Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Kiai Irfan Sebut Dai Punya Senjata Operasi Aksi Antisipasi Korupsi melalui Mimbar

Jakarta, Dakwah NU
Dosen Hukum Pidana Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta K.H. Nurul Irfan menyebut para dai memiliki senjata operasi aksi antisipasi korupsi melalui mimbar.

Hal ini beliau sampaikan dalam acara Diskusi Panel bertajuk “Kontribusi Da’i dalam Memberantas Korupsi” pada Ahad, 20 Juni 2021.

“Kaitan dengan peran dai atau kontribusi dai dalam pencegahan korupsi. Kalau KPK punya senjaga Operasi Tangkap Tangan (OTT), maka kita punya senjata juga yaitu operasi aksi antisipasi korupsi melalui mimbar,” tegasnya.

Kiai Irfan mengingatkan agar para dai tidak menyepelekan meskipun sebatas penyampaian pesan moral sebagai da’i. Sebab hal itu sangat efektif jika masyarakat berkenan dengan apa yang disampaikan.

Peran dai sangat besar dalam pencegahan korupsi yang marak di Indonesia. Tentu usaha itu sudah dilakukan, salah satunya dengan terbitnya buku jihad NU melawan korupsi. Bagaimanapun, menurut Kiai Irfan hal itu sebuah peran dai untuk menyampaikan.

“Karenanya sebetulnya khatib Jumat ga perlu malu dan tabu untuk berkhutbah soal korupsi. Karena perlu kita pahami dalam beberapa konteks dasar korupsi itu. Gunakan mimbar sebagai sarana sekecil apapun. Walaupun entah mau didengar atau tidak. Ulama dan Kiai santri harus paham,” tegasnya.

Kemudian, beliau memaparkan definisi korupsi secara fikih dan secara perundangan. Menurut definisi UUD no 20 2021 bahwa dijelaskan bahwa setiap orang yang melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dapat merugikan keuangan negara akan dipidana sepanjang hidup dam denda paling sedikit 200 juta rupiah.

“Itu ayat satunya. Bahkan dalam ayat 2 nya, menyebutkan bahwa dalam hal korupsi sebagaimana dimaksud ayat 1. Jadi, sudah ada pidana mati walaupun kita tahu pidana mati masih berfungsi menakut-nakuti saja, tidak pernah dijalankan. Karena terlalu sulit,” ucapnya.

Padahal melalui satu penelitian, koruptor itu disebur sebagai pencuri, merampok. Tetapi jika korupsi dengan mencuri disamakan maka sama saja dengan melakukan analogi. Padahal kaidahnya atas dasar legalitas sehingga tidak bisa berlaku kias dalam hukum pidana. Ternyata ini sinkron dengan satu kaidah dalam ushul fiqh, tidak ada kias tidak ada analogi. Untuk itu pidana harus pasti. Karenanya jargon KPK itu atas dasar kuat.

Korupsi tidak boleh disamakan dengan pencuri karena unsurnya lain. Korupsi ada kaitan erat, bahkan harta itu dalam penguasaanya. Itulah makanya unsurnya beda

“Justru korupsi sama dengam pencuri maka hanya potong tangan, maka lebih baik se ranah dengan takzir,” ucapnya.

Di akhir, beliau menyampaikan bahwa sedekah dari harta korupsi sama dengan sholat tanpa wudhu. Haditsnya sudah nyata, itu tidak akan Allah terima.

“Mungkin teman-teman masih malu menyampaikan ini dan mulai hari ini jangan malu lagi disampaikan. Kita harus ingatkan bahwa setiap barang haram hanya layak di neraka. Kepada jamaah ataupun lembaga pemerintah yang masih ingat dengan kehidupan akhirat,” beliau mengingatkan. (fbn)

Spread the love

Comment here