Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Khutbah

Khutbah Jum’at: Menjadikan Perbedaan (Ikhtilaf) Pendapat Sebagai Rahmat

Fuad Thohari

OLEH: DR. KH. FUAD THOHARI, MA
Materi Khutbah disampaikan dalam Sidang Shalat Jum’at di Masjid Telkom Landmark Lt. 08 Jakarta
Jum’at, 13 Mei 2022

اَلْحَمْدُ ِللهِ , اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِه اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ . أَشْهَدُ أَنَّ لاَّاِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ . أَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْا السَّيِّئَاتِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ . فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ أَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Sidang Jum’at yang dimulyakan Allah
Realitasnya, di tengah masyarakat muslim Indonesia berkembang pelbagai macam aliran fiqh kendatipun mayoritas bermazhab Syafi’i. Bukankah perbedaan pendapat berkenaan dengan masalah furu’iyah (cabang), baik ibadah, mu’amalah, dan persoalan lainnya sering dijumpai di tengah-tengah masyarakat Indonesia?

Perbedaan mazhab dan khilafiah merupakan persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia. Di antara masalah khilafiah tersebut ada yang bisa diselesaikan dengan cara yang sangat sederhana dan mudah berdasarkan akal sehat, karena adanya toleransi dan saling pengertian. Tetapi tidak jarang, perbedaan pendapat itu bahkan melahirkan konflik berkepanjangan. Keberadaan masalah khilafiah semacam ini tetap menjadi ganjalan dalam menjalin harmonisasi di tengah umat Islam. Karena di antara mereka sering kali menonjolkan ta’asubiah (fanatik) yang berlebihan dan jauh dari pertimbangan akal sehat

Hadirin Sidang Jum’at yang dimulyakan Allah
Masalah khilafiah-furu’iyah yang bermula dari perbedaan mazhab fiqh, juga dapat menyulut percikan perbedaan pendapat. Masalah ini cenderung mempunyai harga tawar tersendiri. Karenanya, perbedaan mazhab dan ikhtilaf harus dijaga agar tetap berada pada jalurnya dan sesuai dengan etika yang luhur. Sehingga perbedaan dan ikhtilaf itu tidak mendatangkan kemudlaratan atau menimbulkan perpecahan, tetapi menjadi rahmat.

Perbedaan pendapat masalah ibadah furuiyah itu ternyata sangat berpotensi memicu terbukanya wilayah konflik yang dapat merenggangkan jalinan persatuan dan kesatuan internal umat Islam. Agar tercipta suasana penuh toleran dan menghindari fanatik mazhab yang berlebihan, kiranya umat Islam perlu memahami diskursus perbedaan mazhab dengan segala problematikanya. Sehingga diharapkan, umat Islam mampu mengesampingkan klaim, pandapat mazhabnya paling benar dan pendapat mazhab lain yang salah. Mereka akhirnya menyadari, perbedaan itu ternyata bisa menjadi rahmat dan bukannya menyulut pertentangan dan permusuhan yang menguras energi sia-sia.

Kalau ada sikap toleran dan saling pengertian antara pihak yang satu dengan lainnya, tentu perbedaan ijtihad itu tidak perlu dikhawatirkan. Karena hal-hal yang diperselisihkan itu dapat dipertemukan, ada jalan keluar yang dapat ditempuh, dan kalau sampai mengalami jalan buntu, masing-masing pihak mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda. Sebaliknya, kalau kurang lapang dada, masalah kecil dapat menjadi besar. Karena masing-masing mempertahankan egoisme, walaupun hati kecilnya mengakui kelemahan pendapat itu, akibat fanatik mazhab yang dianut, keterbatasan ilmu, atau karena dipengaruhi faktor politis lainnya.

Hadirin Sidang Jum’at yang dimulyakan Allah
Dalam masyarakat Islam sendiri masih banyak yang tidak memahami 2 istilah dan dianggap maknanya sama, padahal berbeda, yaitu: tanawu’ dan ikhtilaf.

Tanawu’: (تنوع) maknanya dalam tataran praktis kepada kebhinekaan ibadah yang dipraktekan atau dicontohkan Nabi saw. Misalnya kebhinekaan redaksi doa Iftitah. Setidaknya Nabi saw mengajarkan beberapa redaksi do’a iftitah, antara lain:

Pertama,

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Kedua,

للَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

Ketiga,

للَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Menyikapi model tanawwu’ semacam ini, umat Islam diperbolehkan untuk memilih salah satunya. Tentu pilihannya pada riyayat yang didukung dalil shohih.

Hadirin Sidang Jum’at yang dimulyakan Allah
Ikhtilaf adalah perbedaan pendapat akibat beda penggunaan atau beda memahami dalil.
Perbedaan (ikhtilaf) di kalangan umat Islam telah terjadi sejak masa sahabat. Sebab terjadinya ihktilaf di kalangan sahabat antara lain:

Pertama, Perbedaan Pendapat Yang Kembali kepada Al-Qur’an. Perbedaan pendapat yang bermuara kepada Al-Qur’an antara lain disebabkan:

(1) dalam Al-Qur’an terdapat kata bermakna ganda (musytarok). Misalnya term quru’ dalam surat al-Baqarah (2) ayat 228, sbb.:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Term quru’ dalam ayat tersebut memiliki dua arti: menstruasi dan suci. Menurut Umar bin Khatab, term quru’ di atas berarti haidl, sedangkan menurut Zaid bin Tsabit berarti suci. Konsekwensi dari dua pendapat ini adalah perbedaan masa ‘iddah (menunggu). Ulama sepakat, thalaq yang sah (disebut thalaq sunny), thalaq yang dijatuhkan sewaktu wanita berada dalam keadaan suci dan tidak digauli sepanjang masa suci itu. Sahabat yang berpendapat bahwa quru’ itu berarti menstruasi (haidl) menetapkan berakhirnya ‘iddah dengan datangnya masa suci setelah haidl ketiga. Ini berarti bahwa masa ‘iddah berlangsung selama 2 masa suci dan 3 (tiga) masa haidl ditambah masa suci antara terjadinya thalaq dengan masuknya haidl pertama. Dengan demikian, di awal masa haidl ke-tiga, wanita tersebut sudah terlepas dari masa ‘iddah. Masa ‘iddah wanita ini –menurut pendapat pertama—lebih panjang selama hari-hari haidl yang ke-tiga.

(2) Hukum yang di tentukan Al-Qur’an berdiri sendiri tanpa mengantisipasi kemungkinan berkumpulnya dua sebab pada satu kasus. Misalnya dalam Al-Qur’an, ‘idah wanita yang ditinggal mati suaminya, empat bulan sepuluh hari. Sementara bagi wanita yang diceraikan dalam keadaan hamil, ‘iddahnya sampai melahirkan. Bagaimana kalau ditinggal mati dalam keadaan hamil? Iddahnya dihitung yang mana? Menunggu sampai melahirkan –walaupun hamilnya sudah 9 bulan misalnya—atau iddahnya dihitung empat bulan sepuluh hari? Menurut Ali Bin Abi Thalib, iddahnya dihitung yang terpanjang karena berpedoman kepada bentuk kompromi dua ayat, pertama ayat 234 surat Al-Baqarah yang menyatakan, iddah wanita yang ditinggal mati suaminya selama 4 bulan 10 hari; sbb.:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (234

dan kedua, ayat ke-4 surat Ath-Thalaq yang menyatakan, iddah wanita hamil selesai sampai melahirkan. Sementara ‘Amr bin Mas’ud menghitung iddahnya sampai melahirkan, semata-mata beramal dengan ayat ke-4 surat Ath-Thalaq ini yang diyakini turun belakangan dan berfungsi sebagai pengkhususan (takhshish) ayat yang pertama.

Hadirin Sidang Jum’at yang dimulyakan Allah
Kedua, Perbedaan Pendapat Yang Kembali Kepada al-Sunnah
Sebagaimana dimaklumi, kesempatan sahabat dalam menerima, mengkaji, dan meriwayatkan hadis tidak sama. Ada sahabat yang mencurahkan waktunya untuk menghadiri majlis Rasul sehingga banyak menerima hadis dan meriwayatkannya, misalnya Abu Hurairah. Tetapi banyak di antara mereka sibuk dengan urusan lain, sehingga tidak sepenuhnya bisa menghadiri majlis Rasul. Akibatnya muncul perbedaan pendapat yang berhubungan dengan sunah, antara lain:

a.Tidak semua sahabat memiliki penguasaan yang sama terhadap Al-Sunnah.
b.Terkadang satu riwayat sampai kepada seorang sahabat tetapi tidak sampai kepada sahabat lain.

Hadirin Sidang Jum’at yang dimulyakan Allah
Perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sampai kapan dan di manapun akan terus berlangsung. Tentu saja hal ini menunjukkan kedinamisan hukum Islam sebagai konsekwensi logis dari pola pikir manusia yang selalu berkembang.

Di dunia Islam, kebebasan manusia dalam berfikir tidak lahir dari suatu proses sejarah tetapi berpangkal pada inti ajaran Islam sendiri, yang mayoritas adalah dhanniyat ad-dilalah. Dengan adanya kebebasan berfikir, merenung, dan kebebasan untuk berkarya dalam memahami maksud suatu nash –yang dhanniyat ad-dilalah—di atas, sejarah telah mencatat dengan tinta emas lahirnya ulama besar di bidang fiqh, tasawuf, filsafat, ilmu Kalam dan sebagainya. Misalnya Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Biruni, Ats-Tsauri, dan sebagainya.

Sekali lagi, khilafiah dalam lapangan hukum (fiqh Islam) tidak perlu dipandang sebagai faktor yang melemahkan kedudukan hukum Islam dan menjadi penyebab munculnya friksi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan sebaliknya, adanya khilafiah-furu’iyah bisa memberikan kelonggaran kepada umat Islam dalam melaksanakan semua perintah Allah dan Rasul-Nya sesuai situasi dan kondisi yang dihadapinya. Di sinilah urgensinya memaknai ungkapan, “Ikhtilafu ummati rahmat” (Perbedaan pendapat umatku adalah rahmat).

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

الخطبة الثانية

الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر. أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له, إرغاما لمن جحد به وكفر. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, سيد الخلائق والبشر.
أيها الناس, اتقوا الله, وافعلوا الخيرات, واجتنبوا السيئات. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد, وعلى اله وصحبه أجمعين وارض عنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.
– اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات, والمسلمين والمسلمات, الأحياء منهم والأموات, إنك قريب مجيب الدعوات.
– ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين أمنوا ربنا إنك رءوف الرحيم. سبحان ربك رب العزة عمايصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.
عباد الله, إن الله يأمر بالعدل والإحسان, وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكروالبغي, يعظكم لعلكم تذكرون. اذكروا الله العظيم يذكركم, واسئلوه من فضله يعطكم, ولذكر الله أكبر.
أقيموا الصلاة.

Spread the love

Comment here