Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Khutbah

Khutbah Idul Adha: Kurban, Pengorbanan dan Kemanusiaan (Teladan Kurban Nabi Ibrahim alaihi salam)

Khutbah Idul Adha 1442 H/2021 M
Masjid al Jami’ah Telanaipura UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

“Kurban, Pengorbanan dan Kemanusiaan (Teladan Kurban Nabi Ibrahim alaihi salam) “

الله أكْبرُ الله أكُبرُ الله أَكْينُ. الله أَكْبِرُ الله أَكْبرُ اله أَكْبرُ, الله أَكْبرُ الله كبر الله اكبز. اللَهُ أكبز كبيرا والحمذ لله كيرا ومبْحان الله بُكرة وأصيْلاء لااله إلآ الله وخدةء صدق وغدهُ ونصر عيْدهُ وأعزّ جُئده وهزم الأخزاب وخدف» لاإله إلأ الله واللة أكُبرء الله أكْبرُ ولله ألحمد. الحم لله الذي امات و اخيى. الْحمذ لله الذي أمرنا بالتثقوى و نهائا عن شاع الهوى. الحتذ لله الذي جعل لنا عد الفطر و الاضتحى,

نثنهذ أنْ لا اله الآ الله نغم الوكيل ونغم المؤلىء وأشهد أن سيّدنا محددا حئاة ومئولة ومن نكر ققد ضل ضلالا بعيدا. و صلى لله على سيدنا و حبيبنا المُضطفى؛ محمد نبئ الهدى» الذي لا يلطق

عن الهوىء ان هُو الآ وخ يُؤحىء و على اله و أصحابه أخل الصدق و الوفا. اللَهُمَ اجعلنا معن اتبِعهُم بإخسان إلى يؤم الجزا. أمًا بِعْدُ: : فياايُها الحاضرون؛ أَؤصيِكُم و نفسئ بتفوى الله وطاعته لَعلكُم تُفْلحُونْء قال الله تعالى في ألقزان ألكريغ: اعْوَد بالله من الْشَيْطان الرَجِيْمء بمنم الله الرخمن الرَّحِيْمْ انا أغطيناك الكؤثر. فصل لربّك وائحز. إن شاك هُو الابتز. صدق اللهُ العظيخ

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,
Segala puji bagi Allah swt, yang telah menganugerahkan berjuta kenikmatan kepada kita di antaranya adalah kenikmatan beridul adha walau dalam suasana pandemi Covid-19 yang belum juga mereda.

Semua ini harus kita syukuri sebagai hamba yang tahu diri, karena segala yang terjadi di muka bumi ini, Allahlah yang paling mengerti. Pada tahun ini, kita kembali merayakan Idul Adha dalam keterbatasan. Gelombang kedua penyebaran Covid-19 di tanah air yang terus mengalami lonjakan, membuat pemerintah mengambil kebijakan ketat dalam rangka wujud perlindungan.

Tidak semua daerah bisa melaksanakan kegiatan Ibadah shalat Idul Adha sebagaimana biasa. Begitu juga ibadah kurban yang selalu mengiringi hari raya ini pun tidak serta merta bisa dilaksanakan dengan leluasa. Sekali lagi, ini adalah wujud ikhtiar kita bersama untuk menjaga diri, sehingga negeri ini mampu melewati takdir yang telah didatangkan oleh Allah yang Maha Tinggi.

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

“Tindakan pemerintah terhadap rakyatnya dilakukan berdasarkan kemaslahatan.”

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt,
Dalam situasi sulit yang sedang melanda, Hari Raya Idul Adha tak boleh kehilangan makna dan esensinya. Idul Adha mengajarkan kepada kita bagaimana berani berkorban dengan apa yang kita punya untuk membatu orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Di antaranya adalah dengan ibadah kurban yang merupakan wujud pengorbanan untuk kemanusiaan pada sesama. Kita harus bisa mengambil hikmah mulia, ketika Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putra semata wayangnya, Nabi Ismail as. Perintah suci ini mengandung makna bahwa hidup perlu pengorbanan untuk memperkuat tali persaudaraan antarsesama. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

Manusia merupakan makhluk yang membutuhkan orang lain dalam mewujudkan eksistensi. Maka ketika kita ada kelebihan rezeki dan bisa berkorban dengan kurban bagi orang lain di tengah pandemi, alangkah baiknya tidak ditunda-tunda lagi.

Yakinlah, bahwa kurban kita akan diterima Allah swt dan akan dilipatgandakan pahalanya karena benar-benar mampu membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan dan duka. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra Rasulullah bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Artinya: “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt,
Kenapa peristiwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang dijadikan model kurban dalam ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Tentu karena di dalamnya ada hikmah keteladanan yang sangat agung. Kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam umat Islam dapat belajar bagaimana melakukan ibadah kurban yang baik dan benar.

Pelajaran tersebut dapat kita peroleh dalam beberapa hal berikut:

Pelajaran pertama, dalam beragama ada suatu keadaan di mana kita harus meninggalkan akal fikiran kita. Mengesampingkan rasionalitas, kemudian beralih pada ketundukan serta kepasrahan total kepada Ilahi Rabbi. Dalam kajian hukum Islam dikenal hukum yang bersifat ta’aqquli dan ta’abbud.

Ta’aqquli artinya masuk akal. Yakni ketika suatu syariat dibebankan dan manusia bisa menalar karena sesuai dengan kemampuan berfikir manusia. Allah memerintahkan sedekah, zakat, menolong sesama, berbakti kepada orang tua. Allah melarang mencuri, korupsi, konsumsi narkoba, membunuh, pergaulan bebas dan semacamnya. Semua ini adalah sesuai dengan naluri dan akal sehat manusia.

Di sisi lain, ta’abbudi adalah hukum yang dogmatis. Tidak bisa dinalar, di luar kemampuan akal manusia. Aturan tentang shalat, puasa, dan haji adalah bagian dari urusan yang bersifat ta’abbudi. Kita tidak bisa mempertanyakan apalagi menggugat kenapa shalat Dhuhur, Ashar dan Isya’ empat rakaat, sedangkan Maghrib tiga rakaat dan Subuh dua rakaat. Rasionalitas dikesampingkan karena yang ada hanyalah kepasrahan dan kepatuhan total sebagai seorang hamba yang rindu untuk mendapat cinta dan sayang dari Tuhannya.

Ketika menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meyakini bahwa perintah itu adalah dogma yang harus harus dilaksanakan secara paripurna. Maka atas dasar keimanannya, tanpa pikir panjang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam siap melaksanakan perintah tersebut. Rasionalitas dimatikan, yang ada hanyalah ketundukan akan perintah Allah. Ini menunjukkan tingginya kualitas keimanan dan ketaqwaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sehingga sangat pantas beliau mendapat gelar Khalilullah (kekasih Allah).

Belajar dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, maka sudah sepantasnya setiap orang yang berkurban melaksanakannya seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika berkurban. Segera berkurban ketika mampu melaksanakannya. Berkurban atas dasar tunduk dan patuh menjalankan perintah Allah, seraya berharap mendapatkan cinta, kasih dan ridha Allah. Bukan ingin pujian, karena gengsi, atau untuk meningkatkan status sosial.

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt,
Pelajaran kedua, dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bisa kita dapatkan dari pengalihan kurban manusia menjadi kambing. Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk menyembelih putranya hanya sekedar ujian keimanan, bukan perintah sesungguhnya. Hal ini sekaligus menjadi kritik sosial dari tradisi tumbal di berbagai budaya dan perabadan.

Sejarah kurban Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengajarkan kepada kita bahwa kurban dalam Islam adalah ajaran humanis. Untuk menyembah Allah tidak boleh membahayakan diri sendiri, apalagi orang lain. Dalam hadits riwayat Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اَلضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَرِ

Artinya: “Tidak boleh membahayakan (mengorbankan) orang untuk kepentingan pribadi, dan tidak boleh mencegah orang lain mendapat kebaikan.”

Dalam Islam setiap bahaya harus dihilangkan. Bahkan untuk mendatangkan suatu kebaikan atau menghilangkan suatu bahaya, tidak boleh dengan menimbulkan bahaya lain. Ini adalah salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam. Kaidah fiqih menyebutkan:

اَلضَّرَرُ يُزَالُ

Artinya, “Setiap mudarat harus dihilangkan.”

اَلضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَرِ

Artinya, “Suatu mudarat tidak bisa dihilangkan dengan mudarat yang lain.”

Dari sini maka seharusnya ajaran qurban menginspirasi setiap muslim untuk tidak hanya shaleh secara ritual, tetapi juga shaleh secara sosial. Menjaga keseimbangan hubungan kepada Allah dan kepada manusia, bahkan pada alam sekitar. Jargon Islam agama ramah bukan marah, bisa terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt,

Walaupun dalam qurban ada darah hewan yang dialirkan, namun bukan tujuan atau penilaian utama, karena yang dinilai Allah adalah ketakwaan dari orang-orang yang melaksanakannya.

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya, “Daging-daging onta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Hajj: 37).

Kisah keteguhan iman dan kerelaan Nabi Ibrahim dalam mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, patut dicontoh oleh kita semua. Ketika kita mengorbankan sesuatu bagi sesama, maka marilah kita berikan yang terbaik untuk mereka. Kita tak perlu khawatir jika harta yang kita berikan di jalan Allah akan berkurang jumlahnya. Malah sebaliknya, Allah telah berjanji bahwa siapa saja memberikan yang terbaik dari hartanya dalam rangka kepatuhan menjalankan perintah-Nya, maka akan dilipatgandakan dengan jumlah yang tidak terduga-duga bagi siapa saja yang dikehendaki Allah swt. Hal ini ditegaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 261 berbunyi:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah adalah dengan butir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada setiap butir seratus biji. Allah (terus-menerus) melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.”

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt,
Dalam konteks kekinian, kita harus menjunjung tinggi hak asasi manusia yakni hak untuk hidup, mendapatkan kesehatan, dan terjaga keselamatan jiwanya. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, kita tidak boleh egois dan abai sehingga menjadikan orang lain celaka.

Penerapan protokol kesehatan sebagai ikhtiar terhindar dari Covid-19 harus ditegakkan bersama. Tidak bisa hanya dilakukan oleh sebagian orang saja. Kedisiplinan kita dalam menjaga diri, yang dimulai dari diri sendiri, akan berdampak kepada keselamatan orang lain sehingga kemanusiaan pun bisa kita junjung tinggi. Allah swt berfirman dalam QS Al Maidah ayat 32:

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ

Artinya: “Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.”

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt,
Saat ini suasana pandemi benar-benar menyulitkan kehidupan kita. Ada yang kehilangan pekerjaan bahkan kehilangan anggota keluarga tercinta. Ini pun bagian dari ujian Allah kepada kita semua. Karenanya menjadi penting untuk kita menjaga diri dari kebinasaan. Mari kita patuhi umara dan ulama dengan menjalankan prokes dan ikut divaksin.

Saatnya kita menyembelih arogansi kita, ego diri kita dan kengototan kita. Momen kurban tahun ini seyogyanya membuat kita lebih berserah diri, lebih sadar dan lebih lagi mengutamakan keselamatan diri dan keluarga.

Mari kita saling jaga, bukan malah saling menularkan virus corona. Kita saling bantu sesama tetangga yang sedang isoman, bukan malah mengucilkan atau menganggapnya sebagai aib.

Mari kita jaga persatuan, bukan malah saling mencaci-maki berpecah belah di saat pandemi. Mari kita filter segala ujaran kebencian dan berita hoaks, karena sungguh corona ini nyata dan sudah banyak yang wafat karenanya.

Semoga yang tengah sakit, Allah sembuhkan dan kuatkan. Semoga yang sehat, tetap terus sehat. Yang sudah wafat karena Covid, semoga Allah catat sebagai syuhada.

Demikianlah hikmah kurban yang merupakan wujud pengorbanan kita dalam rangka menjunjung tinggi kemanusiaan. Semoga kita akan menjadi sosok yang membawa kemaslahatan bagi sesama dan kehidupan kita senantiasa mendapatkan ridha dan keberkahan dari Allah swt. Amin Ya Rabb…

تارك الله لِي وَلَكُمْ فى ألهدان ألعظنمه ٠‏ ولفغني وإي41 بمَافيْه مِنْ انه وَذِكْر الْحكِيم وَتقبْلَ الله نا وَمِنْكُم يلاود وَإِنَهُ هم هُوَ السّمِيع لعي وَأَقُوْلُ قلي هذا فَأسَْغْفِرُ ١‏ العَظِيْم إِنَهُ هُوَ العَقُؤرُ الرّحِيْم

Khutbah II

لله أكبن الله أكبنٌ الله أكبن الل أكبرُ الله كبر الله أكبز الله أكبرز الْحمْد لله على اخسانه والشَكْرُ لهُ على تؤا انْ لا اله إلا الله واللهُ وخده لا شريْك له وأثنهذ أن وَرِسْؤْلَة الذاعي إلى رضنوانه. اللهُمْ صل على سيّدنا اله واصحابه وسَلَمْ تمْليْما كثيير أمّا بعد فيأ ايُها النَامُ اتقُواالته فيْما أمر وائتهُؤا عما نهى واغلمُوا أن الله أمركُؤ بأَمْرٍ بدأ فيه بنفسه وشتى بملا دكته بقذسه وقال تعالى إِنّ الله وملائكته يُصلّؤن على يا ايها الذين امنا صلّوا عليه وسأمؤا تمنلِما. الهم صل على سيّدنا محمد صلَى اللَهُ عليْه وسلم وعلى ال سيّدنا مُحمّد وعلّى اثبيانك ورُسلك وملائكة لمُعربين وازض اللَّهُمَ عن الخلماء الراشدين ابى بكر وغمر وعنّمان وعلى وعن بقيّة الصّحابة والتاب وتابعي التَابعيْن لهُمْ باخسان الى يؤم الدَيْنِ وازض عنا معهُم برخمتك يا ازحم الزاحمين اللهُمَ اغفز للمؤمنين والممؤمنات وَألمسنلمين والمُمنلمات الاخياء منْهُم وألاموات اللهُمْ أعزٌ الإسمئلام والمسلمين وأذل الشّزك وألفشركيْن وائصز عبادك الموحديّه وائصز من نصر الذيْن واخذن مِنْ خذل ألممنلمئْن و دمن اغداءالديْن واغل كلماتك إلى يؤم الديّن. اللِهُمْ اذفغ عنا ألبلاغ وألوباء والزلازل وألمحن ومُؤء ألفتن وألمحن ما ظهر مثها وما بطن عن بلدنا انْدُوئئْسيَا خاصة وسائر ألبلدان ألمُمتلمين عامة يا رث العالمين. ربّنا ظلمنا الفسناوان لغ لنا وتزحمنا لنكُؤئنْ من ألخاسرين ربّنا اتنا فى الدَنْيا حسنه وفى الاخرة حسئة وقنا عذاب الثار. . عبادالله ! انّ الله يأْمُرُ بألعذل وألإخسان وإِيْتاء ذي ألُزبى وينهى عن ألفحشاء والمئكر و وآلبغي يعظكم لعلكُم تذكرؤن وَاذْكُرُوا الله العظيّم يذَكْرْكُمْ وَاشِكُرُؤْهُ على نعمه يزِذكم ولذكْرُ الله أكبز

Oleh:
Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA
(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)

Spread the love

Comment here