Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Ketum PB PMII: Muktamar ke-34 NU Harus dijadikan Self Reflexion

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Pengurus Besar PMII Hary Haryanto Azumi mengatakan Muktamar NU yang akan digelar Desember mendatang harus menjadi satu self reflexion. Bagaimana semestinya NU bisa melakukan pemberdayaan ekonomi dalam sebuah komunitas yang sangat besar.

“NU itu sebenarnya suatu potensi ekonomi yang luar biasa. Jadi memang belum fiks kalau potensi, artinya harus masih dilakukan up-grading satu level lagi sehingga menjadi masyarakat ekonomi. Sekarang NU masih menjadi masyarakat budaya. Budaya itu macem-macem, misalnya pesantren dan keberagaman lainnya. Tapi komunitas ini merupakan model dasarnya,” ujarnya dalam wawancara NU Online, Senin (15/11/21).

Dengan visi hebat yang telah dicanangkan para founding (muassis) dan dilanjutkan pergerakan generasi kepemimpinan, menurut Hary, mestinya hari ini NU sudah melakukan transformasi yang lanjut.

“Jadi ketika potensi budaya dan warga warisan dari leluhur digabungkan dengan namanya pendekar baru ekonomi, baik itu sistem IT dan lainnya, maka potensi yang besar itu bisa menjadi kekuatan yang luar biasa,” jelasnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan alasan mengapa dulu para muasis memulai pergerakan dengan Nahdlatul Tujjar. Hal ini disebabkan karena memang disadari problem umat Islam di Nusantara adalah bagaimana mengentaskan kemiskinan. Bagaimana masyarakat miskin itu bisa naik, karena itu dipilih gerakan nahdlatut tujar, kebangkitan saudagar.

Namun dalam perjalanannya tidak seperti itu, karena dalam fase kolonialisme Belanda gerakan yang mengarah kebangkitan ekonomi itu dihadang. Maka pilihan lukisnya adalah para pendiri mengorganisirkan diri atas dasar kemasyarakatan. Maka terbentuklah NU, di mana disadari ulama lah yang memegang obor pencerahan dan perubahan. Kalau ulamanya sudah berubah bersatu maka menyatukan umat lebih mudah lagi.

Beliau menyampaikan, dari fase tersebut sampai hari ini NU sudah mengalami beberapa fase. Nahdlatul ulama pernah jadi partai politik, kembali khittah tahun 84 ormas keagamaan lagi, dan hari ini NU ditantang untuk mewujudkan kembali seluruh visi para muasis yaitu masalah kebangkitan ekonomi. Kebangkitan kaum saudagar yang mana ini inti dari kebangkitan kedua nahdlatut asaniyah

“Jadi 2026 nanti kita akan menghadapi transformasi besar di mana warga NU bertransformasi secara pikiran budaya dan ekonomi menjadi masyarakat ekonomi yang lebih solid lagi, karena diikat budaya dan warisan para pendahulu,” ujarnya.

NU Membutuhkan Kolaborasi yang Kuat
Dalam keterangannya, Hary mengajak masyarakat untuk bersatu dalam menghadapi tantangan sejarah yang tidak mudah, masalah yang tidak sederhana.

“Jadi mari kita bersatu, mari kita menyatukan langkah, para politisi budayawan ekonomi, masyarakat Nahdliyin ayo bersatu membentuk susunan ekonomi yang gerakan yang mungkin mengajak kita semua bangkit,” jelasnya.

Kemudian, beliau menyebut bahwa meskipun mantan sekjen, dirinya bergerak di luar struktur NU, demi menyiapkan ekosistem luar.

“Kita sadar tidak bisa hanya sekadar menggunakan nama PBNU. PBNU adalah sistem, yang harus didukung ekosistem-ekosistem yang lain. Jadi, sekarang eranya kolaborasi, anak-anak muda di Indonesia ini dengan pendekatan IT baru itu bisa memberikan kontribusi,” ujarnya.

Menurutnya, sekarang ini waktunya pimpinan NU melibatkan mengajak seluruh potensi yang ada. Anak muda, orang tua, semua punya potensi. Beliau mengingatkan jangan sampai kita terjebak pada antara dikotomi tua dan muda. Karena semua ini adalah modal dasar untuk melakukan perubahan nahdlatut asaniyah 2026 nanti.

“Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Jadi harus dijemput dengan persatuan, dijemput dengan sinergi, dengan kolaborasi,” ajaknya.

Cara Kerja Platform NU
Melihat semua potensi yang dimiliki NU, beliau mencontohkan bahwa jika di PMII utuk membawa potensi tersebut, bisa masuk melalui tatanan ekonomi.

Beliau menjelaskan, seluruh potensi yang ada harus disiapkan channel-nya. Channel ini nanti akan mengarah ke market. Jadi produk-produk warga NU itu menjadi sesuatu produk yang dihitung dan dinilai oleh market.

“Tentunya kita ada table dengan market, kita tidak bisa mengatakan market harus ikut kita. Jadi adjusment adaptasi sehingga saling membutuhkan dan mengisi antara market dan kita,” ujarnya.

Karena rata-rata potensi di NU itu belum pada tatanan high capital. NU masih pada modal skala rumahan menengah. Maka, masyarakat harus bisa menentukan suatu produk yang spesifik. Satu produk yang unik yang bisa mengisi market secara unik juga karena market memiliki cluster. Kita ga bisa mengatakan market itu utuh, dia terdiri dari berbagai segmen. Kita harus bisa menangkap segmen yang bisa diisi oleh produknya NU.

“Jadi inilah penelitian riset. Anak-anak muda saya kira sudah banyak yang pintar riset, melakukan analisis pasar, mendeteksi potensi, bahkan hari ini banyak kader yang bergerak di ekonomi yang tidak biasa seperti bit koin. Ini artinya kita harus bisa adaptable dengan perkembangan dunia, menangkap peluang yang ada pada tatanan yang lebih tinggi,” jelasnya.

Asosiasi Luar NU untuk Mengembangkan Potensi
Selain melalui tatanan ekonomi, Hary juga menyampaikan bahwa NU itu kekuatannya di dua tempat, yaitu di kultur dan struktur. Tidak boleh dipisah. Jadi kalau orang hanya bicara stuktur tanpa kultur ibarat kata memutuskan kepada dari badannya.

“Jadi sekali lagi melakukan perombakan dan perubahan di NU adalah bagaimana menyambungkan kultur dan struktur seklaigus menyusu. Program bersama di antara dua itu,” jelasnya.

Kalau kita hanya program struktural tidak akan bisa menyentuh kekuatan kultural tadi padahal di situ intinya kekuatan. Ketika struktur terpisah dari kultur maka akan diisi kelompok lain. Ini yang sudah terjadi sebenarnya, jadi sekali lagi ke depan NU harus bisa lebih fokus bagaimana menyatukan kekuatan ini. Jangan mau dipisah antara kultur dan struktur, tua muda.

“Semua potensi ini harus disatukan. Harus ada kamarnya masing-masing. Sehingga semua diakui diberikan apresiasi sehingga anak-anak muda yang mungkin sebenarnya tidak memiliki ikatan langsung bisa tertarik. Karena kita ini kan rahmatan lil alamin, menjadi daya rekat bagi seluruh potensi yang ada, dasarnya rahmat,” pungkasnya. (fbr)

Spread the love

Comment here