Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Kembali Tuai Kontroversi, Khalid Basalamah Larang Siswa Nyanyikan Lagu Kebangsaan

Jakarta, Dakwah NU
Khalid Basalamah kembali viral di media sosial. Melalui cuplikan videonya, Khalid Basalamah melarang siswa-siswi untuk mengikuti imbauan menyanyikan lagu kebangsaan.

Video yang berdurasi kurang lebih 0,35 detik itu, kembali dikutip oleh akun Twitter @Ayang_Utriza. Akun ini dengan tegas mengecam apa yang disampaikan Khalid Basalamah. Bahkan ia meminta Khalid Basalamah untuk tidak menyebarkan Salafi-Wahhabi di NKRI ini.

“Tadz, jika tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya & menolak mencintai negera & bangsa ini, silahkan pindah ke Saudi Arabia, tempat & sumber Salafi-Wahabi yang Anda sebarkan di NKRI ini!” tulisnya, Selasa (25/5).

Dalam cuplikan video tersebut, apa yang disampaikan Khalid Basalamah adalah tindakan yang menanamkan bibit-bibit anti NKRI. Sebab Khalid Basalamah menyarankan siswa tidak ikut menyanyikan lagu kebangsaan.

Khalid Basalamah mengimbau kepada semua anak untuk tidak mengikuti aturan sekolah yang tiap waktu (terutama setiap Senin), salah satunya menyanyikan lagu kebangsaan (seperti Indonesia Raya).

“Gak usah ikut. Saran saya, gak usah ikut,” tegas Khalid Basalamah yang memang dikenal penuh kontroversi ini.

Sebelumnya ia mempertanyakan realitas di sekolah anak. Ia menyebut bahwa anak seolah dipaksa menyanyikan lagu kebangsaan di sekolahnya.

“Sekolah anak? Tiap pagi ada waktu yang menyanyi lagu-lagu kebangsaan. Apa yang harus anak lakukan? Soalnya jika anak tidak lakukan, anak ditegur guru,” terangnya.

Meski demikian, ia berdalih tidak melarang untuk anak menyanyikan lagu kebangsaan. “Tentu ini bukan berarti kita melarang. Tapi saya membahasakan ‘saran saya’. Saya kan ditanya, kalau saya, nda usah ikut lah,” tuturnya.

Tidak hanya itu, belum lama ini, Direktorat Polisi Air dan Udara Badan Pemeliharaan Keamanan Kepolisian Republik Indonesia (Ditpolair Baharkam POLRI) Jakarta Utara mengundang Khalid Basalamah untuk mengisi kajian Ramadan di Markas Ditpolair, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, pada Senin, 19 Februari 2021 lalu.

Hal ini tentu berseberangan dengan perintah Kapolri sebelumnya yang meminta semua polisi untuk ngaji kitab kuning dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Mengingat Kapolri Jendral Listyo Sigit pada saat kunjungan ke PBNU, Kamis (28/1) lalu mengaku program belajar kitab kuning bagi anggotanya yang beragama Islam sudah ia jalankan sejak menjabat sebagai Kapolda Banten pada 2016 silam.

”Untuk mencegah berkembangnya terorisme, salah satunya dengan belajar kitab kuning, dan tentunya baik di internal maupun eksternal, itu saya yakni bahwa apa yang disampaikan kawan-kawan ulama (di Banten) itu benar adanya. Oleh karena itu akan kami lanjutkan,” katanya.

Menurutnya, harus ada langkah tegas sehingga benih-benih radikalisme yang bisa mengarah pada tindakan terorisme bisa dicegah. ”Kita bekerja sama dengan tokoh-tokoh, ulama, kemudian melakukan upaya pencegahan dengan memberikan penjelasan sehingga masyarakat tidak mudah terpapar dengan ajaran-ajaran seperti itu,” jelasnya.

Anggota Polri selalu diperkuat dengan keyakinan masing-masing kemudian diakomodir terkait dengan kearifan-kearifan yang lokal sehingga menjadi keanekaragaman dan keberagaman sebagai satu kekuatan bangsa, salah satunya adalah ngaji kitab kuning dengan ulama ulama NU. (fqh)

Spread the love

Comment here