Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

JRA Mulai Produksi Air Ruqyah

Bogor, Dakwah NU
Sekretaris Pusat Jam’iyah Ruqyah Aswaja an-Nahdliyah (JRA), Gus Masrur Jamal, mengatakan bahwa JRA sedang menggerakkan pemberdayaan ekonomi mandiri di tubuh JRA, baik untuk menunjang kesejahteraan praktisi maupun sebagai salah satu sumber dana penopang gerakan organisasi, hal ini disampaikannya pada waktu memberikan laporan  di rapat kerja Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), Sabtu, (16/01/2021).

Beberapa terobosan dilakukan, diantaranya adalah pemasaran berbagai produk, baik produk  pendukung proses terapi kepada para marqi/marqiyah (orang yang diterapi ruqyah), ataupun produk lainnya seperti accesories dan air ruqyah. Bahkan air ruqyah ini adalah produk yang punya andil besar dalam menopang gerakan JRA. Karena di samping memang dibutuhkan untuk proses terapi, dari hasil penjualan air ruqyah juga membantu praktisi secara ekonomi, serta adanya pemerataan kontribusi keuntungan pada masing-masing level kepengurusan, dari Pengurus Cabang (PC), Pengurus Wilayah (PW) dan bahkan Pengurus Pusat (PP).

Dalam produksinya, JRA selama ini bekerja sama dengan salah satu PT di Jawa Tengah yang notabennya PT tersebut bukanlah dari praktisi JRA ataupun warga Nahdliyin.

“Karena awalnya kita kesulitan mencari produsen, sehingga kita bekerjasama dengan pihak luar. Akan tetapi ke depan, diprioritaskan untuk mencari produsen dari internal NU, lebih diutamakan orang JRA, ya tapi fokusnya orang NU, walaupun tidak JRA,” tuturnya.

Pengurus Wilayah JRA yang sudah sudah terbentuk saat ini mencapai 18 provinsi, hal ini tentu menyebabkan ada kendala dalam pendistribusian air ruqyah, sehingga pihak JRA berencana menjalin kerjasama dengan produsen yang berbeda untuk setiap provinsinya.

“Kami berencana akan bekerjasama dengan produsen yang berbeda di masing-masing PW JRA, atau satu produsen air ruqyah memenuhi kebutuhan PW terdekat yang masih mudah tercover dalam jangkauan maupun beban biaya distribusi,” ungkapnya.

Ia mengatakan, distribusi air ruqyah JRA belum menjangkau seluruh wilayah yang sudah ada praktisi JRA-nya. Hal ini dikarenakan JRA baru bekerjasama dengan satu produsen di Jawa Tengah, yang tentu akan terasa berat jika harus mendistribusikan air ruqyah ini ke tempat yang jauh jangkauannya. Sementara ini Wilayah yang terjangkau distribusi baru Provinsi Jateng, Jatim, Bali, dan sebagian DKI Jakarta.

Awal Mula JRA Terbentuk
Pada awalnya, JRA dipahami oleh sementara orang sebagai organisasi dengan faham dan basis massa non-nahdliyyah. Oleh penggagas JRA, stigma tersebut berusaha diluruskan. Karena sejatinya, JRA hanya mengkodifikasikan amaliyah dan ijazah dari para kiai dan dari literatur-literatur pesantren. Sebagaimana kita semua tahu, di masyarakat Indonesia sudah sejak dahulu kala dikenal istilah “suwuk” dalam bahasa Jawa, atau jampe” dalam bahasa Sunda, serta istilah-istilah lain di daerah yang berbeda di Indonesia.

“Dan amaliyah-amaliyah ini akhirnya dikodifikasi dan dikenalkan dengan term “Ruqyah An-Nahdliyyah” yang sebelumnya lebih familiar dengan istilah “suwuk” di masyarakat Jawa, dan “jampe” untuk Sunda, dan setiap daerah punya nama masing-masing,” paparnya.

Beberapa dekade terakhir, istilah ruqyah booming di tanah air. Dimulai dengan adanya salah satu stasiun TV swasta yang menayangkan acara ruqyah. Sayangnya acara tersebut menampilkan konten dan adegan yang membuat persepsi salah di masyarakat tentang ruqyah. Ruqyah selalu dihubungkan dengan kesurupan atau hal yang berbau mistis lainnya.

JRA hadir berusaha meluruskan pemahaman salah tersebut, bahwa ruqyah tidak identik dengan kesurupan. Ruqyah adalah terapi untuk membantu menangani keluhan medis maupun non-medis, dan kesurupan hanya mungkin dialami oleh mereka yang mengalami gangguan non medis.

“Ruqyah tidak identik dengan kesurupan, ruqyah itu bisa digunakan sebagai terapi untuk keluhan medis ataupun non-medis”, tuturnya melanjutkan.

Dalam praktek di lapangan, ruqyah dipakai oleh sementara pihak untuk melemahkan dan menyudutkan amaliah nahdliyin. Di tengah proses terapi, pihak-pihak tersebut menyisipkan pemahaman bahwa tahlilan, membaca burdah, shalawat nariyah serta amaliah orang NU lainnya malah mendatangkan jin. Tentu pendapat ini sangat tidak bisa dibenarkan, bahkan bertolakbelakang dengan pengalaman kami di lapangan, yang justru sebenarnya semua amaliah nahdliyin malah bisa dijadikan sebagai wasilah (perantara/alat) untuk proses terapi ruqyah.

Ia menyatakan, “JRA itu berusaha men-counter berkembangnya paham-paham yang berusaha menyesatkan ini, memahamkan ulang kepada masyarakat bahwa amaliah NU itu tidak mendatangkan jin, tapi malah hampir semua amaliah nahdliyin bisa diniatkan untuk terapi ruqyah. Itu sejarah awal JRA berangkat.”

JRA dan Eksistensinya
Sampai saat ini, JRA memiliki pengurus wilayah di 19 provinsi dengan 180 lebih pengurus cabang (kabupaten) yang dinaungi, dan terus meluas seiring dengan banyaknya permintaan pelatihan ruqyah dari berbagai pelosok tanah air. Pelatihan ruqyah ini, sekaligus sebagai ajang perekrutan anggota, karena alumni pelatihan yang memenuhi syarat, sekaligus juga dinyatakan sebagai anggota JRA. Dengan begini, tentu jaringan praktisi JRA semakin meluas merambah ke seantero nusantara.

“Sampai sekarang alhamduliah JRA sudah lebih dari 30.000 praktisi dan ini memang sedang diprogramkan mencapai 100.000 praktisi yang insyaallah militan semua. Atau paling tidak praktisi-praktisi kami itu di masing-masing daerah bisa terkoneksi dan bisa dikondisikan,” ungkapnya dengan rasa bangga.

Ia menambahkan, tahun ini JRA telah mencetak kalender sejumlah 12.000 kalender, yang diedarkan ke pada praktisi pemesan, sehingga selain sebagai sarana penguat gerakan, juga dijadikan sebagai sarana syiar ke seluruh wilayah jangkauan JRA.

“Di halaman lima itu kami cantumkan daftar nomor ketua cabang yang masing-masing bisa dihubungi. Itu data faktual kami,” sebutnya.

Sebelum pandemi, JRA sempat mengadakan acara SILATNAS yang ke-4 di Purwakarta yang dihadiri oleh 4000-an praktisi. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), K.H. Agus Salim juga turut hadir dalam acara tersebut. Adapun semasa pandemi, JRA telah menggelar Rapat Kerja Nasional II (Rakernas II) yang membahas keorganisasian dan program-program JRA sampai akhir periode kepengurusan pertama ini. Program yang dibahas diarahkan untuk khidmah JRA, baik kepada NU,  pada masyarakat, serta bangsa dan Negara. Rakernas tersebut dihadiri oleh perwakilan masing-masing Pengurus Wilayah JRA.

Tahun 2021 ini, JRA masih tetap fokus untuk menambah jumlah praktisi dan melebarkan sayap sehingga praktisinya bisa menyebar di seluruh pelosok negeri. Adapun program penguatan internal, salah satunya adalah program Pendidikan dan Pelatihan Khusus (Diklatsus). Program ini dimaksudkan untuk menambah ghiroh, militansi, serta loyalitas para praktisi, dan khususnya pengurus JRA.

Gus Masrur menyampaikan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) dalam pelaksanaan Diklatsus ini, karena rencananya Diklatsus ini akan dijadikan satu rangkaian acara dengan MKNU yang diselenggarakan khusus bagi para pengurus JRA di cabang maupun wilayah.

“Kami akan menghadirkan perwakilan masing-masing pengurus cabang yang ada, di samping dikader oleh team dari MKNU, juga ada materi khusus keorganisasian JRA sebagai langkah penguatan militansi para pengurus JRA,” paparnya merencanakan.

Adapun mengenai mekanisme akan diatur kemudian.

Menghadapi dunia yang serba digital, JRA memiliki akun Youtube “JRA Official”, Fanpage Facebook Jam’iyyah Ruqyah Aswaja, dan Instagram @jamiyyah_ruqyah_aswaja. Ia berharap agar media sosial tersebut dapat diolah dan dikembangkan dengan efektif sebagai sarana syiar dan dakwah, guna merebut dominasi pihak lain di ranah digital.

“Karena kita sadar, kita tahu ketika kita mencari tema-tema keislaman di dunia maya, itu nanti pasti yang muncul di atas sendiri itu bukan dari link-link yang punya kita,” ucapnya.

Ia juga membeberkan rencana JRA akan membuat aplikasi android yang rencananya di aplikasi tersebut memuat tiga hal. Pertama, akan diisi dengan  amaliyah-amaliyah ruqyah yang bisa dikonsumsi oleh umum, di fitur utama ini juga ada daftar praktisi-praktisi yang aktif, sehingga setiap orang yang membutuhkan terapi ruqyah tinggal buka dan cari. Ada juga menu khusus berisi konten-konten LD PBNU. “Ini nanti konten di dalamnya ini saya mohon masukan pak Kiai, kalau memang ini diizinkan saya meminta untuk kira-kira diisi apa,” pintanya.

Kedua, aplikasi tersebut juga berisi administrasi organisasi, sehingga mengalihkan keadministrasian organisasi berbasis pada aplikasi dan yang ketiga berisi penjualan produk-produk JRA.

Di akhir, ia menandaskan bahwa diawal kepengurusan ini, JRA lebih fokus ke penguatan internal. Hal ini sangat diperlukan, karena perkembangan jumlah praktisi yang begitu pesat, serta  tidak terbayangkan dan terprediksikan sebelumnya, sehingga pengurus merasa kuwalahan dan perlu me-manajemen hal itu.

“Memang dikepengurusan ini lebih fokus untuk penguatan internal, sehingga secara umum kami membangun pondasi sehingga andaikan kepengurusan ini selesai dan kami sudah tidak menjabat lagi, periode setelahnya bisa melanjutkan dengan mengarahkan JRA melebarkan sayap dakwah dengan lebih intensif, menuju dakwah yang rahmatan lil ‘aalamiin,” Ia menutup. (fqh)

Kontributor: Alvina Maghfiroh
Editor: Faqih Ulwan

Spread the love

Comment here