Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Kiai Bukhori: Pilih Guru yang Bersanad sampai Rasulullah Saw

Jakarta, Dakwah NU
Sekretaris Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) K.H. Moch. Bukhori Muslim mengajak masyarakat mengaji kepada para ulama yang sudah benar-benar menguasai ilmu agama, ilmu Alquran, dan ilmu Hadis untuk menghindarkan diri dari anggapan yang tidak sesuai syari’at.

Misalnya menghindari dari anggapan bahwa bunuh diri demi melawan orang-orang zalim itu hal yang dibenarkan. Hal ini sudah dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, wa man qatala nafsahu bi-hadidatin ‘uzziba bihi fi nari jahannama. 

Artinya, barang siapa bunuh diri dengan besi maka besi itu di neraka akan ada di tangannya, lalu besi itu akan ditusuk-tusuknya ke dalam perutnya sendiri, ke tubuhnya sendiri di neraka kekal selama-lamanya.

“Hadis ini juga menerangkan barang siapa minum racun kemudian mati maka nanti di neraka racun itu akan diminum terus selama-lamanya di neraka jahanam. Barang siapa bunuh diri menjatuhkan dirinya dari gunung ke jurang, maka dia akan jatuh terus di neraka jahanam, selama-lamanya di neraka,” terang Kiai Bukhori dalam video yang ditayangkan NU Channel, Selasa (6/4/21).

Dari hadis ini, lanjut Kiai Bukhori, jelas bunuh diri itu dilarang, apalagi untuk alasan membela agama. Beliau beranggapan hal ini perlu dijelaskan dengan benar dalam pengajian. “Kita tidak pernah tahu ada ajaran boleh membunuh orang, kecuali memang dalam perang, orang ini mau membunuh kita,” tuturnya.

Kemudian, beliau mencontohkan salah satu kisah sahabat Nabi, Ali ra. Ketika beliau di medan perang berhadapan dengan seorang pemimpin kafir Quraisy yang jago main pedang. Lalu di hadapi oleh Ali, pemimpin ini telah membunuh banyak sahabat. Orang Quraisy ini jatuh terpelanting ke bawah pedangnya terlempar jauh lalu dihunus oleh Ali.

Apa yang dia lakukan? Orang kafir ini meludahi muka Ali. Tetapi Ali ra., justru melepaskan orang kafir itu. Maka sahabat pun protes, “Ali, orang itu sudah kalah sudah membunuh banyak sahabat. Kenapa tidak engkau bunuh?”

Ali pun menjawab, “Saya takut membunuh bukan karena Allah tapi karena emosi.”

Dari kisah tersebut, Kiai Bukhori memberikan simpulan bahwa membunuh di medan perang karena emosi saja tidak dicontohkan, apalagi membunuh tapi karena emosi, dendam. Sebab hal ini jelas dilarang di dalam agama.

“Mudah-mudahan kita diselamatkan oleh Allah dari pengetahuan-pengetahuan yang sesat, ilmu-ilmu yang tidak benar. Marilah saudaraku kita mengkaji pada guru-guru kita yang mampu memahami Al Qur’an dan hadits dengan sebaik-baiknya yang sanadnya sampai ke Rasulullah SAW,” harapnya. (fqh)

Spread the love

Comment here