Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Khutbah

Khutbah Jum’at : Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan 

الحمدُ للهِ الذي اَحْيَ الاِسلامَ بِعُلُومِ العُلُومِ العُلَماءِ واَحْيَ الاُمَّةَ بِنَهْضَةِ العُلَمَاءِ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Jamaah Jumat rohimakumulluh
Dalam kesempat yang mulia ini marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan penuh keihlasan. Sholawat dan salam mudah-mudahan tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Jamaah Jumat rohimakumulluh
Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 2021 memasuki usia 95 tahun dan dalam penanggalan Qamariyah, Ahad, 16 Rajab 1422 Hijriah bertepatan 28 Februari 2021 NU genap berusia 98 tahun. Di sepanjang usianya menjelang satu abad, NU konsisten menjaga, mempertahankan dan memperjuangkan tiga motif yang melatarbelakangi berdirinya NU yaitu motif dakwah Islamiyah (agama), motif menyebarkan paham ahlissunnah waljamaah, dan motif  nasionalisme atau kebangsaan.

Sebagai konsekuensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang juga sebagai negara paling majemuk di dunia, komitmen kebangsaan NU dalam perjuangan kemerdekaan, mempertahankannya, dan menjaga keutuhan NKRI secara konsisten dipegang erat dan diperjuangkan hingga kini. Bagi NU  NKRI dan Pancasila adalah harga mati. Mencinta tanah air bagi NU adalah keyakinan yang mendalam sebgai kontribusi ikhtiar mempertahankan eksistensi bangsa dan Negara Indonesia, sebagaimana yang digelorakan KH Hasyim Asyari. Hal itu berdasarkan firman Allah QS. Al Qashash: 85

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.”

Menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat bahwa kalimat مَعَادٍ  maksudnya adalah kota Makkah yang merupakan tanah air Rasulullah. Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:

  وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ كَثِيرًا: اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ……. قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.

Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri

Jamaah Jumat rohimakumulluh
Sebagai refleksi Harlah ke-95 NU di tahun ini mari kita pertegas kembali 3 komitmen kebangsaan NU yaitu komitmen perjuangan kemerdekaan, komitmen mempertahankan kemerdekaan dan komitmen dan menjaga keutuhan NKRI

  1. Komitmen kebangsaan NU dalam perjuangan kemerdekaan,

Komitmen NU dalam memperjuangkan kemerdekaan terrekam jelas pada jejak KH Hasyim Asyari dalam meperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hadrotusyaikh KH Hasyim Asyari ikut mendukung upaya kemerdekaan dengan menggerakkan rakyat melalui fatwa jihad yang kemudian dikenal sebagai resolusi jihad melawan penjajah Belanda pada 22 Oktober 1945. Butir ke empat dank ke lima Resolusi Jihad menyebutkan bahwa umat Islam terutama warga NU harus mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali. Kewajiban ini merupakan perang suci atau jihad dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilo meter, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang. Akibat fatwa itu, meledaklah perang di Surabaya pada 10 November 1945.

Selain itu, secara global KH Hasyim Asy’ari juga senantiasa berkomunikasi dengan tokoh-tokoh muslim dari berbagai penjuru dunia untuk melawan penjajahan, misalnya dengan Pangeran Abdul Karim al-Khatthabi (Maroko), Sultan Pasha Al-Athrasi (Suriah), Muhammad Amin al-Husaini (Palestina), Dhiyauddin al-Syairazi, Muhammad Ali, dan Syaukat Ali (India), serta Muhammad Ali Jinnah (Pakistan).

  1. Komitmen kebangsaan NU dalam mempertahankan kemerdekaan

Kita patut bersyukur, bangsa Indonesia dianugerahi kemerdekaan oleh Allah SWT dengan melalui perjuangan sampai titik darah penghabisan. Selain itu patut kita syukuri anugerah bonus demografi yang dianugerahkan Allah kepada kita yaitu,

  • Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar ke-4 di dunia yaitu 268.583.016 jiwa bahkan menjadi muslim terbesar di dunia yaitu 207.2 juta jiwa atau 87.2 %
  • Indonesia memiliki keanekaragam :suku : 1.340, etnik : 300 , bahasa  : 742, pulau 17.504 dan memilik keragaman hayati yang terkaya dan berlimpah (zamrut khatulistiwa)

Namun demikian, tantangannya sejak kemerdekan hingga kini sangat berat, utamanya adalah menjaga kedaulatan  negara, mempertahankan Pancasila sebagai falsafah negara, menjaga persatuan dan kesatuan, menjaga moral bangsa, dan menghilangkan kebodohan dan kemiskinan.

Komitmen mengawal dan menjaga Pancasila, NU konsisten gigih membela Pancasila sejak kemerdekaan hingga kini. Melalui Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983, NU menyepakati Pancasila sebagai dasar negara sedangkan Islam tetap dijaga sebagai aqīdah. Antara aqīdah beragama dan dasar bernegara tidak dibenturkan, sebab Pancasila yang memuat sila ketuhanan, merupakan bentuk pengamalan syariat Islam. Dan di tengah pengaruh ideologi transnasional yang mereduksi nilai-nila keberagaman, NU tampil di garda depan menangkal kelompok intoleran dan radikal yang menyerukan khilafah Islamiyah dan anti Pancasila.

  1. Komitmen kebangsaan NU dalam menjaga keutuhan NKRI

Sejak berdirinya hingga kini NU konsistensi menjaga persatuan dan keutuhaan NKRI. Filsafat yang dibangun NU sangat menghargai hak dan menjunjung tinggi derajat martabat masyarakat Indonesia, dan ia mampu mengkombinasikan antara kesalehan ajaran Islam dan kebebasan hak individu. Dengan demikian segala bentuk sekterianisme, eksklusifisme, dan primordialisme harus dihilangkan.  Bagi NU prinsip menjalankan ketatanegaraan dalam berbangsa, bernegara dan beragama merupakan wujud mengimplentasikan nilai-nilai universal Islam.

NU dengan paham ahlissunnah annahdliyyah yang mengusung sikap tawassuth (pola pikir moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (harmoni) mampu memposisikan dirinya sebagai perekat bangsa sejak kemerdekaan hingga sekarang bahkan dengan konsep Islam Nusantaranya, NU dijadikan rujukan dunia internasional dalam rangka menebarkan Islam rahmatan lil alamin.

Jamaah Jumat rohimakumulluh
Demikianlah khutbah ini. Mudah-mudahan khutbah ini dapat kita hikmati bersama dan semoga kita tercatat sebagai insan yang seantiasa dibimbing oleh Allah untuk memiliki ghiroh membangun bangsa dan Negara. Amin

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِْ

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

. بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ , وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. َأَشْهَد
أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Oleh:
H. Ahmad Zuhri Adnan, M. Pd.
Ketua LDNU KAb. Cirebon
Pengasuh PP Ketitang Cirebon

Spread the love

Comment here