Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Syiar IslamTaushiyah

Islam, keIndonesiaan dan Kiblat Dunia oleh KH. Said Aqil Siroj (Bagian 4)

Islam dan Negara

Jakarta, Dakwah NU
Sebagaimana yang telah disebutkan di awal pidato, bahwa akhir-akhir ini suara penolakan Pancasila dan nafsu untuk menerapkan formalisasi syariat Islam dalam kehidupan bernegara atau yang kerap kita sebut sebagai NKRI bersyariah, semakin hari semakin meningkat. Kelompok ini membangun argumen teologis dari sejumlah ayat al-Qur’an dan perjalanan sejarah nabi.

Baca juga : Islam, keIndonesiaan dan Kiblat Dunia oleh KH. Said Aqil Siroj (Bagian 3)

Salah satu ayat al-Qur’an yang sering mereka jadikan dasar adalah surat al-Maidah ayat 44:

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Tak hanya al-Qur’an, kelompok ini juga mendasarkan argumennya kepada Hadist Nabi, salah satunya adalah:

رُوِيَ عَنْ نَافِعٍ قَالَ:قَالَ لِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً (رواه مسلم)

Artinya: “Diriwayatkan dari Nafi’ ia berkata, Abdullah bin Umar ra berkata kepadaku, saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, barang siapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, maka kelak pada hari kiamat akan bertemu Allah tanpa hujjah, dan barang siapa yang mati sedangkan tidak ada baiat pada pundaknya maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah” (H.R. Muslim)

Dalil-dalil al-Qur’an dan Hadist Nabi di atas dipahami sebagai kewajiban untuk menegakkan khilafah Islamiyah sebagai syarat untuk menerapkan syariat Islam. Saya tidak mengerti, apakah kelompok ini lupa atau sengaja mengabaikan sejumlah fakta sejarah dan dalil-dalil lain. Tidak ada rujukan yang sahih perihal bagaimana model kepemimpinan dalam Islam, seperti apa teknis pemilihannya, dan bagaimana perannya. Setelah Nabi Muhammad wafat, mekanisme pemilihan pemimpin mulai dari Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali Ibn Abi Thalib tidaklah sama.

Islam hanya memberikan prinsip-prinsip dasar bagaimana kepemimpinan dilakukan harus melindungi segenap warganya, mengangkat harkat dan martabat bangsanya, menjamin pemenuhan hak-haknya. Karena itulah, Piagam Madinah memberikan perlindungan kepada kelompok agama dan etnis yang berbeda.

صَحِيْفَةُ المَدِيْنَةِ

(Piagam Madinah)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

هَذَا كِتَابٌ مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُسْلِمِيْنَ مِنْ قُرَيْشٍ وَيَثْرِبَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَلَحِقَ بِهِمْ وَجَاهَدَ مَعَهُمْ. اِنَّهُمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُوْنِ النَّاسِ

Artinya, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengikat di kalangan mukminin dan muslimin (asal) Quraisy, (asal) Yatsrib (Madinah), serta pihak lain yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka. Sungguh, mereka semua adalah satu bangsa (satu visi dan satu cita-cita), di samping bangsa-bangsa lainnya.

Karena itulah, setelah mengkaji sejumlah dalil baik dari al-Qur’an, Hadist Nabi maupun pandangan para ulama, para kiai di Nusantara ini tidak mempermasalahkan bentuk negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hadirin, hadirat, bapak/ibu yang saya hormati

Pancasila yang dijadikan dasar negara sama sekali tidak bertentangan dengan dasar-dasar Islam. Sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa berkaitan dengan prinsip tauhid, yang terdapat disejumlah ayat al-Qur’an seperti An-Nahl 22, al-Baqarah 163, Al-Hasyr 22-24, dan lain sebagainya. Sila kedua, kemanusian yang adil dan beradab. Jelas sekali bahwa Islam turun untuk mengangkat derajat kemanusiaan. Salah satu ayat yang terkait dengan kemanusiaan ini adalah surat An-Nahl 90. Begitu juga dengan sila ketiga, Persatuan Indonesia. Islam sangat melarang  keras adanya perpecahan, bahkan Islam membolehkan memerangi kelompok-kelompok separatis.

Begitu juga dengan sila keempat. Islam sangat menjunjung tinggi prinsip “musyawarah” untuk memutuskan beragam persoalan, sebagaimana firman Allah pada surat Asy-Syuara ayat 38:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Dalam hadist nabi yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ مَشُوْرَةٍ لِاَصْحَابِهِ مِنْ رَسُوْلِ الله صلّى الله عليه و سلم

Artinya: “Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Tirmidzi)

Sila kelima yang berbunyi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia juga tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadist Nabi.

NU dalam rentetan sejarah telah menegaskan komitmen hubungan Islam dan negara, atau antara Islam dan demokrasi. Sebagai contoh, NU turut serta dalam menghapus 7 kata dalam Piagam Jakarta, dan menerima Asas Tunggal Pancasila. Hubungan Islam dan negara (demokrasi) adalah kompatibel bukan alternatif. Hubungan Islam dan negara (demokrasi) adalah saling menguatkan untuk kemaslahatan bersama. Islam bukan merupakan sistem spesifik yang menolak segala sistem yang lain. Ke depan, dalam percaturan di tingkat nasional, regional, dan internasional, kita harus menegaskan posisi demikian.

Baca juga :

Islam, keIndonesiaan dan Kiblat Dunia oleh KH. Said Aqil Siroj (Bagian 1)

Islam, keIndonesiaan dan Kiblat Dunia oleh KH. Said Aqil Siroj (Bagian 2)

Islam, keIndonesiaan dan Kiblat Dunia oleh KH. Said Aqil Siroj (Bagian 3)

Islam, keIndonesiaan dan Kiblat Dunia oleh KH. Said Aqil Siroj (Bagian 4)

Islam, keIndonesiaan dan Kiblat Dunia oleh KH. Said Aqil Siroj (Bagian 5-Habis)

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah