Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Daerah

Di Bumi Papua, Kiai Misbah Jelaskan Dua Kehebatan Al Qur’an

Manokwari, Dakwah NU
Direktur Aswaja Center Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Misbahul Munir menjelaskan kehebatan Al Qur’an saat mengisi kultum salat Subuh di Masjid Nurul Fatah, Kompleks Perumahaman Manoriang, Reremi Puncak, Manokwari Papua Barat, pada puasa hari keempat, Sabtu (17/4/21).

Kiai Misbah menyebutkan di antara kehebatan Al Qur’an yaitu apabila dibaca tidak pernah membuat bosan. Berbeda dengan buku bacaan atau lagu yang mungkin sehari dua hari merasa senang, tetapi saat sebulan sudah bosan. 

Sebagai contoh, jika rajin sholat lima waktu, artinya tujuh belas kali seseorang baca Qur’an, yakni surah al-Fatihah. Belum lagi kalau ditambah sholat sunnah tarawih, selametan atau tahlil.

“Berapa kali kita baca Qur’an, bosan tidak? Tidak, aneh kan?” tuturnya.

Kemudian, kehebatan lain dari Al Qur’an menurut Kiai Misbah yaitu bahwa sampai detik ini tidak ada yang mampu menandingi Al Qur’an, dari segi kehebatan dan kefasihan bahasanya.

Al Qur’an itu tidak lekang oleh waktu, tidak mampu untuk ditiru, tidak mampu untuk dirubah, tidak mampu ditambah dan dikurangi, “Dijamin kemurnian Al Qur’an,” tegas Kiai Misbah.

Bahkan jika ada seseorang yang menuduh Muhammad adalah bukan Nabi dan Al Qur’an-nya itu palsu, Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya, 

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Q.S. al-Baqarah ayat 23).

“Kalau Al-Qur’an dibaca tidak paham, ngerti tidak ngerti dapat pahala. Tapi kalau selain Al-Qur’an misalnya, nggak ngerti, hati-hati jangan-jangan ilmu sihir. Tapi kalau Qur’an dapat pahala,” tambahnya.

Beliau berpesan kepada jamaah agar selama bulan Ramadan ini semangat mengkhatamkan Al Qur’an. 

“Ayo detik ini karena Ramadan adalah syahrul Qur’an, ayo kita semangat baca al quran, khatamkan, saya pesan selama bulan Ramadan, sukses lima hal. Sukses puasanya, tarawihnya tidak bolong, ketemu Nuzulul Qur’an, sukses baca Al qur’annya, sukses lailatul Qadr, yang terkahir sukses zakat dan sedekahnya,” ujarnya.

Al Qur’an sebagai Mukjizat Nabi Muhammad Saw
Dalam ceramahnya, Kiai yang juga merupakan Wakil Ketua LD PBNU ini menyampaikan bahwa Al Qur’an sebagai mukjizat Sayyidina Rasulullah adalah salah satu mukjizat terbesar yang pernah ada dan sampai hari ini masih bisa dirasakan.

“Nabi Muhammad punya mukjizat, mukjizat selain Al Qur’an banyak, dan itu adalah sebagai bukti bahwa seseorang itu adalah utusan Allah,” terangnya.

Seorang Rasul kalau mengatakan saya Rasulullah, saya utusan Allah maka dia harus punya bukti. Para Rasul pasti punya mukjizat seakan-akan mukjizat itu mengatakan ini benar adalah utusan Allah. Karena mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

“Banyak mukjizat para Nabi dan Rasul.Tapi yang masih bisa kita rasakan dari sekian mukjizat dari Nabi Muhammad Saw adalah Al Qur’an,” tuturnya.

Kemudian, beliau menyebutkan dalam surah al Qadr sudah dijelaskan tentang bagaimana Al Qur’an dan malam Lailatul Qadr diturunkan. 

Apa maksudnya Al Qur’an diturunkan pada saat malam Lailatul Qadr? Bahwa Al Qur’an itu jumlatan wahida, satu paket. Al Qur’an diturunkan dari min lauhul mahfudz ke langit dunia itu diturunkan pada Lailatul Qadr.

“Adapun Al Qur’an diturunkan dari langit ke dunia kepada Nabi Muhammad Saw itu berangsur-angsur yang kita peringati sebagai malam Nuzulul Qur’an,” jelasnya.

“Oleh sebab itu ayo bersyukur kepada Allah dengan menjaga bagaimana kita pelajari (Al Qur’an), dibaca, dimaknai kemudian dihayati serta diamalkan,” ajaknya. (fqh)

Spread the love

Comment here