Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Kiai Miftachul Akhyar Bagikan Tips Bangun Rumah Tangga Ideal

Jakarta, Dakwah NU
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Miftachul Akhyar dalam kajiannya membahas tentang Idealisme dalam rumah tangga. Dijelaskan bahwasanya manusia hidup normal meraih sebuah kehidupan yang ideal dan harmoni harus mempunyai pasangan hidup dan keturunan.

“Islam menawarkan pernikahan untuk meraih kehidupan harmoni yang ideal,” ungkapnya dalam tayangan video youtube nu channel, Rabu (7/4).

Dalam Surat Ar Rum Ayat 21 menerangkan salah satu tanda kekuasaan Allah adalah Allah menciptakan bagi kalian para suami ada istri-istri. Hal tersebut menandakan bahwasannya para istri merupakan salah satu bentuk kekuasaan Allah Swt.

“Saat akan menikah maka perlu mencari pasangan yang sesuai. Misalnya jika dia hafidz maka dia akan mencari yang hafidzah. Kalian akan mendapat ketenangan. Namun ketenangan terbatas. Baik itu ketenangan fisik,kepuasan dan sebagainya,” ujarnya.

Beliau mengatakan bahwasannya untuk mencapai kehidupan yang harmonis maka perlu aksi dalam mencari teman hidup. Agar dapat mencapai sakinah. Melahirkan sebuah mawadah. Disediakan sebuah rahmah atau kasih sayang.

Dikisahkan dalam Surat At-Tahrim Ayat 10-11 menerangkan bahwasannya Allah membuat istri Nuh dan Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang kafir. Walaupun mereka berada di bawah pengawasan orang-orang yang saleh. Keduanya istri itu berkhianat kepada suaminya masing-masing. Bentuk dari pengkhianatan mereka kepada suami adalah dengan mengumbarkan rahasia keluarga, rahasia ranjang dan sebagainya. Ketika mereka bertemu dengan suatu kaum maka dia akan menjelek-jelekan nabi. Pengkhianatan ini disebabkan karena mereka tidak satu langkah, pandangan dan idealisme. Rumah tangga keduanya tidak mencapai hayatu zaujiyah.

Bentuk dari hayatu zaujiyah ditunjukan dalam kisah Nabi Zakaria. Di usianya yang sudah sepuh belum juga dikaruniai anak sampai akhirnya dikarunia anak, hubungannya tetap harmonis.

“Kita adalah makhluk yang terbaik. Dipersiapkan oleh Allah untuk memegang amanah besar. Hal tersebut akan muncul dari bilik rumah yang mengalami atau meraih hayatu zaujiyah,” ujar Kiai yang juga Ketua Umum MUI Pusat ini.

Rasulullah SAW bersabda “Rumahku adalah surga, rumahku istanaku”. Namun, jika ditilik dalam sebuah rumah jika di dalamnya ada kekerasan, kedzoliman, intimidasi. Hal tersebut berbeda dengan pernyataan rumahku adalah surga. Rumahku istanaku adalah rumah yang mampu menciptakan ketenangan, kedamaian, dan cita-cita.

Kira harus menggali lebih dalam mengenai rahasia rumah tangga. Sebab suami dan istri, keduanya menjadi mitra kehidupan. Seorang suami tidak boleh bertindak semaunya kepada istri, melakukan apa yang dia suka. Istri adalah mitra dalam perjuangan, melahirkan penerus, menciptakan generasi emas. Hal tersebut membutuhkan kesadaran bersama. Harapan meraih hayatu zaujiyah bukan hanya di dunia tapi juga sampai jannah.

Kontributor: Siti Nur Aliza
Editor: Faqih Ulwan

Spread the love

Comment here