau yang berbuat maksiat terkena bencana, wajar. Tetapi orang yang tidak mengerti persoalan kenapa harus kena?” Apa jawaban Rasulullah SAW, “Ini akibat ulah sebagian dari manusia.” 

Oleh sebab itu, Kiai Misbah berpesan agar jangan sampai ada perasaan yah, yaudah lah pak Kiai, enggak usah nasihat enggak usah fatwa, enggak usah pengajian. Dosa, dosa saya, maksiat, maksiat saya. Beliau mengingatkan bahwa hal seperti itu tidak benar, sebab dunia itu sama dan satu. Ibarat perahu, perahu yang satu. Kalau ada satu yang melubangi, semua akan tenggelam.

“Karena itu mari kita ikhtiar, ikhtiar lahir batin, ikhtiar luar dalam,” tandas Kiai yang juga Pengasuh Ponpes Al Misbah Jakarta ini. (fqh)

Kontributor: Fadhilla Berliannisa
Editor: Faqih Ulwan

Spread the love

Comments (1)

  1. […] Indonesia memperbolehkan seperti ini, situasinya darurat. Tetap, apa kata pemerintah, prokes, iya 3M, ya harus dilakukan,” […]

Comment here